Minggu, 25 November 2012

Menggugat Hegemoni Asing



Judul:  Kudeta Putih: Reformasi dan Pelembagaan Kepentingan Asing dalam Ekonomi Indonesia
Penulis: Syamsul Hadi dkk.
Penerbit: Indonesia Berdikari
Tahun: 1, September 2012
Tebal: 288 halaman
Harga:Rp. 40.000



Beragam cara negara-negara asing menyelipkan berbagai kepentingannya di bumi pertiwi. Misalnya, dengan menggelontoran milyaran dan triluyan rupiah atas nama bantuan “hibah” mereka dapat mengambil keuntungan yang melimpah. Wajar, jika lembaga Asing seperti IDB, IMF, World Bank kini sukses menanamkan investinya di berbagai sektor. Ironisnya, bantuan modal dari Negara asing yang diberikan kepada pemerintah Indonesia justeru membuat bangsa ini semakin tersandera.

Jika pada masa Orde Baru, pihak asing masih terlihat  “elegan” karena mendorong perubahan paradigma berpikir tentang tatanan ekonomi. Sebaliknya, kini, di era reformasi peran lembaga keuangan asing seperti ADB, IMF, dan World Bank memegang peranan penting dalam mekanisme pinjaman luar negeri yang diperlukan bangsa Indonesia.  

Buku ini, mencoba membongkar fakta-fakta bagaimana kekuatan Asing mempengaruhi dan memainkan pengaruhnya kepada pemerintah Indonesia melalui jalan konstitusional. “Kudeta putih” secara legal formal tidak menyalahi aturan dan perundang-undangan. Akan tetapi, secara subtansial keabsahannya mesti digugat dan terus dipertanyakan, mengingat misi kemerdekaan bangsa ini bukanlah melapangkan jalan kembali atau memfasilitasi kekuatan-kekuatan asing untuk kembali menjajah negeri ini secara konstitusional dan elegan.

Dalam situasi kehilangan rasa percaya diri itu, resep-resep yang ditawarkan institusi keuangan internasional yang sebenarnya mencerminkan kepentingan para pemodal di negara-negara maju dianggap sebagai kebenaran mutlak. Tak mengherankan, jika pada akhirnya bantuan asing saat ini menjadi buah simalakama bagi bangsa Indonesia.

Tak pelak, berbagai aturan perundangan di berbagai level kelembagaan, dengan substansi kebijakan yang sangat lengkap dan terperinci mampu dipengaruhi pihak Asing. Ironisnya, melalui  produk  parlemen banyak sekali peraturan undang-undang yang dihasilkan memiliki motif pengangungan terhadap lembaga Asing. 

Konon, sekitar 170 produk undang-undang sejak era reformasi dianggap antikonstitusi. Amendemen terhadap Undang-Undang Dasar dan munculnya berbagai undang-undang serta peraturan pemerintah yang diwarnai semangat liberalisasi, deregulasi, dan privatisasi telah memberikan jalan seluas-luasnya bagi kekuatan-kekuatan asing untuk lebih mendominasi ekonomi Indonesia. “Hampir 85% produksi minyak mentah Indonesia dikuasai oleh Asing seperti, Amerika, China, Jepang, dan Eropa.” (hlm, 117)

Menurut Syamsul Hadi dkk, lembaga-lembaga Asing seperti, International Monetary Fund(IMF) World Bank(Bank Dunia), dan Asian Devloment Bank(Bank Pembangunan Asia) telah banyak memaksakan pelembagaaan nilai-nilai ekonomi neoliberal kepada negara-negara berkembang, khusunya yang terlanda krisis dan tergantung secara ekonomi kepada bantuan asing, melalui skema kebijakan yang secara detail dituangkan dalam berbagai dokumen dan kesepakatan yang melibatkan pemerintah indonesia.Tak pelak, untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, pertamina harus membuka kran impor. Betapa mudahnya, negara ini jatuh dalam cengkraman asing?

 Salah satu contohnya yang digambarkan buku ini yakni, peran IMF dalam pembentukan Regulasi Otoritas Jasa Keuangan” OJK”. “OJK kini menjadi semakin liberal dan cenderung mengarah kepada pengurangan kontrol negara dalam sektor keuangan dan mengurangi kewenangan Bank Indonesia atas kontrol sektor keungan.”(hlm, 67) Tentu saja, bangsa dan rakyat Indonesia yang menerima segala dampak kerugian bukan?  

