Judul Buku: Kontroversi Hakim Perempuan Pada Peradilan Islam Di Negara-Negara Muslim
Penulis: Dr. Hj. Djazimah, SH,. M. Hum
Penerbit: LKIS Yogyakarta
Cetakan: Maret, 2011
Tebal:xxx + 298 halaman
Di negara-negara Muslim Sepeti Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Sudan penempatan perempuan menjadi Hakim menuai kontroversi. Hal itu, di sebabkan oleh kuatnya pengaruh budaya patriakhi serta mengikuti pendapat para imam mahzab Malikiyah, Hanafiyah, Syfiiyah, dan Hanbilah. Kalaupun boleh, seperti pendapatnya mahzab Hanbilah hanya pada lingkup perdata dan keluarga saja. Sedangkan wilayah pidana tidak di perkenankan.
Namun begitu, para ulama kontemporer seperti Aisyah biti Syati, Muhamad Abduh, Hasan Hanafi, Qurais Shihab, Nasarudin Umar dll mencoba menafsirkan kembali wahyu yang berkaitan erat masalah status wanita. Dengan cara, yakni merekonstruksi tafsir hukum dengan memperhatikan kesetaraan derajat, harkat, dan martabat kaum perempuan sebagai mahkluk Allah”.
Dalam upaya membangun peradaban umat manusia di butuhkan suatu pemikiran-pemikiran implementatif yang progresif. Sehingga wahyu akan bersifat dinamis tidak statis. Sebab, kondisi waktu itu (masa imam mahzab) mereka menafsirkan seperti itu berbeda dengan era kontemporer yang dimana tabir bagi perempuan sudah terbuka lebar-lebar tinggal perempuan mau atau tidak. Maka dari itu, kini sangat perlu bagi kita semua untuk membangun kultur dan memecahkan persoalan tersebut dengan cara memperlihatkan realitas fenomena kehidupan yang terjadi di masyarakat. Sehingga persamaan hak dan kesetaraan dapat terwujudkan.
Nah, disinilah Buku berjudul “Kontroversi Hakim Perempuan Pada Peradilan Islam Di Negara-Negara Muslim” hadir di hadapan pembaca. Djazimah Muqoddas, mencoba menguak permasalahan kenapa wanita di kancah publik (kehakiman) menurut pandangan para intelektual muslim (Imam mahzab) perempuan haram menjadi hakim. Dan, dimana letak keharamannya. Buku ini sarat gagasan progresif dan menarik untuk dibaca oleh siapa saja. Kepiwaian penulis dalam mensinergikan silang pendapat-pendapat para ulama klasik dan kontemporer membuat diri kita akan semakin tahu mengenai sebab-sebab pembolehan dan pelarangannya perempuan menjadi hakim.
Perempuan bukanlah sub-kordinat dari kaum laki-laki, tetapi keduannya memang di ciptakan oleh Allah, agar keduanya saling mengisi dan bertanggung jawab dengan tugas dan kewajiban yang di embannya.Menurut Djazimah, hal yang semestinya di lakukan sekarang adalah bagaimana melakukan reintreprestasi terhadap posisi dan citra perempuan dalam fiqh Islam. Sehingga implementasi pemahaman mengenai persamaan hak antara perempuan dan laki-laki dapat tercapai. Ada tiga poin penting yang pelu kita ketahui sebagaimana penulis uraikan dalam buku ini terkait pandangan para ulama klasik, modern, dan kontemporer dalam masalah boleh atau tidak bolehnya seorang perempuan menjadi hakim yaitu; Pertama, pelarangan perempuan menjadi hakim untuk semua kasus. Kedua, membolehkan perempuan menjadi hakim untuk semua kasus. Ketiga, kebolehan perempuan menjadi hakim dalam lingkup kasus perdata saja.
Proses rekrutmen kaum lelaki yang cenderung memperketat perempuan memasuki kepemimpinan Hakim, dinilai menjadi salah satu faktror penyebab kaum perempuan kalah bersaing dan tak mempunyai hasrat untuk menjadi Hakim. Semisal, formasi hakim perempuan yang tidak terlalu banyak. Hal ini, yang kemudian menurut Djazimah semakin membesarkan kesenjangan jumlah hakim laki-laki di bandingkan dengan hakim perempuan. Seharusnya, segala bentuk diskriminatif terhadap kaum perempuan dihilangkan. Bukankah? Menjadi hakim yang di jadikan parameter adalah soal kemampuan? Bahkan, Al Qur’an sendiri telah mengabadikan kesuksesan dan kesejahteraan negeri yang kala itu pernah di pimpin oleh perempuan, yakni Ratu Bilqis atau Ratu Sheba.
