Rabu, 13 Juli 2011

Jika Orang Jawa Menjadi Teroris


Dimuat di Kompas.com( Selasa, 12 Juli 2011)
Judul Buku: Orang Jawa Jadi Teroris
Penulis:  M.Bambang Pranowo 
Penerbit: Pustaka Alvabet dan Lakip Jakarta 
Tahun: Februari 2011 
Tebal: 300 halaman 
Harga: Rp. 49.000

Bagi sebagian masyarakat mempersepsikan orang Jawa adalah orang yang ramah, santun, religius, dan suka mengalah. Karakter orang Jawa, kemudian disimbolkan dalam perwayangan  dengan Pandawa Lima. Yakni, Puntodewo, Werkudoro, Arjuna, Nakula, dan Sadewo. Puntodewo, Nakula, dan Sadewa di artikan sebagai tokoh yang lemah-lembut dan selalu mengalah.

Sedangkan, Arjuna sebagai tokoh yang pandai, baik dalam diplomasi maupun perang. Sedangkan, Werkudoro tokoh yang lurus, pemberani, dan pantang menyerah. Lantas, bagaimana dengan banyaknya orang Jawa yang menjadi teroris apakah masih pantas orang Jawa di simbolkan dengan Pandawa Lima?
Mayoritas penduduk  Jawa Muslim. Islam di sebarluaskan oleh para Walisongo. 

Seiring dengan isu teroris di dunia mencuat pasca tragedi 11/9 di Amerika banyak kaum radikal kemudian menyebarkan panji-panji Jihad untuk memerangi kaum kafir seperti orang Amerika, Eropa dan negara-negara non Muslim lainnya yang ada jawa. Bangsa Indonesia, khusunya Jawa  di jadikan sebagai tempat dakwah ideologi radikal. 

Banyak generasi muda orang Jawa di ajak untuk berjihad. Dengan dalih, Jihad suci sesuai perintah Agama dan di jamin akan masuk surga. Akhirnya, banyak orang-orang muda jawa terperangkap yang kemudian menjadi teroris akibat di cekoki ideologi radikal. Seperti, Amrozi, Imam Samudera, Abu Dujana, dan Abu Bakar Baasyir dll.

Terorisme telah menebar kekhawatiran dan ketakutan kepada masyarakat.. Dan, sewaktu-sewaktu ia mampu mengebom dan membuat ancaman secara mengejutkan.  Citra Islam sebagai agama pembawa rahmat bagi pemeluknya di bungkus dengan kebencian dan makian oleh kaum radikalisme. Misi dakwah kaum radikal yang sukses mendapat pengikut banyak di Jawa. 

Setelah sukses mengembangkan jaringan di Jawa akhirnya, kini Jawa di jadikan sebagai tempat pengendali aksi gerakan terorisme di Indonesia. Sekalipun, para gembong teroris tersebut kini sudah banyak yang sudah tertembak mati dan tertangkap hidup-hidup namun, masih saja bermunculan wajah-wajah baru pelaku teroris. Ibarat mati satu tumbuh seribu.

Buku bertajuk” Orang jawa menjadi teroris” karya Bambang Pranow berusaha membeberkan mengapa banyak orang Jawa terseret menjadi teroris. Padahal, orang Jawa sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi, dan religius tidak mudah di pengaruhi oleh paham-paham lain yang bertentangan. Sebagaimana, Islam dapat masuk ke Jawa melalui akulturasi budaya. 

Berbeda dengan gerakan Islam radikal yang ada di Jawa mereka berdakwah dengan cara-cara picik dan licik.  Sebagaiman diketahui bahwa “Abu Dujana, Abu Irsyad, Amrozi dll di gembleng secara fisik, psikologis, dan ideologis untuk melakukan perang dengan orang kafir yang harus di perangi ”.(Hal 18)

Di tengah kehidupan berbangsa yang semakin kompleks fakto kemisikinan dan ketidakadilan yang di alami umat Islam nampaknya menjadi penyebab mereka teriur untuk ikut menjadi teroris. Dalam konteks inilah, buku ini penting untuk di baca. Buku yang merupakan bunga rampai dari sekumpulan artikel yang tercecer di mana-mana menarik kita baca. 