Menurut penulis buku ini, maraknya investasi asing yang dilakukan perusahaan asing di dukung karena beberapa hal. Pertama, kapasitas finansial. Kedua, berpengalaman menghadapi regulasi lingkungan yang akurat, tekhnologi untuk ekspansi dan produksi. Keempat, transportasi di ladang minyak lama baru. Ditengah kondisi ekonomi bangsa ini yang terus memburuk dan hilangnya rasa kepercayaan semua elemen bangsa, membuat peran pihak asing semakin menguat. 

 Semestinya,  pemerintah sebagai eksekutif dan pihak legislatif sebagai oragan penting pembuatan undang-undang tidak bermain mata dengan investor asing dan juga negara-negara asing serta lembaga-lembaga internasional. Tanpa adanya kesungguhan untuk menginsyafi pentingnya kemandirian ekonomi bangsa, semua modus “kudeta putih” itu akan terus berjalan dari waktu ke waktu.

Sebagai kelebihan dari buku ini, yakni menggugah kesadaran kita semua untuk mendorong, eksekutif dan legislatif supaya berani melakukan perubahan. Tanpa adanya keberanian dari pemerintahan Indonesia saat ini, sudah pasti kemakmuran, kesejahteraan, dan maju hanya sebatas mimpi belaka.


 Jika dahulu pra kemerdekaan negara asing menggunakan senjata untuk menaklukan Indonesia. Sebaliknya, era reformasi seperti sekarang ini, lembaga-lembaga asing justru menggunakan cara-cara halus guna menjarah dan menguasai sumber-sumber alam bangsa Indonesia. Dengan demikian, buku ini amat berarti bagi masyarakat untuk membuka kejanggalan-kejanggalan terselebung yang selama ini tidak pernah terkuak. 

Melalui buku setebal 228 halaman ini, kita dapat melihat berbagai cara negara-negara Asing seperti Amerika, Jepang, Inggris, dan China menjarah kekayaan dari bangsa Indonesia, misalnya melalui jalur konstitusi.



Peresensi Ahmad Faozan, Pembaca buku tinggal di Yogyakarta

Rabu, 31 Oktober 2012

Potret Dialog Iblis dengan Para Nabi


Judul: Dialog Iblis dengan Para Nabi:99 Kisah Penyegar Iman
Penulis: Aep Saepulloh Darusmanwiati
Penerbit:Zaman
Tahun: 1,2012
Tebal: 331 halaman
Harga:Rp.36.000
                  
Hati itu cenderung cepat bosan, maka lipurlah ia dengan kisah-kisah hikmah. (Ibnu Mas’ ud)

Salah satu karakteristik dari ajaran Islam yang termaktub dalam kitab suci “Al Qur’an” yakni kisah-kisah masa lampau. Dari mulai kisah penciptaan bumi, langit, malaikat, Iblis, dan manusia termaktub dalam kitab suci. Bahkan, seperempat isi kitab suci “Al Qur’an” berisikan kisah-kisah. Dan, inilah yang menjadi mukjizat Allah. Sehingga, manusia dapat mengetahui dan belajar tentang persitiwa-peristiwa masa lalu yang termaktub dalam kitab suci.

Buku ini mencoba memotret “Dialog Iblis dengan Para Nabi”dalam kitab suci”Al Qur’an. Aep Saepulloh membuka rahasia tentang trick bagaimana Iblis merayu, membujuk, dan menuntun manusia kearah kesesatan. Wahab Ibn Munabbih, menuturkan, bahwa Muhamad Saw pernah di datangi oleh Iblis dan berbincang-bincang dengannya.  Menurut pengakuan Iblis, ada lima belas golongan pengikut Nabi yang menjadi musuhnya yakni; kamu, pemimpin yang adil orang yang tak sombong. Ilmuan yang rendah hati dll. 

Sedangkan yang menjadi teman dekat Iblis yakni, Penguasa jahat, orang kaya yang sombong, pedagang yang curang, orang yang suka memfitnah, orang yang bermain-main dengan shalat, dll.(hal,53-54) Di tengah krisis spiritual yang dialami manusia pada abad modern seperti sekarang ini telah banyak menimbulkan berbagai gejolak kehidupan. Seperti, rakus, tamak, egois, dan arogant. Bahkan, menjadikan manusia kini mudah kehilangan kepercayaan diri dalam beribadah dan menghadapi kehidupannya. Dai kondang Asal Ciamis ini, mengulas 99 tema kisah. 