Buku ini, menjadi angin segar bagi kita terlebih mereka kaum perempuan. Sebab, Djazimah Muqodas menawarkan gagasan baru yang mencerdaskan. Dalam berupaya ikut memperjuangkan hak-hak perempuan di berbagai wilayah publik yang strategis seperti, hakim. sehingga kedepan di harapkan buku ini menjadi sumber inspirasi bagi perempuan. Dan, dapat menggugah kesadaran serta semangat berkarya untuk mencapai karier menjadi hakim. Dan, layaklah buku ini untuk dijadikan pegangan oleh para akademisi, peneliti, dan pemerhati hukum.
Jumat, 22 April 2011
Jumat, 15 April 2011
Dimuat di Koran Jakarta
Obituari bersama Orang Tua
Judul : Berkah Kehidupan: 32 Kisah Inspiratif Tentang Orang Tua
Editor : Baskara T. Wardaya
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Jakarta
Tahun : 1, 2011
Tebal : 408 halaman
Harga : Rp75.000
Editor : Baskara T. Wardaya
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Jakarta
Tahun : 1, 2011
Tebal : 408 halaman
Harga : Rp75.000
Sebagian besar, anak memunyai kesamaan dengan orang tuanya, baik dari segi fisik maupun sifat-sifatnya. Hal itu bersifat alamiah. Beruntung sekali apabila kita memunyai orang tua secara fisik bagus kemudian memiliki kebiasaan yang baik, yakni gemar belajar, bekerja keras, dan banyak berprestasi. Sebab, nantinya orang tua tersebut akan menjadi inspirasi bagi anaknya. Spirit orang tua, harus bekerja dari siang hingga larut malam. Harapannya adalah supaya apa yang menjadi kebutuhan keluarga, terutama yang menyangkut kebutuhan pokok bagi anak, dapat tercukupi.
Hal itu memang berat namun sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab orang tua, suka atau tidak suka mereka jalani dengan semangat. Sebagai orang tua, tentu dalam lubuk hatinya ikhlas dan tulus memberi yang terbaik kepada anaknya tanpa berharap atau menagihnya suatu saat nanti. Kasih sayang orang tua terhadap anak tak ternilai harganya. Di tengah merosotnya perilaku publik dan etika politik di negeri ini, buku berjudul Berkah Kehidupan: 32 Kisah Inspiratif Tentang Orang Tua hadir di hadapan pembaca.
Dengan harapan dapat menjadi sumbangsih bagi pembangunan keluarga yang kokoh. Membangun bangsa dari lingkungan keluarga merupakan cara terbaik guna mempersiapkan generasi-generasi muda yang unggul. Buku ini memotret pengalaman sejarah para tokoh dengan orang tuanya. Misalnya, Syafii Maarif, Franz Magniz Suseno, George J Adijtondro, Benedict Anderson, dan Imam Aziz.
Syafii Marif yang kita kenal sebagai mantan ketua Muhammadiyah dan pemuka agama, menuturkan sewaktu kecil ayahnya sama sekali tidak mengenyam pendidikan tinggi tetapi hanya sampai pada tingkatan SR (Sekolah Rakyat-red), namun pengetahuannya di atas rata-rata karena memang orang tuanya gemar sekali membaca buku. Hal itu kemudian menghantarkan Syafi i Maarif menjadi seorang pengembara ilmu.
Beliau menimba ilmu hingga ke Chicago, Amerika Serikat. Membaca buku ini hati kita akan tergugah. Kemudian, terangsang untuk segera membuka memori sejarah bersama keluarga, terutama saat bersama orang tua kita. Rasa haru dan gelisah menyelimuti jiwa kita. Sebab, kita merasa sudah begitu banyak melakukan kesalahan-kesalahan, baik dengan sengaja maupun tidak disengaja. Kemudian timbul dalam diri kita, apa yang dapat kita perbuat supaya kesalahan-kesalahan kepada orang tua termaafkan.
