Selasa, 12 Juni 2012

Pluralisme Solusi Kehidupan Beragama


Dimuat Kompas.com | (Jumat, 8 Juni 2012)
Judul Buku: Mengaji Pluralisme kepada Mahaguru Pencerahan
Penulis: KH. Husein Muhammad
Penerbit: Mizan
Tahun: 1, Oktober 2011
Tebal: 217 halaman
Harga: 27.300


Kekerasan dengan mengatasnamakan agama acapkali menghiasi negeri ini. Padahal, pelakunya adalah orang-orang yang konon memahami agama dengan baik dan benar. Benarkah, agama membolehkan umatnya untuk berbuat dan menghakimi umat yang berbeda pemahaman? Jika sebuah tindakan negatif dilandasi ajaran agama, dimana makna agama sebagai pencerahan bagi pemeluknya dalam kehidupan sosial?

Sangat ironis jika seseorang menganut sebuah agama hanya sebagai status sosial belaka. Tanpa meresapi dari inti ajaran agama. Begitu juga bagi mereka yang menjadikan sebuah agama sebagai alat untuk melegitimasi berbagai tindakan kekerasan. Penting, sekiranya kini menjadikan agama sebagai pencerahan diri maupun sosial. Sehingga, perjalanan hidup seseorang semakin tercerahkan. Bukankah, dengan petunjuk agama hidup seseorang senantiasa mendapatkan kebahagiaan, pencerahan, dan kedamaian?

Buku bertajuk “Mengaji Pluralisme kepada Mahaguru Pencerahan ini”, menarik dibaca. Husein Muhammad, mencoba memperlihatkan kepada para pembaca, bagaimana para sarjana muslim dalam memahami dan mendekati agama dari sudut disiplin yang berbeda. Kajian klasik tentang pluralisme ini, juga membantu kita memahami pluralisme seutuhnya. Pasalnya para pakar sufi seperti, Abu Mansur al Hallaj, Abu Hamid al Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi, dan Imam Fakhr al-Din al-Razi sudah tidak di ragukan lagi intregritasnya.

Hidup di negara serba pluralis, penting sekali menciptakan kehidupan masyarakat yang rukun dan damai. Sekiranya, pluralisme menjadi solusi dalam menghadapi keberagaman dalam konteks keagamaan masyarakat indnesia. Mengingat kehidupan keberagaman sudah mutlak kehendak Tuhan yang tak bisa di tawar-tawar lagi. Kendati demikian, persoalannya adalah masih banyaknya umat Islam yang tabu akan pluralisme, sehingga menyebabkan sikap saling menyesatkan dan mengkafirkan terjadi di internal umat Islam.

Masih pentingkah, kini memperdebatkan bahwa pluralisme sebagai produk Barat yang harus di tolak mentah-mentah? Padahal, pada masa-masa peradaban Islam klasik kajian pluralisme sudah pernah di kaji oleh para sarjana Islam. Secara tidak langsung, lewat buku ini membukakan mata kita bahwa pluralisme merupakan bukan barang baru bukan? Diakui maupun tidak, kajian pluralisme saat ini amat penting di praktekan.

Paling tidak, untuk meredam berbagai fenomena kekerasan dan intoleransi antarumat beragama di negeri ini yang sewaktu-waktu masih muncul. Seolah dalam ajaran Islam tidak mengapresiasi kemajemukan dan keanekargaman keyakinan manusia. Bukankah, Islam hadir untuk manusia dalam rangka kemanusiaan? Karena, keanekaragaman individu dengan sifat kualitatif dan kepercayaan yang berbeda-beda akan senantiasa eksis dimana pun dan kapan pun.

Menurut Al Hallaj, yang di kenal sebagai tokoh sufi” Semua agama itu sama”, para pemeluknya tak pernah berhenti mencari Sang Realitas, melalui beragam jalan, berbagai nama”.(hal,75) Mengingat, para pemeluk agama menyakini kebenaran agamanya bukan karena pilihannya, melainkan dipilih Tuhan.