 Misalnya, Dialog Iblis dengan Nabi Nuh, Musa, Yahya, Musa, Kunci Meraih cita-cita, Hati-hati dengan Uang, Koruptor, Buah Kesabaran, Dilog Muhammad Saw dengan Iblis, dll. Dengan merujuk langsung Al Qur’an, Hadis, dan kitab-kitab mutabarah. Sehingga, membantu Anda untuk belajar dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Tentunya, menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Tuhan bukan?

Perubahan hidup yang semakin cepat acapkali membawa manusia bertindak dan berprilaku seenaknya sendiri. Misalnya, korupsi. Walaupun toh sudah ada aturan baik dari Tuhan langsung maupun manusia tetap saja diterobosnya. Akhirnya, manusia tidak mampu mengontrol diri yang berdampak pada kesengsaran orang banyak. Ironisnya, manusia dengan tampil sebagai perwujudan dari iblis tak pernah menyadari dan menerima kritikan.

Merebahnya malapraktik korupsi, anarkis, dan kejam di negeri ini membuat kita ikut prihatin melihatnya. Padahal, dalam kitab syarah Muslim disebutkan bahwa koruptor kelak akan menjadi orang yang sengsara.(hal,170) Pasalnya, ia akan datang membawa apa yang dia khianati itu diatas punggung dan lehernya dengan sangat berat sebagai hukumannya. Tak dapat kita bayangkan, jika para koruptor mengorupsi uang jalan, gedung, dan transportasi bagaimana ia kelak?

Iblis sebagai makhluk Tuhan yang ingkar, tidak mau mendapatkan hukuman sendirian. Ia pun sudah meminta izin Tuhan untuk menggoda manusia. Beragam cara para Iblis dalam menjalankan aksinya yakni menggoda manusia. Baik melalui Tahta, harta, isteri, suami, anak, dan kemewahan. Terpenting bagi Iblis yakni sukses mengarahkan manusia ke jalan yang sesat. Setelah sukses  iblis pun tertawa “Ha ha ha” kamu tertipu, dan aku terbebas dari apa yang kamu lakukan.(hlm 293)

Menurut anggapan saya, hanya dengan pertolongan Tuhan kita dapat menghindari dari segala macam bujukan dan rayuan Iblis. Sebab, sepandai apapun seseorang dalam hal ilmu agama masih mudah ditaklukan oleh Iblis. Jadi, tidak ada jaminan bagi mereka para ulama dan kiai yang dianggap paham agama selamat dari godaan Iblis. Dengan demikian, memohon pertolongan Tuhan dalam setiap saat patut dilakukan. Bukankah, Tuhan akan bermurah hati melindungi dan mengasihi manusia jika mau mendekatinya? 

Sebagai kelebihan dari buku ini, yakni kumpulan ceritanya yang akurat tidak sembarang bercerita. Kisah-kisah yang di angkat buku ini juga tertera rujukan yang jelas sumbernya. Sehingga Anda dapat menelusuri lebih lanjut. Penulis juga menambahkan tentang kisah soal moral, ibadah, dan ihkwal alam gaib. Tak pelak, buku ini patut untuk di baca khususnya para Dai, orangtua, dan anak-anak.)

Oleh Ahmad Faozan, penikmat buku, tinggal di Yogyakarta

Selasa, 30 Oktober 2012

"Mendamaikam Pikiran" Kunci Meraih Kebahagiaan


Judul: Happiness Inside
Penulis:  Gobind Vashdev
Penerbit:Naura Books                              
Tahun: 1, Juli  2012
Tebal: 2 halaman
Harga: Rp.45.000
ISBN: 978-602-9498-64-6

“Kehidupan sesungguhnya hanya pemberhentian sementara untuk meminum teh. Dengan meminum teh, kehidupan terasa menjadi sebuah keindahan yang dilakukan secara berlahan-lahan dengan penuh syukur”.(Filsuf orang Jawa)
 
Kehidupan adalah sebuah proses yang terus-menerus berjalan. Dalam sebuah proses sudah pasti banyak hal yang dirasakan oleh setiap manusia. Seperti, susah, senang, galau, dll.  Indahnya kehidupan bukan terlihat dari mata yang memandang, telinga yang mendengar atau lidah yang mengecap, tetapi terdapat pada arti yang kita letakan pada setiap momen kejadian hidup. Untuk itulah, memetik makna dalam setiap kejadian penting dilakukan. Sehingga, seseorang dapat merasakan kenikmatan hidup.

