Kamis, 12 Juni 2014

Menjadi Hamba Sejati

Judul Buku: Enslikopedia Akhlak Muslim: Berakhlak terhadap Sang Pencipta
Penulis: Wahbah Az Zuhaili
Penerbit: Naura Books
Cetakan: 1 Desember 2013
Tebal: 607 halaman
Harga: 129 000



Islam sebagai agama memperkenalkan ajaran budi pakerti yang luhur utamanya mengenai masalah pendidikan etika. Baik etika seorang hamba kepada Tuhan, sesama hamba, dan alam. Hubungan manusia dengan dirinya bertujuan untuk melatih dan membina diri sendiri sehingga mencapai puncak kesempurnaan jiwa dan etika. Hubungan dengan Tuhan bertujuan mengembangkan dan memperkuat rasa keimanan serta sikap tawakal kepada Tuhan. Selanjutnya adalah manusia dengan masyarakat yang bertujuan menciptakan masyarakat ideal dan melindungi segala campur orang lain.

Buku karya ulama besar, Wahbah Az Zuhaili ini, merupakan pedoman etika bagi seorang hamba terhadap Tuhannya. Dengan menjaga hubungan baik dengan Tuhan akan berdampak positif terhadap segala urusan yang hendak di capainya. Manusia sebagai seorang hamba berkewajiban untuk menampilkan kualitas terbaiknya dalam memberikan penghormatan kepada Sang Tuhan. Mengingat, Tuhan Yang Maha Suci tidak sudi terhadap setiap perbuatan manusia yang dikerjakan dengan dipenuhi kemunafikan, riya, pencitraan, berbangga diri, dan sombong.

Ketidakmampuan seseorang dalam menghadirkan Tuhan dalam diri membuat seseorang mudah menuruti hawa nafsunya. Sudah tentu, jika seseorang sudah dikuasai nafsu akan tak sadar mengerjakan perbuatan tercela seperti korupsi. Walaupun toh sudah di sumpah dengan kitab suci seperti Al-Qur’an tetap saja tak mengurangi sedikit pun untuk tidak berkorupsi. Realitas tersebut benar-benar terjadi dalam sebuah negara berpenduduk bermayoritaskan Islam, Indonesia. Tentu saja menjadi suatu pemandangan yang tak sedap bukan?

Padahal para pejabat negara kita sudah mendapatkan gaji dan fasilitas kehidupannya yang sempurna. Bila dibandingkan dengan rakyat biasa tiada tara. Mengapa mereka masih saja berkorupsi? Bukankah, seorang pejabat negara di negara religius seperti Indonesia mejadi teladan dalam kebaikan, dan jangan sampai menjadi contoh buruk dalam kebatilan dan kemungkaran. Ketidakhadiran Tuhan dalam diri seseorang menghamba kepada hawa nafsunya. Akhirnya, korupsi dan tak amanah menghidap. 

Seharusnya bilamana dibarengi dengan niat ketulusan dan tanggungjawab juga akan mendapat pahala Tuhan. Bahkan, akan dijaga dari segala godaan seperti korupsi dan pemalsuan. Sesungguhnya ajaran agama dapat menjadi rem bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya dimanapun dan kapanpun. Dengan demikian, segala perbuatan yang menjurus pada larangan Tuhan dapat dijauhinya. Sebuah kesempatan, kesehatan, dan limpahan nikmat dimanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Bukankah, sudah menjadi kodrat seorang Muslim untuk senantiasa bergegas melaksanakan atau bergegas menuju jalan kebaikan?

Tak pelak, Agama tak lagi menjadi penyejuk bagi pemeluknya. Padahal melalui instusi agama menjadi petunjuk bagi seseorang dalam kehidupannya. Kembali kepada ajaran agama membawa dampak positif bagi kehidupan seseorang. Baik dalam mensikapi berbagai persoalan maupun menjalani kehidupan. Hilangnya kontak batin seorang hamba dengan Sang Pencipta menimbulkan banyak dampak yang cukup dahsyat.

Sulit menemukan seseorang yang benar-benar melandaskan niat ikhlas dan semata mengharap Ridha Tuhan dalam mengerjakan suatu pekerjaan.  Hanya sedikit orang yang mampu melakukannya. Padahal hal tersebut harus dilakukan oleh setiap abdi Tuhan. Sehingga, apa yang dikerjakannya menjadi berkah. Bahkan, terhindar dari segala nafsu yang pada akhirnya menjerumuskannya dalam keterpurukan. 