Buku ini, menggugah diri kita untuk bagaimana menyelesaikan persoalan terorisme di Indonesia khusunya di Jawa.  Dan, menjadikan inspirasi bagi kita untuk tidak membiarkan gerakan teroris di sekeliling kita.
Pembaca kan kesulitan mencari benang merahnya pada buku ini. Sebab, buku ini terdiri dari kumpulan opini yang beragam pembahasan. Namun begitu, Tidak kalah pentingnya kini adalah kesadaran semua pihak seperti Ulama, Cedekiawan, dan komponen masyarakat untuk ikut berpartispasi mengatasi berkembang biaknya paham terorisme.

Kebesaran Ibu


Dimuat di Analisisnews.com
Judul Buku:My Mom Is My Hero: Persembahan Bagi Para Wanita yang Telah
Memberikan Hidup, Cinta dan Cucian Bersih
Editor: Susan Reynolds
Penerbit: Qanita
Tahun:1, 2011
Tebal:330, halaman
Harga: Rp 49.000
Sebagian besar pekerjaan rumah tangga dari mulai mengurus suami, anak, dan keluarga lazimnya di kerjakan oleh ibu kita. Peran ibu dalam keluarga sangat sentral. Bahkan, bila di timbang dengan tugas ayah jauh berbeda. Ibu kita telah mengandung, menyusui, memandikan, mengganti popok, dan mendidik kita hingga tumbuh dewasa. Dialah wanita mulia yang senantiasa harus kita hormati dan di junjung tinggi.
Tanpa ibu diri kita bukanlah siapa-siapa di dunia ini. Membentak dan  melawan sama saja tidak boleh di lakukan oleh kita sebagai anaknya. Kalaupun tidak sependapat, kita di perbolehkan menyampaikan dengan cara yang halus dan penuh keta’dziman. Konon, Maling Kundang terkutuk menjadi batu lantaran durhaka terhadap ibunya. Sudahkah, kita menempatkan derajat  ibu di posisi yang setinggi-tingginya?
Di tengah menurunya degradasi moralitas. Saat ini, banyak fenomena sosial yang menampilkan kedurhakaan seorang anak terhadap ibunya. Seperti, membentak-bentak, melawan, dan menjadikan ibunya sebagai pelayan layaknya budak. Tentu membuat diri kita semakin prihatin. Buku bertajuk “My Mom Is My Hero: Persembahan Bagi Para Wanita yang Telah Memberikan Hidup, Cinta dan Cucian Bersih” hadir di hadapan pembaca.
Buku yang di tulis dari sekumpulan para penulis hebat dunia seperti Kathryn Godsiff, Charles W. Sasser, L. Cantor, Sophie Levina, Julie Anderson, Bonie Burn dll. Yang berusaha memotret perjuangan perempuan di dalam keluarga. Banyak kisah heroik pernah dialaminya. Bahkan, tak bisa di lupakan begitu saja.