Dalam konteks inilah, buku ini menjadi penting untuk dibaca dan dihayati oleh kita. Kisahnya sangat inspiratif bagi siapa pun yang membacanya. Dengan membacanya, kita dapat memetik pelajaran yang berharga, yakni sadar untuk berusaha menghargai jasa-jasa kedua orang tua setelah kita menjadi orang sukses, serta harus menempatkan orang tua sebagaimana mestinya.
Selasa, 18 Januari 2011
Sukses Menjadi Pemenang Kehidupan
Judul Buku : Menjadi Pemenang Kehidupan (Rahasia Pemenang Kehidupan)
Penulis : Dhony Firmansyah dan Istikumiyati
Penerbit : Leutika Yogyakarta
Tahun Terbit : September 2010
Jumlah Halaman : xviii+ 204 halaman
“Masalah-masalah kita adalah buatan manusia sehingga dapat diatasi oleh manusia. Tidak ada masalah dalam takdir manusia yang tidak terjangkau oleh manusia”(John F. Kennedy).
Kehidupan sekarang ini serba susah, setiap individu pasti mempunyai pelbagai macam persoalan kehidupan yang beragam. Apalagi hidup di era global seperti sekarang ini, dari mulai persaingan bisnis, tuntutan ekonomi, dan persoalan lainnya seolah membuat diri kita semakin tak berdaya untuk menjalani ehidupan. Walaupun kita sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghindar dari persoalan kehidupan tetap saja namanya hidup sampai kapan pun dan di manapun pasti persoalan akan datang untuk menghampirinya. Mampukah kita menjadi pemenang kehidupan di dunia ini?
Penulis buku ini, menawarkan solusi kepada kita dalam memecahkan segala kebuntuan yang ada dalam diri kita sehingga nantinya kita akan semakin mudah bahkan menjadi orang sukses “pemenang kehidupan” di kehidupan dunia fana ini. Bahkan, tidak sedikit orang yang bunuh diri, frustrasi, dan terjun ke dunia hitam akibat tak mampu merendam dan memecahkan persoalan yang di di timpanya. Jamil Azzaini, seorang Inspirator sukses mulia mengatakan bahwa “Singgkirkanlah penyakit berbahaya yang akan menjadi penghambat kesuksesan Anda. Ciri-ciri dari penyakit ini adalah perkataan; Saya tidak biasa, saya tidak sanggup, tidak mungkin, dan kata-kata serumpun lainnya”.
Dhoni dan Isti penulis karya buku ini membagi tiga sub bab pembahasan pokok tentang Rahasia Menjadi Pemenang Kehidupan yaitu; Pertama, menjelaskan tentang pengenalan jati diri manusia dan pembagian hidup. Penulis buku ini cukup kritis dalam mengajukan pertanyaan kepada pembacanya seperti; ”Dari mana kita berasal, Untuk apa kita hidup di dunia, dan Kemana setelah mati nantiya” pertanyaan- pertanyaan tersebut merupakan sebuah pertanyaan yang dapat di jawab oleh diri kita sendiri. Dan, diri kitalah sebenarnya yang mempunyai otoritas menentukan arah hidup kita bukan orang tua maupun orang lain hal (2). Kedua, peran keluarga dalam artian pengaruh dari orang-orang yang terdekat dengan kita. Peran Keluarga mempunyai andil yang cukup besar dalam perjalanan hidup kita karena keluarga mempunyai pengaruh besar terhadap diri kita. Dan, peran merekalah sebenarnya yang selalu memacu diri kita untuk terus melaju dan menggapai impian. Misalnya, Orang tua yang telah mendidik (menyekolahkan) kita bahkan jauh lebih baik dari pendidikan orang tuannya dan sampai ke jenjang perkawinan pun orang tua masih mendampingi kita.” Tak ada satu pu manusia di dunia ini yang rela mengorbankan harta bendanya, selalu ikhlas bekerja mencari nafkah dan nyawanya untuk kita, semata hanya untuk kita, kecuali orang tua kita sendiri” hal 59. Ketiga, syarat mutlak untuk menjadi pemenang kehidupan adalah apabila kita mampu mendapatkan pendapatan kita, menambah ilmu yang kita miliki, menambah jenjang karier, dan memberi manfaat bagi orang lain. Untuk menjadi pemenang dalam kehidupan Penulis buku mensyaratkan tiga strategi yaitu; “impian harus masuk akal, impian harus terukur dan cita-cita haru mempunyai jangka waktu yang jelas’ (hal 172). Membaca buku ini kita akan diarahkan oleh penulis untuk menjadi pemenang kehidupan, sangat di sayangkan bila di awal tahun baru kita tak mampu menambah jiwa semangat kita sendiri. Hari esok harus lebih baik dari hari kemarin.