 Ironisnya, banyak orang rela mengorbankan kedamaian pikirannya untuk memperoleh kenikmatan hidup. Padahal segala kesenangan, kesedihan, kedamaian, dan kecemasan sangat dipengauhi oleh pikiran kita. Dengan berjuang mengumpulkan banyak materi untuk membekali kehidupan tidak menjamin kehidupan seseorang akan bahagia.  Sebenarnya, semua impian manusia berujung pada satu hal yang benar-benar dasar yang setiap orang inginkan, yaitu kedamaian pikiran.

Sesungguhnya, melalui kedamaian pikiran inilah apa yang di impikan oleh seseorang mudah diraih termasuk kebahagiaan hidup. Bukankah, hidup tidak pernah menuntut, sejatinya hanya kitalah yang menuntut diri kita untuk menjadi dan memperoleh sesuatu dari kehidupan iu sendiri?

 Gobind Vasdhev dalam buku berjudul Happiness Inside ini, mencoba membantu menjernihkan kehidupan yang sedang Anda jalani. Setidaknya, ada tiga bab utama pada buku ini yakni, Mencari Kebahagiaan, Menggali Kebahagiaan, dan Menemukan Kebahagiaan. Menurutnya, saat ini banyak orang yang menjalani kehidupan seperti sebuah perlombaan akbar. Dan barangsiapa yang mengumpulkan lebih banyak hal terutama dalam hal materi, itulah yang menjadi pemenangnya. Ironisnya, banyak diantara mereka yang gagal dalam memperleh materi maupun spiritual. Bukankah, hidup bukan semua perlombaan?

 Ditengah pesatnya kemajuan dunia tekhnologi dan informasi seperti saat ini, begitu banyak orang  yang menjalani kehidupan seperti layaknya robot. Perubahan hidup yang serba cepat menuntut seseorang menjadi budak kehidupan. Konon, siapa yang tak seperti itu akan tertindas dan tergilas oleh kehidupan itu sendiri. Penting sekiranya membuat kehidupan yang kita jalani menjadi nikmat dan penuh kedamaian lahir maupun bathin.  Walaupun, toh  kita sering mendengar, membaca, dan ikut dalam berbagai pelatihan nampak semuanya indah, tetapi hanya dapat di jalankan dalam tataran filosofis.

Kesemuanya itu, dari apa yang kita dapatkan dari buku ataupun seminar tidak hanya susah tetapi memang tidak mungkin diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Disini, diri kita bukan untuk mencari cari apa yang seharusnya dilakukan, namun melakukan pembenaran-pembenaran akan berbagai kelemahan yang dimiliki diri kita. Sedangkan dalam tataran praktis sehari-hari apalagi khususnya dalam kehidupan bermasyarakat  semua baru terasa susah untuk di aplikasikannya. Ingatlah, saat kemampuan kita kecil masalah akan terlihat sangat besar dan begitu kemampuan kita besar maka masalah-masalah besar dalam kehidupan menjadi pernak-pernik kecil yang membuat kehidupan tampak berkilau.(halaman 15)

Sebenarnya, bukan masalah yang mengubah seseorang, tetapi orang tersebut yang mengubah dirinya sendiri dengan mengambil pelajaan dari setaip permasalahan. Jika sulit bagi seseorang untuk berpikir positif itu tidak lain karena pohon”positif” dalam pikiran seseorang jarang diberi makan, ketika perasaan iri dengki lebih dominan dalam diri, itu bukan karena masalah di luar atau orang lain yang menyebabkannya. Nah, disinilah peran seseorang untuk memupuk kesuburan pohon”positif” dalam diri.(halaman 9)

 Buku ini semakin menarik dibaca. Pasalnya, penulis mampu mereduksi kehidupan yang keras menjadi sedemikian halus lewat tulisan.  Dan secara khusus, buku ini juga memiliki kelebihan yang lebih jika dibandingkan dengan buku-buku lainnya, yakni buku ini terbuat langsung dari kertas pohon. Sebagai perwujudan tanda terimakasih penulis kepada alam yang sangat baik. Temukan dan dapatkan kunci kebahagian Anda lewat buku ini. Selamat membaca!

 Oleh Ahmad Faozan, penikmat buku, tinggal di Yogyakarta.