Menurut para penulis buku ini, masa-masa mengandung dan melahirkan merupakan masa-masa yang penuh perjuangan. Yang dimana nyawa menjadi taruhannya. Ibu selalu berusaha menjaga kita dalam kandungannya dari segala  anacaman dan tantangan. Setalah lahir di dunia ibu juga selalu mendidik dan mengarahkan diri kita agar jangan sampai tersesat.
Misalnya, L. Cantor penulis terkenal dunia awalnya merupakan penulis licik. Ia membuat karya tulisan dan mengerjakan tugas-tugasnya bukan karena kemampuannya, tetapi dari hasil plagiarisme (copy paste dari internet). “Kepiwainnya dalam mencari, menyalin, dan menyunting dari internet” membuat dirinya di juluki sebagai siswa hebat oleh guru dan teman-temannya. (Hal 42) Walaupun, L. Cantor pandai menutupi prilaku buruknya “plagiarisme” kepada orang lain tetapi hal itu tidak, kepada ibunya. Akhirnya, kemudian L. Cantor menjadi sadar bahwa tindakannya itu salah dan berbahaya bagi harga dirinya.
Sepandai apapun diri kita dalam menyimpan sesuatu kepada ibu lama atau tidak akan terendusnya. Ibu kita seolah tidak dapat di bohongi. Ia, merasakan apa yang kita rasakan. Teguran atau nasehat yang lembut membuat kita sebagai anak akan tunduk kepadanya. Karena memiliki ikatan emosional yang kuat membuat hati kita luluh. Pernahkah, ibu membiarkan suatu tindakan yang akan mengancam diri kita?
Dalam kondisi apa saja ibu juga selalu peduli terhadap nasib kita. Apapun akan di perjuangkannya demi kebahagiaan kita. Ibu tulus dalam mendidik, menyayangi, dan mencintai anaknya. Tidak ada niatan untuk meminta imbalan apapun kepada anaknya ketika kelak menjadi orang sukses. Nah, disinilah penting bagi kita untuk merenungkan perjuangan perempuan khsusnya ibu baik sewaktu mengandung maupun melahirkan. Supaya diri kita tidak bersikap angkuh di hadapannya.
Membaca buku ini, membantu membukakan mata batin kita untuk tidak bersikap kurang terpuji terhadap ibu kita. Tidak ada alasan apapun bagi kita untuk merendahkan derajat ibu. Dan, tak dapat di bayangkan pula bagaimana diri kita jika kehilangan ibu?

