Minggu, 08 Januari 2012

Memahami Makrifat Jawa


Dimuat Analisisnews.com  
Kamis, 05 Januari 2012
Judul Buku: Makrifat Jawa Untuk Semua, Menjelajah Ruang Rasa Dan Mengembangkan Kecerdasan Bathin Bersama Ki Ageng Suryomentaram
Penulis: Abdurrahman El Ashiy
Penerbit: Serambi
Tahun: 1, Agustus 2011
Tebal:  310 halaman
Harga : Rp45.000,-

"Man’ arafa nafsahu faqad’arafa Rabbahu” Orang yang telah memahami dirinya otomatis makrifat kepada Tuhannya.
Orang Jawa kerap kali di persepsikan sebagai masyarakat yang percaya akan suatu di luar rasionalitasnya. Setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan senantiasa dikaitkan dengan hal-hal gaib. Wajar, jika dalam masyarakat Jawa kuno banyak orang yang melakukan berbagai cara untuk mengisi ruang bathinnya. Supaya menemukan keajaiban dan kekuatan. Terlebih, bagi masyarakat yang hidup di sekitar keraton warisan budaya tersebut selalu di pertahankan secara turun- temurun. Lantas, menjadi penanda identitas bagi masyarakat Jawa secara keseluruhan.
Menurut Rasyidi,(1996) orang Jawa memiliki falsafah aliran kebatinan tersendiri yakni, “Sepi ing Pamrih, rame ing gawe” dan ikut “memayu hayuning Bawana”. Maksudnya, banyak bekerja bhakti tanpa mementingkan keuntungan pribadi dan ikut membentuk dunia yang indah dan makmur. Ironisnya, kini ajaran-ajaran kearifan lokal justeru semakin kehilangan makna di hati masyarakat “jawa” modern.
Bila kita telusuri, di Jawa banyak sekali warisan agung mengenai ajaran kearifan lokal yang sudah mapan. Misalnya, Serat Dewa Ruci, Suluk Gatholoco, Suluk Darmogandhul, Serat Syeh Siti Jenar, dan Serat Wirid Hidayat Jati Raya untuk di pelajari generasi selanjutnya. Ironisnya, semua itu kini kurang di minati. Tentu, ada berbagai persoalan yang menjadi penyebab ketidakpedulian masyarakat Jawa modern terhadap tradisi para leluhurnya. Penyebabnya adalah masyarakat Jawa modern sudah banyak yang terkontaminasi dengan budaya modern. Yang sedikit banyak justeru mendorong manusia mengejar materi ketimbang mencari jati diri. Akhirnya, tidak sedikit dari masyarakat modern krisis spiritual.
Buku “Makrifat Jawa Untuk Semua”ini, hendak memperkenalkan salah satu khazanah kearifan lokal “tasawuf” yang pernah membumi di tanah Jawa kepada kita. Yaitu, ajaran ki Ageng Suryamentaram dari Ngayogyakarto. Ada tiga pembahasan makrifat Jawa yang di ulas oleh Abdurrahman Asiy di buku ini, yakni Relasi Takdir Tuhan dan Pilihan Bebas Manusia, Cinta Kuasa Manusia, Makrifat. Ketiganya, merupakan mutiara yang penuh makna. Baik di tinjau dari kajian filsafat maupun tasawuf.
Diakui maupun tidak, manusia sebagai makhluk pencari makna kerap jatuh putus asa dan mencari berbagai cara untuk mencari alternatif supaya dapat menenangkan bathinnya. Terlebih bagi kita yang hidup di zaman seperti sekarang ini, banyak gejolak bathin yang tak mampu di selesaikannya. Bahkan, masyarakat di Barat sendiri untuk mencari jati dirinya banyak melakukan berbagai meditasi.
Kembali ke ajaran ma’rifat Jawa, menurut Ki Ageng, manusia dapat mempelajari atau mengetahui segala sesuatu melalui tiga macam perangkat dalam diri. Pertama, melalui panca indera yakni, penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Kedua, melalui rasa hati, rasa yang merasa aku, merasa ada, senang, dan susah. Ketiga, melalui pengertian atau pemahaman yang berguna untuk menentukan suatu hal yang berasal dari pancaindera dan perasaan. Dengan menjadikan diri sebagai “pengawilan pribadi”objek, kita dapat mempelajari manusia secara keseluruhan. (hal,52)
Ajaran tasawuf Ki Ageng Suryomentaram ini, dapat menjadi resep mujarab bagi kita dalam kehidupan yang universal. Serta, mendorong diri kita untuk menghadapi apa yang saat ini terjadi dengan mengedepankan keluhuran kemanusiaan. Abdurrahman El Ashiy memberikan tips kepada kita untuk menempa diri(yang di ambil dari ajaran Ki Ageng).  Pertama, mengamati dan meneliti rasa bathin kita yang muncul serta bertanya dan menjawabnya dengan jujur.
Kedua, membangkitkan kesadaran sejati”aku sejati” supaya senatiasa menjadi subjek dalam menghayati kehidupan dengan penuh kesabaran dan memiliki keberanian menghadapi kenyataan hidup. Ketiga, mengambil keputusan atau menentukan sikap atau tindakan berdasarkan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi dengan meng kritik nilai-nilai yang kita yakini.
Buku ini, membantu kita memahami ajaran kearifan lokal yang sudah pernah membumi di tanah Jawa. Apalagi di tengah absennya masyarakat Jawa “modern” yang kini banyak tidak tertarik akan ajaran kearifan lokal. Penting kiranya, menggali khazanah warisan agung para leluhur kita untuk di pelajari.
Menurut saya, kehadiran buku ini amat tepat. Memahami makrifat Jawa sebagai upaya memupuk jiwa kita menjadi penting. Dan, menjadi alat control bagi kita untuk menyingkirkan sikap egoisme, keserakahan, dan keasyikan pada dunia. Tak pelak, buku ini bisa menghantarkan seseorang yang berminat untuk menemukan arti hidup dengan ajaran tasawuf. 