Selain ajakan untuk berbuat ikhlas dalam segala perbuatan baik. Wahbah Zuhaili, penulis buku ini juga mengajak kepada kita untuk berjihad melawan hawa nafsu. Menurutnya, manusia memiliki kecenderungan untuk santai dan malas, enggan untuk segera berbuat kebajikan, sering dikuasai sifat kikir, segan berbuat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Kendati demikian, sifat demikian seseorang tak boleh memeliharanya. Selain akan menjadi kebiasaan buruk juga menumbuhkan karakter yang negatif. Jihad melawan hawa nafsu inilah yang penting dilakukan. Dengan berjihad akan membantu membawa seseorang taat dan selalu ingat Tuhannya. Sehingga akan membantu menyelematkan manusia pada kesesatan. (halaman 55)

Nasihat pakar Fiqh, lulusan Al Azhar ini, menemukan relevansinya dalam hal ini. Buku yang merujuk pada kitab Riyadu Shalihin ini, sudah tidak diragukan lagi kandungan isinya. Pada setiap pembahasan didahului pengantar ringkas, diikuti ayat-ayat yang relevan serta hadis-hadis sahih yang sesuai pembahasan. Jadi, layak untuk dijadikan refrensi utama dalam membangun hubungan dengan Sang Pencipta. Selamat membaca!


Diresensi Ahmad Faozan, Pengelola Sanggar Kepoedang, Komunitas Penulis Muda Tebuireng, tinggal di PP Tebuireng Jombang Jawa Timur.

Sabtu, 10 Mei 2014

Potret Kekerasan Budaya Pasca 1965

Judul Buku: Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti Komunisme Melalui Sastra dan Film
Penulis: Wijaya Herlambang
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan: 1 November 2013
Tebal: xii+ 334 halaman
Harga: Rp. 70.00
ISBAN: 978-979126026-8



Semasa Orde Baru menguasai panggung sejarah Indonesia. Beragam cara dilakukan guna melanggengkan kekuasaan. Tidak hanya itu, berbagai propaganda guna memanipulasi suatu kebenaran. Baik melalui jalur politik maupun kebudayaan. Diantara agen kebudayaan yang paling kental dengan selera Orde Baru, yakni pembuatan Film G30S/PKI. Yang digunakan sebagai senjata paling ampuh untuk mengelabuhi rakyat Indonesia.

Lewat film tersebut kesucian dari nilai kebudayaan sangat ternodai. Pasalnya mengaburkan nilai-nilai kebenaran. Dalam film tersebut hanya melukiskan Soeharto sebagai tokoh terpenting dalam proses berdirinya bangsa Indonesia semasa Revolusi. Mengutip Graeme Turner, bahwa film tidak dapat lagi dianggap sebagai karya seni melainkan sebagai medium praktik sosial dimana ideologi dan praktik kebudyaan beriteraksi..

Pemerintah Orde Baru dan para agen kebudayaan, termasuk para penulis liberal pro-Barat, memperluas upaya dan sumber-sumber kekuatan mereka untuk meligitimasi pembangunan rezim fasis-kapitalistik diatas darah kaum komunis. Melalui produk-produk budaya seperti ideologi negara(pancasila), museum, monumen, hari-hari peringatan, penataran, buku-buku pegangan siswa dan terutama film dan karya sastra, muatan ideologis narasi utama di transformasikan ke dalam bentuk-bentuk seni.

Terbukti, jurus tersebut sangat jitu untuk menebarkan kebencian terhadap ideologi komunisme di kalangan masyarakat Indonesia hingga sekarang. Ideologi dan produksi kebudayaan, di masa sebelum maupun selama Orde Baru, telah berkontribusi besar dalam membentuk pandangan umum seluruh lapisan masyarakat Indonesia bahwa PKI, komunisme, dan praktik kebudayaan kiri seperti pendekatan yang dilakukan oleh Lekra adalah entitas iblis.