Tantangan kehidupan semakin hari semakin banyak tetapi semua itu tergantung bagaimana diri kita mau mensikapinya. Apa rahasia sukses hidup di dunia ini? Buku ini membantu kita untuk menjadi “sang pengubah mitos” bagi diri kita sendiri. Tahun baru merupakan langkah awal untuk mengobarkan semangat baru. Selamat membaca!
Judul Buku : Menjadi Pemenang Kehidupan (Rahasia Pemenang Kehidupan)
Penulis : Dhony Firmansyah dan Istikumiyati
Penerbit : Leutika Yogyakarta
Tahun Terbit : September 2010
Jumlah Halaman : xviii+ 204 halaman
“Masalah-masalah kita adalah buatan manusia sehingga dapat diatasi oleh manusia. Tidak ada masalah dalam takdir manusia yang tidak terjangkau oleh manusia”(John F. Kennedy).
Kehidupan sekarang ini serba susah, setiap individu pasti mempunyai pelbagai macam persoalan kehidupan yang beragam. Apalagi hidup di era global seperti sekarang ini, dari mulai persaingan bisnis, tuntutan ekonomi, dan persoalan lainnya seolah membuat diri kita semakin tak berdaya untuk menjalani ehidupan. Walaupun kita sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghindar dari persoalan kehidupan tetap saja namanya hidup sampai kapan pun dan di manapun pasti persoalan akan datang untuk menghampirinya. Mampukah kita menjadi pemenang kehidupan di dunia ini?
Penulis buku ini, menawarkan solusi kepada kita dalam memecahkan segala kebuntuan yang ada dalam diri kita sehingga nantinya kita akan semakin mudah bahkan menjadi orang sukses “pemenang kehidupan” di kehidupan dunia fana ini. Bahkan, tidak sedikit orang yang bunuh diri, frustrasi, dan terjun ke dunia hitam akibat tak mampu merendam dan memecahkan persoalan yang di di timpanya. Jamil Azzaini, seorang Inspirator sukses mulia mengatakan bahwa “Singgkirkanlah penyakit berbahaya yang akan menjadi penghambat kesuksesan Anda. Ciri-ciri dari penyakit ini adalah perkataan; Saya tidak biasa, saya tidak sanggup, tidak mungkin, dan kata-kata serumpun lainnya”.
Dhoni dan Isti penulis karya buku ini membagi tiga sub bab pembahasan pokok tentang Rahasia Menjadi Pemenang Kehidupan yaitu; Pertama, menjelaskan tentang pengenalan jati diri manusia dan pembagian hidup. Penulis buku ini cukup kritis dalam mengajukan pertanyaan kepada pembacanya seperti; ”Dari mana kita berasal, Untuk apa kita hidup di dunia, dan Kemana setelah mati nantiya” pertanyaan- pertanyaan tersebut merupakan sebuah pertanyaan yang dapat di jawab oleh diri kita sendiri. Dan, diri kitalah sebenarnya yang mempunyai otoritas menentukan arah hidup kita bukan orang tua maupun orang lain hal (2). Kedua, peran keluarga dalam artian pengaruh dari orang-orang yang terdekat dengan kita. Peran Keluarga mempunyai andil yang cukup besar dalam perjalanan hidup kita karena keluarga mempunyai pengaruh besar terhadap diri kita. Dan, peran merekalah sebenarnya yang selalu memacu diri kita untuk terus melaju dan menggapai impian. Misalnya, Orang tua yang telah mendidik (menyekolahkan) kita bahkan jauh lebih baik dari pendidikan orang tuannya dan sampai ke jenjang perkawinan pun orang tua masih mendampingi kita.” Tak ada satu pu manusia di dunia ini yang rela mengorbankan harta bendanya, selalu ikhlas bekerja mencari nafkah dan nyawanya untuk kita, semata hanya untuk kita, kecuali orang tua kita sendiri” hal 59. Ketiga, syarat mutlak untuk menjadi pemenang kehidupan adalah apabila kita mampu mendapatkan pendapatan kita, menambah ilmu yang kita miliki, menambah jenjang karier, dan memberi manfaat bagi orang lain. Untuk menjadi pemenang dalam kehidupan Penulis buku mensyaratkan tiga strategi yaitu; “impian harus masuk akal, impian harus terukur dan cita-cita haru mempunyai jangka waktu yang jelas’ (hal 172). Membaca buku ini kita akan diarahkan oleh penulis untuk menjadi pemenang kehidupan, sangat di sayangkan bila di awal tahun baru kita tak mampu menambah jiwa semangat kita sendiri. Hari esok harus lebih baik dari hari kemarin.