Syarifudin, Tokoh Besar di Balik Layar


Dimuat di Okezone.com
Judul Buku: Presiden Prawinegara: Kisah 207 Hari Syarifudin Prawinegara Memimpin Indonesia
Editor: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Mizan Pustaka
Tahun: 1, Maret 2011
Tebal : 370 hlm

Sosok syarifudin sebagai presiden republik Indonesia jarang sekali terdengar di telinga publik. Publik lebih mengenal Sukarno, Suharto, Habibie,  Gus Dur, Megawati, dan SBY. Wajar, jika di kemudian hari Syarifudin di lupakan oleh generasi berikutnya. Padahal, beliau adalah mantan orang nomor satu di negeri ini.
Tatkala, Belanda melakukan agresi II militer ke ibu kota Indonesia Yogyakarta pada tahun 1948 Pemerintahan yang di pimpin oleh Sukarno dan Hatta panik. Hawatir Indonesia jatuh ke tangan Belanda lagi. Begitu juga dengan keduanya bilamana sampai tertangkap Belanda bagimana nasib Indonesia waktu itu.
  Akhirnya, Sukarno sebagai orang nomor satu di Indonesia beserta jajarannya mencari alternatif  supaya roda pemerintahan dapat tetap berjalan. Walaupun, kondisi negeri sedang berkecamuk roda pemerintahan Republik Indonesia harus tetap berjalan jangan sampai jatuh ke tangan Belanda lagi. Itulah harapan sejumlah pihak.
Luasnya wilayah NKRI semakin tidak efektif jika hanya di jalankan di Jawa saja. Sehingga, Pemerintah membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera. Syarifudin, di tunjuk sebagai kepala pemerintahannya. Beliau, memiliki tugas dan tanggungjawab  yang sama seperti Sukarno dan Hatta. Sebelumnya, Syarifudin merupakan Menteri Kemakmuran di Kabinet Sukarno.
Novel berjudul ”Presiden Prawinegara: Kisah 207 Hari Syarifudin Prawinegara” menjelaskan secara runut tentang ketokohan Syarifudin sewaktu menjadi kepala Pemerintahan Darurat Republik Indonesia( PDRI) pada tahun 1948 di Bukittinggi. Novel ini, memuat banyak sekali fakta-fakta sejarah beserta tokoh-tokoh sejarah nasional seperti Bung Karno, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, Hamengkubuwono IX, dll.
Misalnya, Jenderal Sudirman sebagai panglima perang. Dalam kondisi sakit parah ia tetap masih mempunyai semangat juang tinggi. Membaca novel ini, kita diajak menziarahi para tokoh pahlawan bangsa. Sekaligus meriview kembali sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Banyak hikmah yang perlu kita gali dari para pahlawan kita seperti sosok ”Syarifudin Prawinegara”.
 Sosok syarifudin sebagai pemimpin PDRI adalah rendah hati. Beliau, tidak mau di panggil Presiden oleh Kamil Koto anak buahnya cukup di panggi pak Syaf saja. Hal itu, sangat kontras di bandingkan dengan kondisi saat ini. Dimana seseorang orang yang memiliki jabatan tinggi tidak mau di sebut namanya tanpa ada gelar di belakangnya. mereka berbangga diri bila dirinya di panggil dengan nama yang lengkap.
 Begitu juga sebelum menjabat Presiden, Syarifudin tidak mau menggunakan uang negara sedikit pun demi kepentingannya sendiri. Syarifudin Prawinegara rela meninggalkan anak dan istrinya untuk berjuang demi negaranya.
 Buku ini, juga merangkum perseteruan antara Sukarno dan Syahril yang berdebat masalah kecil. Dari keduanya terlontar ucapan pedas Syahril seperti "Dasar Goblok!"Dasar Pandir!" kepada Bung Karno. (hal 332) Dengan kemucunculan novel ini, membuat nama Syafrudin Prawiranegara bisa kita rekam jejaknya.
Novel ini, juga mendeskripsikan bagaimana situasi dan kondisi di Yogya saat Belanda melakukan agresi militernya. Kemudian, situasi kota Bukittinggi sebelum dan setelah dibumihanguskan oleh tentara republik. Selanjutnya, terungkap pula perasaaan suka duka para pahlawan bangsa ketika mengungsi menembus ke hutan belantara demi untuk menjalankan roda pemerintahan di sebuah kota kecil di tengah rimba
Dalam konteks inilah, novel karya Akmal Nasery Basral wajib di baca oleh siap saja. Sehingga dapat menjadi suri teladan bagi kita semua. Banyak orang sekarang ini melupakan para pahlawan bangsa. Buku ini, membantu mengingatkan kita akan sosok para pejuang bangsa”Syarifudin’ yang pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Selasa, 10 Mei 2011

Membangun Kesalingpahaman Antarumat Beragama


Dimuat Di majalah Tebuireng edisi Mei 2011
Judul : Dialog Antar Umat Beragama Gagasan dan Praktik di Indonesia
Penulis : J.B. Banawiratma dkk
Penerbit : Mizan, Bandung, Desember, 2010
Tebal : xx + 288 Halaman
Harga: 60.000