Dalam buku ini, Wijaya Herlambang, menguak agen-agen kebudayaan yang di ciptakan pemerintah Orde Baru. Misalnya, klaim kebenaran dalam Film dan novel penghianatan G30S PKI merupakan dokumen sosial yang dianggap kebenaran faktual dengan dalih sebuah upaya kreatif. Kemudian melalui berbagai program pemerintah seperti kurikulum pendidikan dan penatar Pancasila dan antikomunisme dijadikan landasan penting untuk menciptakan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi. Pada saat yang sama, praktik kebudayaan juga telah dibentuk dalam kerangka ideologis ini dimana gagasan kiri, yang menonjolkan komitmen politik di dalam berkesenian, di tolak.

Pada masa puncak ketegangan perang dingin 1950an dan 1960, kekuatan-kekuatan politik dan kebudayaan pro-Barat, dengan dukungan pemerintah AS, berupaya menciptakan medan pertempuran ideologis untuk menantang laju komunisme di Indonesia. Demi meraih simpatik pemerintah Indonesia, pemerintah AS bersikap bermurah hati. Misalnya, bantuan militer dan ekonomi, memperluas pengaruhnya dengan membantu aktivitas pendidikan’ antara Tahun 1951-1955 saja, sekitar 900 mahasiswa Indonesia dari berbagai disiplin menerima beasiswa pelatihan tekhnik di As’ dan kebudayaan melalui institusi-institusi filantropi dan kebudayaan untuk membangun aliansi antikomunisme dikalangan intelektual Indonesia. 

Buku ini semakin menarik, karena mampu membongkar misi politik dalam bungkusan kebudayaan. Dimana, pemerintah AS berhasil menyusup melalui institusi-instusi kebudayaan, filantrofi, dan pemerintahannya seperti CIA, yang sangat berperan dalam menginfiltrasi dan membentuk perkembangan politik dan kebudayaan di Indonesia sejak masa Revolusi 1945 hingga berdirinya Orde Baru menyusul penghancuran PKI1965-1966.” Penggunaan produk-produk kebudayaan sebagai instrumen propaganda, secara khusu terlihat pada masa pembentukan ideologi anti komunis baik di dalam domain kebudayan yaitu sendiri maupun di dalam politik, baik sebelum maupun sesudah 1965 terjadi”.(hal.45)

Pembentukan ideologi kebudayaan anti-komunis yang secara bersamaan dengan bangkitnya rezim orde baru pada 1965-1966, memainkan peranan besar dalam mendukung pandangan pemerintah terhadap komunisme. Situasi dan kondisi saat itu, dimana kebangkitan kekuataan nasionalis dan komunis di Asia pada akhir perang Dunia II telah memaksa AS untuk bersiaga memperluas pengaruhnya di negara-negara Asia termasuk Indonesia. Sukarno presiden pertama Indonesia yang kian dekat dengan blok komunisme membuat negara-negara Barat seperti AS geram dan sinis.

Dalam hal ini, setidaknya ada dua misi pemerintah AS di Indonesia. Pertama, kesadaran pemerintah AS tentang masalah kekayaan Indonesia yang berpengaruh pada kepentingannya(misalnya Indonesia saat itu berpotensi memproduksi 20 miliar barel minyak). Kedua, kewaspadaan pemerintah AS akan bangkitnya PKI sejak 1950 partai komunis terbesar di Asia di luar Cina.

 Liberalisme Kebudayaan

Pendeklrasian Manifest Kebudayaan pada Tahun 1963 merupakan bentuk nyata dari aktivis liberal yang melakukan perlawanan secara langsung terhadap kebudayaan kiri. Para penulis dan seniman anti komunis seperti H.B Jasin, Wiratmo Soekito, Goenawan Muhammad, Arif Budiman, dan Taufik Ismai secara tegas membela keyakinan mereka menentang anti komunis.   Mereka memetik inspirasi dari ide-ide CCF tentang kebebasan intelektual dan artistik yang secara efektif menyentuh titik saraf doktrin kiri:politik sebagai pangllima. Menurutnya, kebudayaan hanya ada di dalam kebebasan. Merujuk kepada Deklrasi CCF “Manifestaso of Intellectual Liberty”, bahwa “Kami..berpendirian bahwa tidak ada ras, bangsa, kelas atau agama yang dapat mengklaim sebagai satu-satunya yang berhak untuk mewakili gagasan kebebsan, tidak juga berhak untuk menafikan kebebasan kelompok lain atau kredo atas nama cita-cita yang paling agung atau tujuan tertinggi.”(hal85)