Pluralisme adalah sebuah keniscayaan dan kehendak Tuhan yang tidak bisa dipungkiri. Masih banyaknya, sebagaian umat Islam yang kerap seperti menghujat dan mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham membuat kita prihatin. Mengingat,  Tuhanlah yang kelak akan memutuskan buruk, baik, dan benar. Bukankah, urusan keyakinan, niat, motifasi, pikiran, merupakan urusan Tuhan? Para tokoh sufi dalam mengkaji pluralisme melalui mekanisme penggabungan aktifitas nalar rasional, filosofis, dan permenungan kontempelatif. Tetapi juga, menggunakan diskursus keagamaan yang menjadi arusutama.

Menurut Husein, mengkaji pluralisme melalui bimbingan para pakar sarjana Islam ini, kedepan akan melahirkan sikap beragama yang lapang, damai, dan menentramkan. Dalam hal ini, Husein Muhammad mendorong kita untuk menggali keilmuan para sarjana Muslim klasik. Sehingga berbagai wacana keislaman yang muncul di era kontemporer ini, dapat di sikapi bijak oleh umat Islam.

Buku yang merupakan refleksi-refleksi tentang pluralisme yang dikutip dari kitab-kitab klasik ini pantaslah dibaca. Buku ini, juga membantu sesorang mendapatkan pencerahan dan menjadi solusi bagi kehidupan beragama di Indonesia. Selamat membaca!

Ahmad Faozan, Bergiat di Komunitas Renaisant Institute,  Yogyakarta

Senin, 23 April 2012

Menuju Hidup dengan Berbelas Kasih


Di Muat Bisnis Indonesia
22, April 2012
 
Judul Buku:Compasion:12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih
Penulis:  Karen Amstrong
Penerbit: Mizan
Tahun: 1, 2012
Tebal: 243 halaman
Harga:RP 39.000