Harmonisasi antarumat beragama di negeri ini”Indonesia” mudah sekali pecah. Pergesekan–pergesekan yang terjadi selalu berujung pada tindakan anarkisme. Lantas, bagaimana ke depan supaya harmonisasi kehidupan antar umat beragama di Indonesia dapat terjaga dengan baik lagi?
Tumbuh suburnya gerakan islam radikal dan fundamental yang mengibarkan panji-panji agama menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya tindakan kekerasan. Tentunya, hal itu telah mencidrai semangat pluralisme dan demokrasi di Indonesia. Sebagai upaya untuk ikut berperan dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis dan damai Buku bertajuk ”Dialog Antar Umat Beragama antara gagasan dan Praktik di Indonesia”, hadir di tengah-tengah pembaca. Buku ini, berusaha memotret sejarah dialog antarumat beragama di Indonesia. J.B Banawiratama dkk penulis buku ini, berusaha memotret sejarah dialog antar umat beragama semenjak tahun 1969 hingga sekarang.
Mukti Ali, seorang mantan Menteri agama merupakan salah satu tokoh yang berjasa besar bagi terciptanya sebuah wadah yang menangani khusus masalah kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Baik di intern maupun antar umat beragama. Dialog antar umat beragama adalah suatu wahana untuk menemukan sebuah gagasan progresif dan menghindari cara-cara manipulatif serta agresifitas antar umat beragama. Sudah seharusnya, dialog di fungsikan sebagai jalan utama untuk membangun kesalingpahamman antar umat beragama. Rutinitas dialog baik yang di lakukan oleh lembaga pemerintah, lembaga sosial kemasyarakatan, dan pemuka agama harus selalu di tingkatkan. Dialog antarumat beragam merupakan wahana menciptakan kehidupan yang harmonis dan toleran.
Masalah dialog antarumat beragama benar-benar penting untuk di lakukan. Dan, menjadi solusi untuk mencegah terjadinya tindakan kekerasan. Saatnya praktek Dialog antarumat beragama di kembangkan ke wilayah yang lebih luasa lagi. “Misalnya, contoh yang amat baru adalah terbentuknya Indonesian Consorium of Religion Studies (ICRS), yang merupakan konsorium tiga universitas di Yogyakarta yang berbeda aflisiasi keagamannya yaitu; UGM, UKDW, dan UIN Sunan Kalijaga”.( hal 18)
Penting bagi kita, membangun dialog antarumat beragama yang berkelanjutan. Sebab dari hasil dialog sendiri nantinya untuk di aplikasikasikan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara kedepan. Perbaikan pendidikan agama yang mono-religius misalnya di perguruan tinggi ke depan akan dapat membantu mahasiswa untuk mengkristalkan pengalamannya menjadi suatu sikap terbuka yang dapat berperan penting menyiapkan generasi yang akan datang untuk masa depan tatanan masyarakat yang lebih dialogis.
Dalam konteks inilah, buku karya J.B Banawiratama dkk menjadi penting untuk di baca. Walaupun, buku ini hanya mengangkat dialog antara umat Islam dan Kristiani yang dulunya sering mengalami kesulitan membangun dialog, tetapi setidaknya kita dapat memetik maslahatnya untuk di kembangkan lebih luas lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui buku ini, setidaknya para pelaku dialog dan pembaca dapat memperoleh gambaran besar, yakni peta tentang dialog antar umat beragama, di Indonesia. Amat di sayangkan, jika anda melewatkan buku ini.

Jumat, 22 April 2011

Menguak Kontroversi Perempuan menjadi Hakim

Judul Buku: Kontroversi Hakim Perempuan Pada Peradilan Islam Di Negara-Negara Muslim
Penulis: Dr. Hj. Djazimah, SH,. M. Hum
Penerbit: LKIS Yogyakarta
Cetakan: Maret, 2011
Tebal:xxx + 298 halaman