Kampanye kebudayaan ini merupakan bagian dari agresi simbolik yang digunakan untuk menyerang, bukan terhadap bentuk fisik dari produksi kebudayaan kiri, namun terhadap pengertian atas ide-ide dibelakang pendekatan kebudayaan kiri yang dianggap oleh lawan-lawannya sebagai bahaya untuk kehidupan kebudyaan secara demokratis. Pada titik inlah gagasan kebebesan berekspresi menjadi konsep mujarab untuk melawan kecenderungan totalirianisme pemerintahan Soekarno dan partai pendukunganya, yakni partai PKI(dengan LEKRA sebagai sayap kebudyaan) dan PNI(dengan LKN sebagai sayap kebudayaan). Ideologi tersebut digunakan sebagai slogan dan rumusan untuk menghujat, menghantam, menjatuhkan, ide-ide kebudayaan kiri, dengan berpihak kepada ide-ide Barat tentang liberalisme dan demokrasi.

Buku setebal 334 halaman ini membantu kita memotretmengenai pembangunan politik dan kebudayaan, baik sebelum maupun setelah peristiwa 30 September 1965 yang menunjukan bahwa hal itu merupakan hasil pergulatan panjang di era Perang Dingin. Elemen-elemen sayap kanan seperti kaum intelektual, politisi, ekonom dan angkatan Darat pro-Barat melakukan konsolidasi dan agresi politik serta kebudayaan, politik dan ekonomi yang berorientasi pada Barat, para intelektual Indonesia pro-Barat telah memanipulasi gagasa”kebebasan berekspresi” dan”demokrasi” dengan cara mencitrakan komunisme sebagai gerakan politik dan kebudayaan upaling berbahaya yang mengancam demokrasi.


Diresensi Ahmad Faozan, Pengelola Sanggar Kepoedang(Komunitas Penulis Muda Tebuireng), tinggal di PP Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Menziarahi Peradaban Tebuireng Tempo Doeloe

Dimuat Koran Duta Masyarakat 11 Mei 2014

Judul buku      : Guru Sejati Hasyim Asy’ari: Pendiri Pesantren  yang mengaklhiri era kejayaan Kebo Ireng dan Kebo Kicak
Penulis               : Masyamsul Huda
Tahun Terbit   : 1 Maret 2014
Penerbit            : Pustaka Inspira
Tebal                    : 267 halaman
Harga                  : RP. 50.000


 Novel  ini, mencoba menguraikan mengenai sejarah pra Tebuireng. Lewat hasil penelitiannya, Masyamsul, penulis mencoba menepis pemahaman lama mengenai asal usul Tebuireng yang sebelumnya diambil dari nama hewan kerbau yang masuk kubangan di perkebunan tebu, dimana didalamnya penuh lintah. Menurutnya, nama Kebo Ireng diadopsi dari simbol kebrobokan masyarakat. Yang ditinjau dari agama Islam kotor dan menjijikan. Pasalnya kebiasaan masyarakat Jahiliah, yakni, Mabok, Madon, Berjudi melekat kuat dikalangan masyarakat.

Surontanu seorang Kiai kampung dan santri-santrinya dari pesantren Sumoyono yang notabene wilayahnya berdekatan, tak bisa membiarkan segala kemaksiatan didaerah sekitar Pabrik. Sejak awal sudah aktif menolak pembangunan Pabrik. Semakin geram semenjak berdirinya pabarik gula dan wilayah sekitarnya diracuni hal-hal negatif.”Kerajaan Kebo Kicak telah merusak akidah dan mental masyarakat yang dampaknya semakin meluas.”(halaman 117) 

Joko Tulus mantan santri Surontanu yang semula santri juga jago silat memilih jalan sesat. Matanya dibutakan oleh kemewahan dan kesenangan duniawi. Akhirnya, masyarakat yang jijik melihat ulah bejatnya menjulukinya Kebo Kicak.  Ia dikendalikan oleh Wiro alias Joko Rumpun, seorang Dalang masyhur dan Joyo Rumpun. Sedangkan Sang Dalang sangat menuruti Sartini. Seorang penari terkenal. Karena acapkali membawa perempuan-perempuan muda yang dibawa dari berbagai daerah untuk dijual dilkoasi Kebo Ireng. 