Siapa orang yang tidak ingin hidup damai dan penuh kasih antar sesamanya? Kehidupan manusia saat ini, mudah sekali di warnai dengan berbagai tindakan konyol. Bahkan, kurang menghargai peri kemanusiaaan dan cenderung berbuat semau hati. Misal saja, memperlakukan orang lain lebih rendah. Tentunya berseberangan dengan ajaran agama yang menuntut seseorang untuk berbuat saling asih-mengasihi dalam banyak hal. Bukankah, semua orang di hadapan Tuhan itu sama terkecuali ketakwaannya?
Walaupun semua agama sudah mengajarkan ajaran belas kasih kepada pemeluknya, nampaknya masih saja belum di praktekan dengan baik.  Penting sekiranya, saat ini bagi siapa saja di muka bumi untuk membangun sebuah komunikasi global yang di dalamnya semua orang dapat hidup bersama saling menghormati satu sama lain. Tanpa memandang embel-embel agama, suku, ras, dan etnis. Sehingga kehidupan  bermasyarakat yang harmonis dapat tercipta.
Karen Amstrong lewat buku terbarunya ini, mengajak kepada kita untuk memetik inti dari ajaran semua agama yakni “Belas Kasih”. Ada 12 Langkah menuju hidup berbelas kasih yang hendak diperkenalkannya. Pertama, Belajar Tentang Belas Kasih, Bagaimana Seharusnya kita berbicara dengan sesama, Kepedulian untuk Semua, dll. Dengan memperaktekan ajaran belas kasih dalam kehidupan, di harapkan semua orang akan merasa terasa terangkat harkat dan maratabatnya dalam pergaulan.
Menurut Karen Amstrong, menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitannya seolah-olah itu adalah penderitaan sendiri, dan secara murah hati masuk kedalam sudut pandangnya menjadikan sebuah penawar bagi masalah yang di hadapi semua orang di zaman ini. Hal itu, juga sebagaimana prinsip ajaran Guru Bijak Konfusius(551-479 SM)”jangan kau lakukan kepada orang lain apa-apa yang kau tidak ingin mereka lakukan kepadamu.”(hal, 15)
Apapun alasanya, demi kepentingan pribadi maupun kelompoknya, seseorang tetap tidak di perkenankan tidak memperdulikan sesamanya terlebih kepada saingannya. Sebagaimana, perbuatan belas kasih yang pernah di praktikan oleh Nabi Muhamad Saw dalam menyebarkan ajaran Islam. Untuk melawan keangkuhan kaum Jahiliyah dengan cara melestarikan nilai-nilai kemansiaan seperti kebebasan. Sehingga ajaranya dapat di terima oleh umat manusia.
Semesetinya, tradisi belas kasih harus di terapkan oleh seseorang dalam kehidupan sosial. Mengingat, belas kasih merupakan sesuatu yang alami bagi manusia. Sekaligus pemenuhan watak manusiawi untuk menyisihkan ego kita kedalam tenggang rasa yang secara konsisten terhadap orang lain. Tak dapat dibayangkan, jika diri kita terprogram untuk mengejar kepentingan kita sendiri tanpa peduli apapun kepada orang lain. Bukankah, kita semua juga makhluk yang sempurna?
Untuk itulah belajar hidup berbelas kasih menjadi penting dalam kehidupan. Terlebih, di tengah kondisi kehidupan manusia saat ini yang semakin gila dengan duniwai. Seperti, gila jabatan, rakus, tamak dll. Buku ini, memberikan wejangan kepada para pembaca supaya berlatih untuk melatih kembali respon kita dan membentuk kebiasaan mental yang ramah, lemah, lembut, dan tidak di warnai ketakutan pada orang lain. Sehingga proses itu akan menjadi kebiasaan seumur hidup.
Dengan hdiup berbelas kasih antar sesama kehidupan yang harmonis akan tercipta. Diri kita juga akan belajar mengenai tuntunan syaraf otak dan persyaratan tradisi kita. Dalam buku ini, Karen Amstrong juga merekomendasikan kepada pembaca untuk mencari bacaan lebih lanjut yang bisa membantu Anda memperluas pengetahuan tentang tradisi Anda sendiri dan orang lain. Akhirnya, layaklah buku ini untuk di baca oleh siapa saja.
Peresensi Ahmad Faozan, Ketua Himpunan Mahasiswa Santri Alumni KeluargaTebuireng, Yogyakarta



Kamis, 12 April 2012

Ulama Pengutuk Terorisme

Dimuat Analisisnews.com
13 April 2012
 
Judul Buku            : Islam “Mahzab” Fadlullah
Penulis                  : Husaein Jafar Al Hadar
Penerbit                 : Mizania
Tahun                    : 1, Agustsus 2011
Tebal                      : 278 halaman
Harga                     : Rp.49.000,--




Dunia Islam saat ini sedang dihadapkan dengan berbagai persoalan-persoalan global. Seperti, terorisme, perpecahan antar kelompoak, kemiskinan dll. Peran para pemuka agama dalam membina umatnya penting dilakukan. Sehingga, umat Islam dalam mensikapi isu-isu global dapat ditanggapi dengan kedewasaan. Dan, menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam dalam kehidupan beragama dan berbangsa amat menjadi penting.

Masih banyaknya umat beragama”Islam” beribadah bukan karena kesadaran diri melainkan faktor tradisi dari keturunan ayah, kakek, dan nenek moyangnya. Menjadikan, pesan-pesan ilahi kurang di pahami secara mendalam. Akhirnya, banyak ayat-ayat suci di jadikan legitimasi untuk berjihad melawan umat Islam yang tidak sepaham  maupun yang tak seiodeologi dengannya. Untuk itulah, mempelajari agama dengan sungguh-sungguh menjadi sebuah keharusan.