Tantangan kehidupan semakin hari semakin banyak tetapi semua itu tergantung bagaimana diri kita mau mensikapinya. Apa rahasia sukses hidup di dunia ini? Buku ini membantu kita untuk menjadi “sang pengubah mitos” bagi diri kita sendiri. Tahun baru merupakan langkah awal untuk mengobarkan semangat baru. Selamat membaca!
Sabtu, 25 Desember 2010
3
Judul Buku :Teologi Femisme Islam
Penulis : Syarif Hidayatuloh
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tahun Terbit : September 2010
Jumlah Halaman : 95 halaman
Penulis : Syarif Hidayatuloh
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tahun Terbit : September 2010
Jumlah Halaman : 95 halaman
Oleh : Ahmad Faozan
Menuju pemberdayaan perempuan
Peran dan kotribusi perempuan sangat terbatasi oleh laki-laki baik di lingkup sosial, budaya, politik, maupun agama. Perempuan selalu dinomorduakan setelah lelaki. Dan, nampaknya kodrat perempuan tercipta hanya mengurus anak, suami, dan keluara. Hak asasi perempuan telah di injak-injak oleh tafsiran laki-laki terhadap teks suci. Dibawah hegemoni agama mereka (lelaki) menikmatinya dan menganggap hal itu sebagai bagian dari ibadah.
Isu Feminisme Islam memang kerap kita dengar, namun kenapa hingga saat ini suprioritas laki-laki atas perempuan dibangun diatas kepercayaan bahwa “perempuan diciptakan dari dan untuk laki-laki”. Ketimpangan peran perempuan dalam pembangunan bukan masalah rendah kualitas tetapi bersumber dari masyarakat. Adanya pandangan bahwa kualitas perempuan itu rendah sehingga kemudian menyebabkan perempuan selalu di letakan dan di manfaatkan oleh kaum laki-laki.
Penulis buku ini, mencoba mendesak untuk mengkonstruksi ulang teologi Islam yang terkait dengan persoalan feminime. Karena, selama ini rekonstruksi teologi feminisme Islam hanya menyentuh pada wilayah penafsiran sumber-sumber teks-wahyu keagamaan yang masih melahirkan masalah diskriminasi bagi kaum perempuan.
Buku ini, menjelaskan secara rinci dan runut mengenai. sebab- musabab terjadinya ketimpangan gender baik dari apek pemikiran, pemahaman maupun aspek sosial, yakni faktor eksternal dan internal. Secara eksternal penyebabnya adalah realitas sosial, politik, maupun global. Umat Islam khususnya di Indonesia masih mempertahankan budaya patriakhi. Sedangkan faktor internal, kondisi umat Islam masih belum terlepas dari pemahaman bias gender dalam memahami doktrin dan ajaran Islam. Agama justru masih di gunakan sebagai legitimasi untuk mengesahkan penindasan dan subkordinasi melalui intrepretasi teks. Sehingga, akibatnya perempuan di patok untuk menjadi ibu rumah tanggga. Padahal sejak awal perjuanagan Nabi Muhamad Saw menjadikan emanasi perempuan sebagai salah satu agenda utama. Sedangkan, “Diskriminasi adalah pengingkaran terhadap ajaran tauhid” hal 23.