Kebo Kicak, panggilan akrab Joko Tulus menjadi raja kecil di Kebo Ireng, amat tersohor dikalangan masyarakat. Ia tak pernah tersentuh oleh hukum Belanda. Ia direkrut oleh Belanda untuk menjadi kepala keamanan. Surantanu dan santri-santrinya merasa tertantang dengan ulah Joko Tulus dkk dikawasan Kebo Ireng. Perang antar pendekar silat pun ditabuh. Wilayah Kebo Ireng di grebeg oleh Surontanu dan santri-santrinya. Hukum. Dengan dalih melalukan tindak kekerasan, Pemerintah Belanda lantas menangkapi para santri pesantren Sumoyono. 

Sang Kiainya berhasil kabur begitupun Joko Tulus, alias Kebo Kicak melarikan diri melihat tak kuas dengan kesaktian Surontanu.  Kebo Kicak, Wiro, dan Joyo Rumpun yang sejak awal di cetak oleh pemerintah Belanda mampu menyingkirkan Surantanu dan santri-santrinya. Tak pelak, perjuangan menegakan kebenaran dan keadilan terhenti ditengah jalan. Belanda pun lantas memenangkan strategi politiknya. Ketiadaanya penentang seperti Surantanu membuat Belanda mampu menanamkan berbagai macam aksinya. 

Masyarakat yang masih awam pun mengadopsi budaya luar yang jauh dari nilai-nilai Islami.  Nah, inilah yang kemudian menggugah Hasyim Asy’ari, dari Keras berdakwah, mengubah peradaban gelap, jauh dari pancaran sinar agama menuju peradaban religius. Nama Tebuireng yang dipilihnya merupakan sebuah nama yang tepat.  Tebu yang paling baik jenisnya adalah tebu ireng, batang tebu yang berwarna hitam. Dari tebu jenis yang paling baik inilah kita berharap dan atas izin Allah akan menghasilkan gula yang paling bermutu dan bernilai jual tinggi.

Beliau bekerja sama dengan masyarakat sekitar menjalankan tugas sesuai jobdisnya. ”kita harus sepakat, mempunyai pemikiran dan tindakan yang sama agar peradaban gelap disini diubah menjadi peradaban yang berlandaskan etika moral sesuai ajaran Al Qur’an dan Sunnah yang di contohkan Rasulullah”(halaman 145) Ia pun kemudian dibantu dengan warga masyarakat Cukir yang sama-sama memiliki misi dan visi sama, yakni menegakan amar maruf nahi munkarKang Muridan membantu mengurus masalah operasional pembangunan pesantren. 

Sedangkan Dulhadi urusan pengorganisasian ke luar. Muridan, Amir, Amin, dan Saridin menyiapkan segala kebutuhan pesantren. Syakiban  yang membantu menemukan lokasi yang akan digunakan mendirikan bangunan. Setelah siap semuanya, tepat pada 5 Agustus 1889 Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren.  Strategi ‘mangan dan waras’ perlu digunakan untuk mengajak masyarakat ke jalan yang benar. Jika masalah ‘mangan dan waras’ sudah selesai masyarakat akan lebih mudah di didik dan diarahkan, seperti pemahaman agama. Tidak ada salahnya kita mencontoh metode yang baik. Yang penting bukan meniru akidahnya.(halaman 168)
Belanda pun semakin menaruh curiga kepada Hasyim Asy’ari, karena secara perlahan-lahan mampu menarik simpatik masyarakat luas. Berbagai cara dilakukan oleh Belanda termasuk ancama untuk membubarkan dakwahnya. Terbukti, ancaman tersebut sangat serius. Pasukan  Belanda mulai meneror, membakar pondok, dan menembaki siapa saja yang berusaha menghalangi. Meskipun berjuang dalam tekanan Belanda tak membuat Hasyim Asy’ari surut untuk berjuang tanpa kekerasan. Justeru membuatnya semakin disegani dan dikenal oleh kalangan luas. 

Menurut Hasyim Asy’ari, menyiarkan agama Islam artinya memperbaiki manusia. Jika manusia itu sudah baik, apa yang akan diperbaiki lagi dari padanya. Berjihad artinya menghadapi kesukaran dan memberikan pengorbanan”. “Kita tidak boleh surut akibat kejadian ini”(halaman 265)

Buku setebal 167 halaman ini, menawarkan pemahaman yang berbeda mengenai sejarah asal usul Tebuireng. Lewat buku ini pula kita dapat belajar akan perjuangan Sang Pendiri NU yang telah sukses mengubah peradaban masyarakat gelap menuju masyarakat Religius berbasiskan santri hingga sekarang ini. Selamat membaca!