Buku ”Islam Mahzab Fadlullah” karya Husein Ja’far Al Hadar ini, merangkum sekian pandangan Fadlullah tentang Islam. Fadllulah merupakan salah sati tokoh penyeru kedamaian dunia. Sekaligus, tokoh gerakan Islam timur “Hezbullah”. Menurutnya, masih banyak umat Islam yang kurang memahami dan menghayati ajaran Islam juga membuat mentalitas umat Islam mudah di obok-obok terutama oleh Barat.

Dalam hal ini, Fadlulah menyeru kepada umat  Islam untuk merespon segala isu yang berkembang terutama berbau agama”Islam” dengan intelektualitas objektif, bukan melalui naluri emosional, supaya umat Islam tidak terjebak pada sikap apapgetic dan emosional. Sebagai ulama, Ia pun mengutuk berbagai tindakan terorisme. Pasalnya, gerakan mengibarkan jihadisasi dimana-mana, berujung pada rakyat kecil yang sering menjadi korbannya. Seharusnya, umat Islam bersikap dewasa.

Barat yang kerap melakukan legitimasi dan slogan-slogan tentang demokrasi, kebebasan, hak asasi manusia dll. Pada intinya, hanya bertujuan mengkerdilkan umat Islam. Fadlullah, juga sangat menentang gerakan Taliban yang berbasis anarkisme. Karena, melanggar nilai-nilai dasar Islam namun perlu untuk di luruskan.  Bukankah, Islam sangat menentang tindakan anarkisme?

Rendahnya kesadaran umat beragama”Islam”, akan ajaran agamanya menjadi salah satu kelemahan yang harus di benahi. Mengingat, perbedaan kelompok semisal sunni-syiah di internal Islam sendiri kerap menciptakan ketidakharmonisan. Apalagi, dengan kelompok-kelompok berpaham radikal. Penting sekiranya, menguatkan hubungan emosional antar umat Islam dimanapun berada.

Sehingga, dapat meniptakan kedewasaan serta membantu umat Islam untuk tidak mudah terprofokasi oleh berbagai isu global seperti terorisme. Menegakan agama Tuhan dengan jalan kekerasan merupakan suatu tindakan yang ironis. Dan tidak semestinya dilakukan oleh umat Islam. Peran para ulama sebagai pengayom umat amat dibutuhkan dalam hal ini. Dengan cara itu pula, berbagai kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam dimanapun dapat diminimaslir.

Dalam buku ini, Jafar juga memasukan pemikiran Fadlullah tentang masalah wanita. Ia, hadir sebagai ulama “modernis” dengan suara yang berbeda. Menurutnya, “wanita dalam kaca mata negara Islam kerap di campakan karena kultur sosial “bukan Islam yang menjadi sumber rasa malu pria jika hendak melakukan pekerjaan rumah tangga!”.(hal 110) Hal itu, di dasari pada visi Muhamad Saw saat mendakwahkan Islam yakni, mengangkat umat manusia dari zaman  “kegelapan” (dhuzulumat) menuju “cahaya”(nur). Tanpa, memandang lelaki maupun perempuan dalam lingkup keluarga maupun sosial.

Selain itu, juga membahas masalah Islam yang ada di Indonesia. Menurut Fadlulah, Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Karenanya, begitu penting untuk menjadi perhatian bagi setiap ulama untuk memajukan Islam. (hal,196) mengingat, Indonesia memiliki daya tawar politik yang mahal dalam percaturan politik di dunia.

Buku bertajuk Islam Mahzab Fadlulah ini, pada intinya mengajak kepada para pembaca untuk berdamai, merangkul, dan bersaudara dengan kalangan siapa saja termasuk non Muslim. Sebab, perbedaan bukan lantas menghalalkan segala cara untuk membenci ataupun memusuhinya.
*)Ahmad Faozan, Ketua Himasakti Tebuireng, Yogyakarta.