Di negara-negara Muslim Sepeti Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Sudan penempatan perempuan menjadi Hakim menuai kontroversi. Hal itu, di sebabkan oleh kuatnya pengaruh budaya patriakhi serta mengikuti pendapat para imam mahzab Malikiyah, Hanafiyah, Syfiiyah, dan Hanbilah. Kalaupun boleh, seperti pendapatnya mahzab Hanbilah hanya pada lingkup perdata dan keluarga saja. Sedangkan wilayah pidana tidak di perkenankan.
Namun begitu, para ulama kontemporer seperti Aisyah biti Syati, Muhamad Abduh, Hasan Hanafi, Qurais Shihab, Nasarudin Umar dll mencoba menafsirkan kembali wahyu yang berkaitan erat masalah status wanita. Dengan cara, yakni merekonstruksi tafsir hukum dengan memperhatikan kesetaraan derajat, harkat, dan martabat kaum perempuan sebagai mahkluk Allah”.
Dalam upaya membangun peradaban umat manusia di butuhkan suatu pemikiran-pemikiran implementatif yang progresif. Sehingga wahyu akan bersifat dinamis tidak statis. Sebab, kondisi waktu itu (masa imam mahzab) mereka menafsirkan seperti itu berbeda dengan era kontemporer yang dimana tabir bagi perempuan sudah terbuka lebar-lebar tinggal perempuan mau atau tidak. Maka dari itu, kini sangat perlu bagi kita semua untuk membangun kultur dan memecahkan persoalan tersebut dengan cara memperlihatkan realitas fenomena kehidupan yang terjadi di masyarakat. Sehingga persamaan hak dan kesetaraan dapat terwujudkan.
Nah, disinilah Buku berjudul “Kontroversi Hakim Perempuan Pada Peradilan Islam Di Negara-Negara Muslim” hadir di hadapan pembaca. Djazimah Muqoddas, mencoba menguak permasalahan kenapa wanita di kancah publik (kehakiman) menurut pandangan para intelektual muslim (Imam mahzab) perempuan haram menjadi hakim. Dan, dimana letak keharamannya. Buku ini sarat gagasan progresif dan menarik untuk dibaca oleh siapa saja. Kepiwaian penulis dalam mensinergikan silang pendapat-pendapat para ulama klasik dan kontemporer membuat diri kita akan semakin tahu mengenai sebab-sebab pembolehan dan pelarangannya perempuan menjadi hakim.
Perempuan bukanlah sub-kordinat dari kaum laki-laki, tetapi keduannya memang di ciptakan oleh Allah, agar keduanya saling mengisi dan bertanggung jawab dengan tugas dan kewajiban yang di embannya.Menurut Djazimah, hal yang semestinya di lakukan sekarang adalah bagaimana melakukan reintreprestasi terhadap posisi dan citra perempuan dalam fiqh Islam. Sehingga implementasi pemahaman mengenai persamaan hak antara perempuan dan laki-laki dapat tercapai. Ada tiga poin penting yang pelu kita ketahui sebagaimana penulis uraikan dalam buku ini terkait pandangan para ulama klasik, modern, dan kontemporer dalam masalah boleh atau tidak bolehnya seorang perempuan menjadi hakim yaitu; Pertama, pelarangan perempuan menjadi hakim untuk semua kasus. Kedua, membolehkan perempuan menjadi hakim untuk semua kasus. Ketiga, kebolehan perempuan menjadi hakim dalam lingkup kasus perdata saja.
Proses rekrutmen kaum lelaki yang cenderung memperketat perempuan memasuki kepemimpinan Hakim, dinilai menjadi salah satu faktror penyebab kaum perempuan kalah bersaing dan tak mempunyai hasrat untuk menjadi Hakim. Semisal, formasi hakim perempuan yang tidak terlalu banyak. Hal ini, yang kemudian menurut Djazimah semakin membesarkan kesenjangan jumlah hakim laki-laki di bandingkan dengan hakim perempuan. Seharusnya, segala bentuk diskriminatif terhadap kaum perempuan dihilangkan. Bukankah? Menjadi hakim yang di jadikan parameter adalah soal kemampuan? Bahkan, Al Qur’an sendiri telah mengabadikan kesuksesan dan kesejahteraan negeri yang kala itu pernah di pimpin oleh perempuan, yakni Ratu Bilqis atau Ratu Sheba.
Buku ini, menjadi angin segar bagi kita terlebih mereka kaum perempuan. Sebab, Djazimah Muqodas menawarkan gagasan baru yang mencerdaskan. Dalam berupaya ikut memperjuangkan hak-hak perempuan di berbagai wilayah publik yang strategis seperti, hakim. sehingga kedepan di harapkan buku ini menjadi sumber inspirasi bagi perempuan. Dan, dapat menggugah kesadaran serta semangat berkarya untuk mencapai karier menjadi hakim. Dan, layaklah buku ini untuk dijadikan pegangan oleh para akademisi, peneliti, dan pemerhati hukum.