Oleh sebab itulah, barangkali kini di tengah berkembangnya isu Jenderisasi baik didunia barat maupun dunia Timur kita mampu membongkar mitos tentang teologi (taken for granted) sebagai tujuan menghilangkan sikap fanatisme sempit yang mencurigai dialog teologi dan persoalan perempuan dianggap bagian dari pendangkalan akidah. Kemudian, mengekspolisikan aspek feminim Tuhan demi kesejahteraan gender sehingga nantinya ke depan dapat membuka paradigma baru bagi kesamaaan hak-hak perempuan untuk mewarnai sendi-sendi kehidupan. Secara normatif Islam sesungguhnya adalah agama yang menyokong kesetaraan gender, namun dalam realitasnya masih banyak sekali problem bias jender.
Dalam kaitan dengan posisi laki-laki dan budaya patriarki, kaum feminis memandang bahwa realitas yang ada dalam ruang publik bukanlah realitas yang objektif, melainkan sebagai realitas yang telah dikonstruksi oleh pembuatnya, yakni kaum lelaki itu sendiri.
Program dekonstruksi feminisme, diakui maupun tidak memang harus kita lakukan sehingga generasi berikutnya akan lebih bijak dalam menafsirkan kedudukan perempuan di kehidupan sosial. Pemberdayaan perempuan mungkin dapat mencapai sasaran apabila dikonstruksi perempuan sejak lahir dapat di hilangkan.
Dalam pandangan Peter L Berger bahwa seorang sosiolog interpretatif—realitas itu tidak dibentuk secara alamiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Realitas dibentuk dan dikonstruksikan. Realitas dipandang berwajah ganda atau plural. Setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas.
Membaca buku ini, kita diajak Syarif, untuk mengindentifikasi persoalan-persoalan teologis yang banyak disoroti dalam isu feminisme Islam sehingga buku ini wajib di baca oleh mereka aktifis perempuan dan pegiat jender sebagai bahan referensi dan bahan rujukan.
1
Judul : Sejuta Hati Untuk Gus Dur (Sebuah Novel dan Memorial)
Pengarang : Damien Dematra
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2010
Tebal : 426 halaman
Presensi : Ahmad Faozan
Mengulas sepak terjang Gus Dur
Bagi kebanyakan orang, Gus Dur adalah salah satu tokoh pemersatu umat manusia yang tak dapat di lupakan begitu saja. Kehadiran GD di tengah-tengah masyarakat sangat di kenal sebagai tokoh pejuang pluralisme.
Pribadi Gus Dur yang tidak kenal lelah, terus menerus digunakan untuk membangkitkan kesadaran manusia, bahwa untuk menjadi seorang manusia sejati adalah menjadi manusia yang benar-benar berguna bagi orang lain. Dengan begitu, menjunjung toleransi serta menghargai perbedaan dan keyakinan tak lain adalah bertujuan menciptakan kehidupan social yang penuh kedamaian, kerukunan, serta kebersamaan.
Buku ini, adalah bukti sejarah rekam jejak kehidupan Gus Dur sewaktu hidupnya. Sehingga para generasi bangsa selanjutnya mau mencontoh, meneladani, dan mampu meneruskan perjuangan pemikiran serta gagasan Gus Dur.
Membaca buku ini, setidaknya dapat menjadi penawar rindu buat kita kepada Gus Dur.
Jika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seseorang menemui benih-benih perpecahan, maka ingatlah Gus Dur. “Hargailah perbedaan pendapat serta junjunganlah tali persaudaraan diantara kalian”. Siapapun dia, agama, ras, suku dan etnis harus dapat hidup damai. Hal demikian adalah bentuk rasa tanggung jawab kita kepada Tuhan beserta kehidupan sosial di dunia ini.
Sebagai Cendekiawan Muslim Gus Dur menyatakan bahwa” Sesungguhnya setiap agama memberikan sebuah ruang kebebasan bagi orang lain untuk dapat hidup dan mengamalkan apa yang di yakininya tanpa pemaksaan dari pihak manapun” Sehingga dalam menjalani kehidupan tercipta keharmonisan (Hal 240).