Ahmad Faozan, Pengelola Sanggar Kepoedang, Komunitas Penulis Muda Tebuireng, tinggal di Jombang, Jatim.

Sabtu, 29 Maret 2014

Menjaga Wibawa Sastrawan



Judul buku      : PESAN AL-QURAN UNTUK SASTRAWAN: Esai-Esai Budaya dan Agama
Penulis               :  Aguk Irawan
Tahun Terbit   : 2013
Penerbit            :  Jalasutera Yogyakarta
Tebal                    : 434 halaman
Harga                  : RP68.000



Seorang Sastrawan memiliki keistimewaan dalam Islam. Mengingat dunia sastra di dataran Arab kala itu sangat digandrungi oleh masyarakat. Dimana kaum Arab saat itu menggantungkan karya-karya terbaik seperti puisi di dinding Ka'bah. Sebagai simbol kebesaran dan kebanggaan suku atau ras yang mengalir pada darah mereka. Bahkan, saat itu juga seorang sastrawan amat disegani, melebihi hartawan, agamawan, maupun filusuf.

Mengutip Muhammad bin Sulam al-Jumahi, pengamat sastra Arab, peran penyair semakin menjadi-jadi manakala kitab suci Al-Qur'an diturunkan kepada Muhammad. Al Qur'an yang mengandung nilai estetika yang luar biasa membuat para sastrawan kala itu berjuang menandinginya. Padahal Al Qur an sendiri merupakan kitab suci Mahakarya Tuhan, bukan sebuah kitab sastra.Setidaknya  kata penyair disebutkan secara khusus 10 kali dan 60 kali secara istimewa oleh Al Qur an.

Ironisnya, sekarang ini dunia sastra sedang digemparkan dengan sesuatu hal yang miring, yakni mengabaikan nilai-nilai etika. Aroma kebebasan dalam menciptakan karya lebih dikedepankan. Dari mulai perilaku sastrawan yang tak bermoral karena berbuat asusila dan liberalisme karya-karya sastra. Dimana karya sastra berisikan cerita-certi seksual, yang jauh dari nilai edukasi. Aguk Irawan, penulis buku ini mencoba menggugah kesadaran kaum sastrawan untuk mengedepankan nilai-nilai etika. Pasalnya dalam kitab suci Al Qur'an sudah banyak.

 Al Qur’ an sebagai kitab suci umat Islam, tidak menginginkan sebuah karya sastra seperti puisi hanya untuk menghayal ke lembah-lembah tanpa maksud kebaikan atau mengumbar hawa nafsu dan sejenisnya. Sudah selayaknya seorang sastrawan mementingkan ideologi(tentunya dengan tidak melupakan estetika ), bagaiamana karya sastra harus memberikan pencerahan, hikmah, kesadaran sosial dan kesadaran berbangsa, demi sebuah kebudayaan.

Teguran tersebut termaktub dalam Al Qur’ an. “Penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang sesar. Tidakah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mebgujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali bagi mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaab ketika didzalimi.”( Qs As Sy'ura, 224-227)

Kualitas karya sastra yang baik tidak hanya terlukiskan dalam sebuah pilihan kata-kata semata. Namun, juga menyiratkan pesan moral yang positif bagi pembacanya. Prasayarat tersebut yang sejatinya diperhatikan oleh para sastrawan. Sehingga, kesucian sastra dapat terjaga. Memang pada hakikatnya sastra adalah dunia rekaan. Ia frasa atau kalimat yang berbalutkan daya imajinatif dan estetis. Karena mengandung intensi, baik berupa pikiran, perasaan, pandangan, gagasan atau segenap pengalaman kejiwaan. 