Sabtu, 24 Maret 2012

Menguliti Gurita Korupsi

Dimuat Bisnis Indonesia
minggu 18 Maret 2012

Judul Buku:Perang-perangan Melawan Korupsi
Penulis: Bambang Soesatyo
Penerbit: Ufuk
Tahun: 1, November 2011
Tebal: 339 halaman
Harga:65.000
 Penyakit korupsi di Indonesia sudah menjalar kemana-mana. Ironisnya, aparat penegak hukum tak mampu membendungnya. Sehingga, membuat berbagai persoalan hukum melimpah ruah. Penyakit yang menyerang para pejabat negara itu sulit di basmi karena sistemik. Wajar, jika aktor intelektualnya sulit tertangkap. Walaupun toh, berbagai gerakan antikorupsi yang di pimpin Presiden sendiri sudah berjalan selama 7 tahun menjabat, hingga kini belum mampu membuat ciut para koruptor.

Justeru pemerintah yang di komandani Presiden banyak mengalami kendala dalam memberantas korupsi. Lebih parahnya lagi, orang-orang didikan Presiden maupun pejabat di bawahnya banyak tersandung korupsi. Sehingga, membuat persoalan penegakan hukum semakin kompleks. Misalnya yang sedang terhangat, kasus Wisma Atlet dan suap di Kementrans. Tentunya, membuat kita semakin merinding saja. Sampai kapankah penyakit korupsi di negeri ini dapat di berantas?

Menurut penulis buku ini” Bambang Soesatyo”, supermasi hukum yang selama ini di gembor-gemborkan hanyalah pepesan kosong. Janji orang nomor satu di negeri ini pun sewaktu kampanye untuk menumpas koruptor hingga kini tak bisa di pegang. Sebaliknya, justeru bermain-main dengan pedang-pedangan dalam berperang melawan koruptor. Ironisnya, para kader-kadernya juga banyak tersandung kasus korupsi. Dari catatan BPK, selama tujuh tahun pemerintahan SBY tidak kurang dari Rp 103 triliun dana pembangunan dirampok.(hal, xiii)

Dalam buku ini, ada 12 bab yang di beberkan Bambang terkait masalah korupsi. Yakni, Kanker Korupsi di Indonesia, Terlibatnya Orang-orang Presiden, Remisi untuk sang Besan, Tragedi Bernama BLBI, Mega Skandal Bank Century, Kesaktian Mafia Pajak, dll. Dari sekian banyaknya kasus yang mencuat kepermukaan publik, rakyat hanya bisa menontonnya saja. Jika memang penegakan hukum di lakukan dengan serius semestinya Presiden menjadi orang terdepan dalam memberantas koruptor.

Dari sekian banyaknya kasus yang mencuat kepermukaan publik, rakyat hanya bisa menontonnya saja. Jika penegakan hukum dilakukan dengan serius semestinya Presiden menjadi orang terdepan dalam memberantas koruptor. Bukankah, korupsi sudah merajalela? Jika dahulu korupsi berpilar pada penguasa korup dan pengusaha hitam. Kini, korupsi mengharuskan adanya perselingkuhan abadi antara dua unsur tersebut. Bahkan, mereka”koruptor’ selalu tampil kreatif dan inovatif.

Menurut salah satu ketua KPK Busro Moqodas, pilar baru para koruptor sekarang ini yakni, calo kasus dan calo politik, cukong dana, cukong politik, aktor politik pusat maupun daerah serta berbagai jaringan lainnya.(hal, 324) Cara paling ampuh untuk mencegah generasi koruptor adalah melalui pendidikan di lingkungan sekolah dan keluarga.

Mengingat, aparat penegak hukum sudah tidak mampu menghentikan aktor-aktor baru koruptor yang bermunculan di mana-mana. Sebagaimana di katakan Syafii Maarif dalam pengantar buku ini, koruptor semakin lihai, licik, dan kumuh. Bahkan, aparat penegak hukum juga hampir tiarap menghadapi mereka.