Begitulah, serangkum fakta terkait tentang tata cara hidup bermasayarakat dipraktekan Gus Dur. Maka, tidak salah jika banyak orang mengaguminya. Dan, setidaknya cara seperti itulah yang harus kita praktekan dalam hidup berbangsa dan bernegara kapanpun dan dimanapun.
Nampak, cita-cita Gus Dur dalam hidupnya hanya berjuang untuk “menjadi pemimpin nomor satu di Indonesia sekaligus pembela kemanusiaan, bagi kaum minoritas dan tertindas, penjunjung pluralisme” tidak sedikit banyak orang meminta perlidungan di belakang dirinya. Pemikiran Gus Dur sangat maju dan modern. Terlihat komitmen Gus Dur untuk menata masyarakat yang rukun dan damai tanpa adanya kekerasan sedikit pun (Hal 264).
Gus Dur, pantas di anggap menjadi tokoh idola di abad modern. Peran dan kotribusinya, terbukti mampu menyatukan beberapa element untuk dapat hidup bersama dalam satu tempat yaitu ”kedamaian”. Ia, menjadi makhluk Tuhan yang dalam hidupnya tak pernah mengeluh atau bersedih hati sedikit pun dalam kondisi apapun.
Dan, Ia selalu menjalani kehidupannya dengan penuh semangat dan tak pernah putus asa.
Sikapnya terkesan tak mau menyerah atas segala persoalan yang dihadipnya, Ia selalu selalu menujukan sikap gigih, optimis, dan keras dalam memperjuangkan nasib yang di alami kaum tertindas. Kesemua itu, merupakan karakter kepribadiannya yang tak mungkin bisa di cegah maupun di pisahkan oleh siapapun.
Ketulusan Gus Dur dalam mengabdikan dirinya kepada bangsa, agama serta masyarakat tak lain hanyalah bertujuan agar terciptanya tatanan masyarakat yang penuh dengan kedamaian. Tanpa kehadirannya (GD) barangkali Pluralisme di Indonesia hingga kini tak pernah tebangun. Pemikiran dan gagasannya merupakan sumbangsih terbesar Gus Dur yang menjadi amal jariah sewaktu hidupnya.
Buku ini, menjadi bacaan wajib bagi mereka yang mengidolakan, mengagumkan dan mengenal sosok Gus Dur. Perlu di ketahui bahwa, Gus Dur, bukanlah milik keluarga, sahabat, maupun kerabatnya, namun Ia adalah milik kita bersama. Gus, kini kita merindukanmu.
oleh
Ahmad Faozan
Kedua
Judul Buku :Sang Pengubah Mitos (Kisah-kisah Inspirasional yang Siap Mengubah
Segala Kelemahanmu)
Penulis : M. Iqbal Dawami
Penerbit : Diva Prez Yogyakarta
Cetakan :Juli 2010
Tebal : 250, hal
ISBN : 978-602-955819-7
Tebal : 250, hal
ISBN : 978-602-955819-7
Strategi Membangkitkan jiwa
Beratnya beban hidup yang kita pikul seringkali membuat diri kita kehilangan spirit dan gairah. Dan, tragisnya lagi bila di tambah adanya sebuah tekanan dan tuntutan sungguh membuat diri kita semakin tak berdaya menghadapinya. Maka dari itu, pentingnya sebuah kemampuan diri untuk menyulut dan membangkitkan spirit yang sudah ada dalam jiwa kita. Sesungguhnya kekuatan terbesar yang ada dalam diri manusia adalah spirit dan motifasi diri bukan tenaga super kuat serta fisik yang mumpuni
Mimpi menjadi orang sukses dan berhasil dalam hidup di dunia ini merupakan visi dan misi manusia secara keseluruhan. Namun, kesuksesan dan keberhasilan hidup di dunia ini bila diri kita hidup dalam serba kekurangan seolah dalam diri kita muncul pernyataan “tidak mungkin”. Menjalani kehidupan dengan penuh sikap pesimisme tentunya semakin memperburuk diri kita sendiri.
M.Iqbal Dawami, seolah memahami keingintahuan pembaca mengenai apa dan bagaimana seharusnya menjalani kehidupan ini dengan penuh spirit. Dengan gaya bercerita yang mengisahkan orang-orang sukses, mudah ditangkap, dan runut, M. Iqbal Dawami membantu pembaca untuk merangsang dan menumbuhkan spirit dalam menjalani hidup di dunia ini.