Jumat, 15 April 2011


Dimuat di Koran Jakarta
Obituari bersama Orang Tua

Judul : Berkah Kehidupan: 32 Kisah Inspiratif Tentang Orang Tua
Editor : Baskara T. Wardaya
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Jakarta
Tahun : 1, 2011
Tebal : 408 halaman
Harga : Rp75.000

Sebagian besar, anak memunyai kesamaan dengan orang tuanya, baik dari segi fisik maupun sifat-sifatnya. Hal itu bersifat alamiah. Beruntung sekali apabila kita memunyai orang tua secara fisik bagus kemudian memiliki kebiasaan yang baik, yakni gemar belajar, bekerja keras, dan banyak berprestasi. Sebab, nantinya orang tua tersebut akan menjadi inspirasi bagi anaknya. Spirit orang tua, harus bekerja dari siang hingga larut malam. Harapannya adalah supaya apa yang menjadi kebutuhan keluarga, terutama yang menyangkut kebutuhan pokok bagi anak, dapat tercukupi.
Hal itu memang berat namun sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab orang tua, suka atau tidak suka mereka jalani dengan semangat. Sebagai orang tua, tentu dalam lubuk hatinya ikhlas dan tulus memberi yang terbaik kepada anaknya tanpa berharap atau menagihnya suatu saat nanti. Kasih sayang orang tua terhadap anak tak ternilai harganya. Di tengah merosotnya perilaku publik dan etika politik di negeri ini, buku berjudul Berkah Kehidupan: 32 Kisah Inspiratif Tentang Orang Tua hadir di hadapan pembaca.
Dengan harapan dapat menjadi sumbangsih bagi pembangunan keluarga yang kokoh. Membangun bangsa dari lingkungan keluarga merupakan cara terbaik guna mempersiapkan generasi-generasi muda yang unggul. Buku ini memotret pengalaman sejarah para tokoh dengan orang tuanya. Misalnya, Syafii Maarif, Franz Magniz Suseno, George J Adijtondro, Benedict Anderson, dan Imam Aziz.
Syafii Marif yang kita kenal sebagai mantan ketua Muhammadiyah dan pemuka agama, menuturkan sewaktu kecil ayahnya sama sekali tidak mengenyam pendidikan tinggi tetapi hanya sampai pada tingkatan SR (Sekolah Rakyat-red), namun pengetahuannya di atas rata-rata karena memang orang tuanya gemar sekali membaca buku. Hal itu kemudian menghantarkan Syafi i Maarif menjadi seorang pengembara ilmu.
Beliau menimba ilmu hingga ke Chicago, Amerika Serikat. Membaca buku ini hati kita akan tergugah. Kemudian, terangsang untuk segera membuka memori sejarah bersama keluarga, terutama saat bersama orang tua kita. Rasa haru dan gelisah menyelimuti jiwa kita. Sebab, kita merasa sudah begitu banyak melakukan kesalahan-kesalahan, baik dengan sengaja maupun tidak disengaja. Kemudian timbul dalam diri kita, apa yang dapat kita perbuat supaya kesalahan-kesalahan kepada orang tua termaafkan.
Dalam konteks inilah, buku ini menjadi penting untuk dibaca dan dihayati oleh kita. Kisahnya sangat inspiratif bagi siapa pun yang membacanya. Dengan membacanya, kita dapat memetik pelajaran yang berharga, yakni sadar untuk berusaha menghargai jasa-jasa kedua orang tua setelah kita menjadi orang sukses, serta harus menempatkan orang tua sebagaimana mestinya.
 


Selasa, 18 Januari 2011

Sukses Menjadi Pemenang Kehidupan

Judul Buku : Menjadi Pemenang Kehidupan (Rahasia Pemenang Kehidupan)
Penulis : Dhony Firmansyah dan Istikumiyati
Penerbit : Leutika Yogyakarta
Tahun Terbit : September 2010
Jumlah Halaman : xviii+ 204 halaman