Peresensi Ahmad Faozan, Ketua Himasakti Tebuireng, Yogyakarta

Otak Penentu Kebahagiaan

Di muat di Bisnis Indonesia
12-02-2012

Judul Buku:Change Your Brain Change Your Life: Mengoptimalkan Fungsi Otak Untuk Hidup yang Lebih Baik dan Lebih Sehat
Penulis: Daniel G. Amen, MD
Penerbit: Qanita
Tahun: 1, Agustus 2011 Tebal: 356 halaman
Harga: Rp 63.750


Otak merupakan salah satu organ manusia yang paling vital. Selain tidak bisa di cangkok, juga sangat berpengaruh bagi setiap tindakan maupun perbuatan manusia. Pasalnya, otak yang menerima dan mencerap informasi dari segala apa yang ditangkap panca indera. Sel-sel otak tidak tetap seperti ketika seseorang baru terlahir, namun tumbuh berkembang secara terus-menerus dari waktu kewaktu

Penelitian terhadap otak manusia mutaakhir ini, memberikan penemuan baru yakni penentu kebahagiaan manusia. Kondisi psikologis manusia seperti berbahagia, bersedih, cemas, depresi, dan sulit mengontrol diri dapat di indikasikan karena ketidakberesan dalam otak. Otak dapat berubah secara positif jika dihadapkan pada lingkungan yang diberi rangsangan. Kendati demikian, otak juga dapat menjadi negatif bila tidak diberi rangsangan. Sudahkah, kita menjaga otak kita dari polusi otak?

Buku bertajuk Change Your Brain Change Your Life: Mengoptimalkan Fungsi Otak Untuk Hidup yang Lebih Baik dan Lebih Sehat ini, mencoba mengulas keterkaitan otak dengan perilaku manusia. Dengan memanfaatkan teknik kedokteran nuklir atau yang di sebut SPECT (Singgle Photom Eision Computed Termography”), Daniel mampu memberikan resep jitu kepada kita untuk mengoptimalkan fungsi perilaku, kognitif, pengobatan, dan nutrisi pada otak.

 Daniel telah meneliti sekitar 60.000 pasien selama sepuluh tahun terakhir. Ada lima sistem otak manusia yang diperkenalkannya. Pertama, sistem limbik dalam terletak di pusat otak, penghubung dan pusat pengendalian suasana hati. Kedua, Ganglia basal yaitu struktur besar di tengah otak untuk mengendalikan siaga tubuh. Seperti, kecemasan, kepanikan, ketakutan, dan menghindari masalah.

 Ketiga, Korteks prefrontal, sebagai pengawas yang membantu diri kita memusatkan perhatian, membuat rencana, dan mengendalikan dorongan hati. Keempat, singulat terletak melintang di tengah lobus frontal, yang berfungsi untuk memindahkan perhatian dari satu pikiran ke pikiran lain. Kelima, lobus tompural terletak di balik kening dan dibelakang mata. Yang terlibat dalam ingatan, pemahaman bahasa, pengenalan wajah, dan pengendalian amarah

Sebagaimana kisah dalam buku ini. Sally adalah perempuan berusia 40 tahun dan memiliki IQ, 140. Awalnya, Sally merupakan pasien rumah sakit di Amerika yang tidak tertangani karena mengalami gangguan berat “depresi”. Kerap melakukan pencobaan bunuh diri. Bahkan, oleh dokter dijustifikasi sebagai penyandang ADD dewasa(seperti, rentang perhatian, sulit berkonsntrasi, tidak teratur, dan gelisah).