Isi buku ini, terbagi menjadi tiga bab. Bab pertama, penulis membahas tentang bagaimana caranya kita membangkitkan jiwa spirit kita yang sudah ada dalam jiwa kita sendiri. Spirit merupakan modal bagi kita untuk bangkit meraih segala impian. Kebanyakan orang melihat penderitaan sebagai suatu “takdir” yang tak dapat di elakan. Akan tetapi bila kita belajar kepada para tokoh-tokoh di dunia yang sudah sukses Misalnya, Toyotami anak petani asal negeri Jepang yang bertubuh kecil dan tak berpendidikan namun mampu menjadi penakluk dan penguasa tertinggi di Jepang. Berkat usaha menutupi segala kekurangan dalam dirinya Ia mampu mengungguli para pesaingnya yang berdarah biru dan menjadi penguasa di seluruh Jepang dapat kita ketahui bahwa pada awalnya mereka sukses karena usaha keras dan jerih payah melalui proses yang lama (Hal 31).
Pada bab Kedua, hendaknya, kita sebagai manusia biasa mau belajar dari mereka para tokoh-tokoh dunia. Setidaknya perjalanna hidup mereka(para tokoh dunia) dapat menjadi sumber inspirasi bagi diri kita sendiri. Hidup memang membutuhkan perjuangan dan kesadaran. Lebih penting lagi, bagiamana diri kita mampu menyulut dan membangkitkan spirit dalam situasi dan kondisi apapun sehingga perasaan minder, mustahil dapat dijawabnya.
Kisah sejarah orang sukses tidak saja menjadi inspirasi bagi kita, namun di sadari maupun tidak dapat membangkitkan emosi, spirit, dan ide-ide cemerlang untuk kita terapkan dalam jiwa kita. Seperti, “cerita ahlak Nabi Muhamad SAW bagaiamana kelembutan dan ketabahan sikapnya dalam mensiarkan agama Islam” secara tidak langsung kita dapat mengambil metode dakwah kita untuk di jadikan sebagai pedoman hidup dalam kehidupan bermasyarakat. Kehidupan di zaman modern seperti sekarang ini banyak di antara kita yang kehilangan spiritual dan budi pakerti yang baik. Seolah cara hidup kita sepertinya hanya mementingkan materi semata sehingga menjadikan diri kita egois dan sombong-sombongan (hal 97).
Dan, pada akhirnya pada bab yang ketiga buku ini mengajak kepada kita (pembaca) untuk dapat mengarahkan orentasi dari pekerjaan yang kita lakukan. Apakah pekerjaan kita bermanfaat bagi diri kita sendiri atau kepada orang lain. Barangkali pekerjaan yang kita lakukan hanya sebatas kenikmatan sesaat. “Ada lima rahasia yang perlu kita ketahui dalam kehidupan fana ini yaitu: lebih merenung, lebih mengambil resiko, lebih mencintai, lebih menikmati dan lebih memberi”. Perlu kita sadari, bahwa apa yang kita lakukan menjadi catatan sejarah dalam hidup di dunia ini. Kesimpulnya, buku ini menegur kita bahwa jika tidak bisa melakukan hal terbesar dalam kehidupan ini padahal kita sudah memaksimalkan dengan semua potensi kita, maka lakukanlah hal yang terkecil sesuai kemampuan kita (hal 238).
Buku ini, sangat berharga bagi para pembaca yang sedang panik menghadapi persoalan kehidupan di era kontemporer. Kehidupan masyarakat di era modern banyak yang mengedepankan materi semata sehingga jiwa spiritual di tinggalkan. Bahkan karena terlalu mengejar materi banyak orang frustasi dan bunuh diri. Oleh sebab itulah, pentinganya diri kita menekankan jiwa spiritual sehingga nantinya kita akan mampu mengendalikan jiwa kita sendiri.
Dengan kehadiran buku ini, setidaknya dapat membantu menyulut spirit dalam diri kita. Karena spirit dalam diri kita adalah faktor penentu visi dan misi kehidupan kita sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)