*)Ahmad Faozan, Ketua Himasakti (Himpunan Mahasiswa Santri Alumni Keluarga Tebuireng) Yogyakarta

Memahami Logika Kehidupan


Dimuat Koran Jakarta, 05-01-2012

Judul Buku:Logika Hidup: Logika Ekonomi, Rasisme, dan Politik Kantor
Penulis:  Tim Hardford
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Jakarta
Tahun: 1 Januari 2011
Tebal: 416 halaman
Harga:Rp,75.000


Dalam kehidupan, kerap kali diri kita dihadapkan dengan hasil yang tidak memuaskan. Padahal segala hal yang akan kita lakukan sudah terencana dengan baik-baik. Baik, melalui proses berfikir yang mendalam maupun segala antsisipasi. Hal ketidakpastian, ketidakberuntungan, dan kerugian acapkali membuat tak berdaya dalam hidup. Sudahkah, kita memahami logika kehidupan?

Memahami logika kehidupan sangat penting. Sebagai upaya mengantisipasi sejak dini segala hal kerugian.walaupun toh, dari logika yang kita putuskan tidak selalu benar dalam menimbang segala sesuatu. Setidaknya, segala tindakan dan perbuatan yang kita logikan sudah menuju ke titik yang benar. Mengingat, memahami logika kehidupan proses awal menuju keberuntungan. Bukankah, melogikan sesuatu dengan matang memantapkan diri kita untuk bertindak?

Buku bertajuk “Logika Hidup”: Logika Ekonomi di balik Kejahatan, Rasisme, dan Politik Kantor” karya  Tim Hardford ini, mengajak kepada para pembaca untuk berpikir secara mendalam dalam berbagai hal kehidupan. Sehingga, membantu diri kita menerima dampak negatif dari apa yang kita kerjakan. Tim Hardford, berusaha memotret kehidupan seseorang saat dalam membuat keputusan hidupnya. Karena, seseorang kerap kali menggunakan cara-cara yang tidak rasional untuk melawan pikiran mereka sendiri.

 Di tengah kondisi kehidupan seperti sekarang ini yang dimana biaya hidup semakin mahal, berpikir cerdas dan matang merupakan suatu keharusan untuk di lakukan seseorang. Dengan demikian, bagi siapa saja yang mencoba menggunakan logika hidup seperti para ekonom kemungkinan besar peluang untuk terhindar dari segala konsekuensi negatif dapat terhindari sedini mungkin. Cotoh konkritnya, bagi seseorang orang yang suka melakukan hubungan dengan perempuan PSK maka ia akan mudah terinfeksi HIV. Penulis buku ini, mengajak pembacanya untuk berpikir seperti para filosof sebelum bertindak.
Menurut Tim Hardford, para ekonom selalu mencari logika tersembunyi di balik kehidupan. (Hal  xi) Awalnya, diri kita memang sering membuat perhitungan-perhitungan yang kompleks tentang biaya dan manfaat secara rasional namun saat hasrat nafsu memuncak kita mudah sekali terdorong untuk melakukan sesuatu yang kurang menguntungkan. Nah, dalam konteks inilah buku ini menarik di baca. 

Logika hidup, amat penting bagi kita untuk digunakan sebelum bertindak dan berbuat sesuatu. Sebab, menggunakan logika hidup menjadikan segala sesuatu yang akan kita kerjakan menjadi tanpa beban. Sebaliknya tanpa logika, hawa nafsu akan selalu mendorong diri kita untuk berbuat yang kurang rasional. Karena segala “Perilaku kita yang rasional akan menghasilkan keajaiban” (hal 399)  

Sebab, semakin matang persoalan yang dilogikan, maka semakin kecil kemungkinan kesalahan yang keliru. Bagi kita, logika hidup para ekonom patut untuk di pertimbangkan. Sebagai buah pemikiran dari pengamatan ekonom, sulit bagi kita meragukan muatan yang terkandung dalam buku ini. Sekaligus, menjadi bukti betapa pentingnnya logika hidup yang di cetuskan oleh para ekonom untuk kita ikuti. Walaupun buku ini cukup sulit dipahami, namun tetap menarik untuk dibaca. Didalamnya banyak tertuang ide-ide mencerdaskan. Sebagai upaya untuk meminimalisir segala kerugian di masa mendatang.

 Buku ini, membantu diri kita untuk mendapatkan jawaban dari setiap perbuatan yang akan membahayakan di masa mendatang. Dan, merangsang pikiran kita untuk memikirkan segala hal yang akan di lakukan dengan jernih serta perhitungan yang matang sebelum bertindak dan berbuat. Berpikir sebelum bertindak adalah awal  menuju kearah keberuntungan.

Peresensi  Ketua Himpunan Mahasiswa Alumni Keluarga Tebuireng Yogyakarta