Saat istirahat aktifitas otak Sally bagus, namun tatkala untuk mengerjakan sesuatu yang menantang, misalnya mengerjakan soal matematika, aktifitas otaknya kemudian mengalami penurunan drastis. Lantas, Sally di berikan dosis rendah Ritalin(Metilfenindat) dan hasilnyapun membaik. Akhirnya, Sally dapat hidup normal dan dapat memusatkan perhatian lebih lama. Dengan demikian, “Kondisi fisik otak berdampak besar terhadap pola pikir, perasaan, dan perilaku.”(hal,48)

Menurutnya, ada beberapa manfaat penggunaan Metode SPECT. Diantaranya, membantu mengatasi rasa cemas dan panik dengan tekhnik bernapas sederhana, memberantas depresi dengan tekhnik meredakan pikiran negatif seketika, mengekang amarah dengan diet dan nutrisi, menaklukan implusif untuk lebuh fokus dengan tekhnik, menghilangkan obsesi yang menghawatirkan dan mengendalikan laju siaga tubuh seperti cemas, panik, dan takut.

Selain memberikan manfaat dari hasil penelitian ini, penulis juga memberikan tips-tips supaya jangan melakukan tindakan yang membahayakan otak. Seperti, jangan meminum alkohol, menyangkal permasalahan, membiarkan pikiran berputar-putar terus dalam benak Anda.(hal, 323) Dengan demikian, menjaga dan merawat otak merupakan suatu hal terpenting yang harus dilakukan kita.

 Buku setebal 356 halaman  ini, terdiri dari beberapa sub bab pembahasan. Bab, 3,5,7,9, dan 11 membahas mengenai lima sistem otak yang berbeda. Pada setiap babnya juga diawali dengan penjelasan mengenai fungsi dan lokasi bagian otak. Kemudian, pada bab,4,6,8,10, dan 12 menjelaskan tentang soal penyembuhan serta resep optimisasi spesifik. Akhir kata, buku ini sangat berharga bagi kita. Berbekal buku ini, setidaknya segala macam marabahaya yang mengancam otak dapat kita minimalisir.  Selamat membaca!

Peresensi Ahmad Faozan, Ketua Himasakti Tebuireng Yogyakarta

Jumat, 20 Januari 2012

Meneladani Azra


Judul Buku:Cerita Azra: Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra
Penulis:  Andina Dwifatma
Penerbit: Erlangga
Tahun:2011
Tebal: 248 halaman
Harga:55.000


Azumardi Azra di kenal lewat publik dengan gagasan dan pemikirannya yang sangat mencerdaskan. Sebagaimana terlihat dalam berbagai tulisannya di berbagai media masa nasional, yang hampir setiap hari muncul. Dalam dunia akademisi, Azra pub tergolong seorang yang berprestasi. Mantan rektor UIN Jakarta itu, juga salah satu pakar sejarah dan peradaban Islam yang dimiliki bangsa Indonesia. Dan, sudah mendapatkan pengakuan dari kaum intelektual internasional.

Azra menjadi satu-satunya orang Indonesia yang mendapatkan gelar kehormatan” Sir” dari Ratu Inggris. Sehingga dengan bebas masuk keluar Inggris tanpa visa. Melebihi gelar pemain sepakbola populer sekaliber “David Beckham”, yang hanya punya gelar Officer of the Order of Britis Empire Alias OBE. Bagi Azra, tentunya menjadi sebuah kehormatan yang lebih bukan?

 Buku ini, memotret kehidupan Azra dari kecil hingga sekarang ini. Terlahir dari darah Azikar, seorang pedagang kecil yakni, kopra dan cengkih asal Minang. mendapatkan pendidikan langsung dari kedua orangtuannya. Dari mulai belajar membaca dan mendalami agama. Lucunya, belajar membaca yang di berikan ayahnya melalui nama-nama Bus yang melintas di depan rumahnya. Kendati demikian, justeru menjadi modal berharga bagi Azra untuk terus membaca. Berawal dari situlah, menjadikannya aktifitas membaca kapan saja dimana saja.