“Masalah-masalah kita adalah buatan manusia sehingga dapat diatasi oleh manusia. Tidak ada masalah dalam takdir manusia yang tidak terjangkau oleh manusia”(John F. Kennedy).
Kehidupan sekarang ini serba susah, setiap individu pasti mempunyai pelbagai macam persoalan kehidupan yang beragam. Apalagi hidup di era global seperti sekarang ini, dari mulai persaingan bisnis, tuntutan ekonomi, dan persoalan lainnya seolah membuat diri kita semakin tak berdaya untuk menjalani ehidupan. Walaupun kita sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghindar dari persoalan kehidupan tetap saja namanya hidup sampai kapan pun dan di manapun pasti persoalan akan datang untuk menghampirinya. Mampukah kita menjadi pemenang kehidupan di dunia ini?
Penulis buku ini, menawarkan solusi kepada kita dalam memecahkan segala kebuntuan yang ada dalam diri kita sehingga nantinya kita akan semakin mudah bahkan menjadi orang sukses “pemenang kehidupan” di kehidupan dunia fana ini. Bahkan, tidak sedikit orang yang bunuh diri, frustrasi, dan terjun ke dunia hitam akibat tak mampu merendam dan memecahkan persoalan yang di di timpanya. Jamil Azzaini, seorang Inspirator sukses mulia mengatakan bahwa “Singgkirkanlah penyakit berbahaya yang akan menjadi penghambat kesuksesan Anda. Ciri-ciri dari penyakit ini adalah perkataan; Saya tidak biasa, saya tidak sanggup, tidak mungkin, dan kata-kata serumpun lainnya”.
Dhoni dan Isti penulis karya buku ini membagi tiga sub bab pembahasan pokok tentang Rahasia Menjadi Pemenang Kehidupan yaitu; Pertama, menjelaskan tentang pengenalan jati diri manusia dan pembagian hidup. Penulis buku ini cukup kritis dalam mengajukan pertanyaan kepada pembacanya seperti; ”Dari mana kita berasal, Untuk apa kita hidup di dunia, dan Kemana setelah mati nantiya” pertanyaan- pertanyaan tersebut merupakan sebuah pertanyaan yang dapat di jawab oleh diri kita sendiri. Dan, diri kitalah sebenarnya yang mempunyai otoritas menentukan arah hidup kita bukan orang tua maupun orang lain hal (2). Kedua, peran keluarga dalam artian pengaruh dari orang-orang yang terdekat dengan kita. Peran Keluarga mempunyai andil yang cukup besar dalam perjalanan hidup kita karena keluarga mempunyai pengaruh besar terhadap diri kita. Dan, peran merekalah sebenarnya yang selalu memacu diri kita untuk terus melaju dan menggapai impian. Misalnya, Orang tua yang telah mendidik (menyekolahkan) kita bahkan jauh lebih baik dari pendidikan orang tuannya dan sampai ke jenjang perkawinan pun orang tua masih mendampingi kita.” Tak ada satu pu manusia di dunia ini yang rela mengorbankan harta bendanya, selalu ikhlas bekerja mencari nafkah dan nyawanya untuk kita, semata hanya untuk kita, kecuali orang tua kita sendiri” hal 59. Ketiga, syarat mutlak untuk menjadi pemenang kehidupan adalah apabila kita mampu mendapatkan pendapatan kita, menambah ilmu yang kita miliki, menambah jenjang karier, dan memberi manfaat bagi orang lain. Untuk menjadi pemenang dalam kehidupan Penulis buku mensyaratkan tiga strategi yaitu; “impian harus masuk akal, impian harus terukur dan cita-cita haru mempunyai jangka waktu yang jelas’ (hal 172). Membaca buku ini kita akan diarahkan oleh penulis untuk menjadi pemenang kehidupan, sangat di sayangkan bila di awal tahun baru kita tak mampu menambah jiwa semangat kita sendiri. Hari esok harus lebih baik dari hari kemarin.
Tantangan kehidupan semakin hari semakin banyak tetapi semua itu tergantung bagaimana diri kita mau mensikapinya. Apa rahasia sukses hidup di dunia ini? Buku ini membantu kita untuk menjadi “sang pengubah mitos” bagi diri kita sendiri. Tahun baru merupakan langkah awal untuk mengobarkan semangat baru. Selamat membaca!