Setelah menjadi mahasiswa, Azra pun memulai membangun dirinya dengan menggeluti dunia organisasi, tulis-menulis, dan akademisi. Kegemarannya membaca buku, disiplin menulis, dan aktif berorganisasi semenjak menjadi mahasiswa menjadikan langkah hidup di dunia akademisnya banyak meraih prestasi yang membanggakan. Mampukah, diri kita belajar seperti Azra?

Dalam buku ini di kisahkan misalnya, Pendidikan tinggi dari Beasiswa ke Beasiswa. Melalui rekomendasi dari Munawir Sjadzali, mantan menteri agama RI pada awal tahun 1986 ia melanjutkan studi S2 nya di Amerika. Kesempatan emas untuk mengikuti pengembangan keilmuan dan cakrawala dosen-dosen muda di Amerika tidak di sia-siakannya. Nah, dari situlah Azra lantas memulai mengkonsentrasikan minatnya pada bidang sejarah peradaban Islam.

Semasa studi di Amerika, Azra “menumpahkan banyak waktunya untuk belajar sungguh-sungguh. Bahkan, kerap menghabiskan waktu di berbagai perpustakaan Columbia”.(hal,43) Konon, perpustakaan tersebut memiliki sekitar enam juta judul buku. Sebagai kutu buku, tentunya Azra kenyang melahap berbagai bahan bacaan di perpus kampusnya. Kesrakahannya dalam membaca buku tidak terhenti di situ saja. Di luar kampus, Azra gemar sekali mencari-cari buku penting dan klasik. Bahkan, setelah pulang dari Amerika beliau mengirim dua truck yang penuh dengan berisi buku-buku. Setidaknya untuk melihat kemampuan Azra kita dapat mengetahui lewat hasil tulisan Azra di media massa.

 Di tengah kondisi sekarang ini, dimana banyak mahasiswa/wi yang berkuliah hanya sekedar mengisi waktu. Misalnya, berpacaran, jalan-jalan, dll. Seolah tugas menjadi mahasiswa hanya sibuk kuliah semata. Bukankah, mahasiswa adalah agen of change dan sosio control?  Penting, kiranya  bagi pelajar/mahasiswa untuk belajar dari Azra. Baik dari segi kesederhanaan maupun saat berjuang mengejar prestasi. Sudahkah, kita mampu mengarahkan diri untuk menjadi orang berprestasi?

Selain sangat tekun dalam belajar, namun ada sesuatu hal yang cukup membuat kita iba melihatnya, yakni gaya hidup sederhannya. Menurutnya, hidup di perantoan, sebagaimana mahasiswa umumnya serba pas-pasan. Makan pun serabutan. Untuk dapat mengisi perutnya terbiasa hanya memakan roti, telur rebus, mie, worter, dan buah-buahan seadanya. Terpenting, perutnya terisi tanpa memperdulikan kenyang ataupun bergisi. 

Hanya saja, Azra memiliki strategi jitu untuk dapat makan enak saat menjadi mahasiswa asing, yakni menghadiri pengajian yang di adakan oleh masyarakat Indonesia dan berkunjung ke kediamaan diplomat. Bagi saya, sosok Azra patut untuk di jadikan teladan oleh intelektual muda”mahasiswa”. Baik dalam hal membaca, menulis, berorganiasi maupun gaya hidup sederhananya. Sebab jarang mahasiswa sekarang ini, mampu mensinerginkan ketiga aktifitas tersebut.

Buku setebal 248 halaman ini, membantu menjadi spirit bagi para pembaca untuk menjadi orang berprestasi seperti Azra. Sebagaimana dikatakan oleh Prof.Dr. Syafii Maarif, Azra adalah seorang pendidik intelektual dalam makna sejati disamping penulis profilitik yang tak pernah lelah berkarya. Beliau juga mampu menunjukan arti tanggung jawab terhadap diri maupun keluarganya. Selamat membaca!

Ahmad Faozan, Ketua Himasakti(Himpunan Mahasiswa Alumni Santri Keluarga Tebuireng) Yogyakarta