Merujuk pendapatnya Profesor A. Teeuw, karya sastra tidaklah terlahir dari kehampaan budaya. Ia adalah sesuatu yang terkait antara tradisi, agama, dan filsafat ilmu sebagai cermin atas realitas sosial. Karya sastra bukan kerja lamunan belaka, melainkan juga penghayatan sastrawan terhadap kehidupan yang dilakukan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab sebagai sebuah karya seni.( halaman 52 )


Sekarang ini, karya satra banyak yang dibuat sedemikain pornonya. Dengan dalil kebebasan mewujudkan ekspresi kebebasan berkarya.  Misalnya, berbau seksual sekarang ini melimpah ruah.  Misalnya karya sastrawan perempuan seperti,  Oka Rusmini, Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, Clara Ng, Dinar Rahayu, Nova Riyanti dan Herlinaties. Seks yang semula tabu dibicarakan mengemuka dalam bentuk-bentuk sastra menjadi suatu hal yang biasa saja. Karya sastra tersebut di populerkan sebagai bagaian dari bentuk perjuangan sastra perempuan yang selama ini terpinggirkan. Walaupun toh cara demikian sah-sah saja, namun tidak mengedepankan etika.Jika terus memunculkan karya sastra yang telanjang dan vulgar, jelas berpengaruh meliarkan syahwat masyarakat dan tentu berdampak negatif.


Buku karya Aguk Irawan ini, merupakan sebuah kumpulan tulisan yang sudah lama mendekam di sebuah folder. Penulis kemudian, membumbuinya kembali dan dijadikan buku. Terlepas dari kekurangan buku ini, yakni masih sebatas tulisan reflektif. Sebagai buku kumpulan tulisan ini belum mencerminkan sebuah karya yang utuh. Akan lebih menarik, jika penulis menghadirkan pesan suci ini, yang diambil dari kitab suci semua agama. Kendati demikian, buku setebal 430 halaman ini amatlah penting. Ajakan menggugah kesadaran para sastrawan untuk tidak seenaknya sendiri dalam menciptakan sebuah karya sastra patut diapresiasi. 

 Sebagaimana dikatakan oleh Radhar Panca Dharama, sastrawan seharusnya dapat mengambil posisi untuk juga berpesan meluaskan pemahaman manusia, karena dalam hal-hal tertentu ia juga menyimpan'kebenaran ' dalam isi dan bentuknya, sebagai penyeimbang, dan sebagai solusi alternatif acuan-acuan budaya modern yang terasa kian tak mencukupi.

Ahmad Faozan, Pendiri Sanggar Kepoedang(Komunitas Penulis Muda Tebuireng), tinggal di PP Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Minggu, 16 Februari 2014

Potret Perebutan Ruang Kota di Surabaya


Judul buku      : Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960an
Penulis               : Purnawan Basundoro
Tahun Terbit   : 2013
Penerbit            : Marjin Kiri
Tebal                    : 337 halaman
Harga                  : RP. 69.000
ISBN               : 978-979-1260-22-0



 Buku ini mencoba memotret persitiwa perebutan tata ruang kota  antara tahun 1900-1960. Kota Surabaya yang notabene salah satu kota terbesar di Indonesia sekaligus pernah menggeser Batavia, ibukota Hindia Belanda menjadi  bahan objek penelitian. Pada masa kolonial 1906 Surabaya digunakan untuk tiga kategori, yakni administratif,  yaitu keresidenan, kabubaten , dan distrik. Keresidenan Surabaya terletak di ujung Timur Surabaya, menghadap ke laut Jawa dan selat Madura. Sebelah barat berbatasan dengan keresidenan Kediri dan keresidenan Rembang, dan selatan berbatasan dengan Pasuruan. Keresidenan ini membawahi enam kabupaten, yakni Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Lamongan, dan Gresik.

Perlu diketahui bahwa konflik kepentingan mengenai tata ruang hampir terjadi di  kota-kota Besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya. Pengosongan  lahan dengan cara penggusuran rumah-rumah warga yang menempati tanah negara dan partekelir sudah sering dilakukan oleh Satpol PP namun hingga kini tak jua menyelesaikan permasalahan. Surabaya memiliki akar sejarah panjang mengenai persoalan tata ruang.  Sekumpulan manusia dari  mulai percampuran antara orang-orang Bumiputra(orang jawa, Madura, Sumatera, Sulawesi, Ambon, Sasak, dll), para pendatang dari Eropa, Arab, Cina, dan Timur Asing menghuni kota Surabaya.  

Tentu saja, hingga kini jumlah penduduknya semakin berkembang pesat.  Pada tahun 1900 saja jumlah penduduk di Keresidenan Surabaya mencapai  2.360.909 orang. Jumlah tersebut terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu.  Tak pelak, ruang kota pun semakin padat dan tak tersisa. Tak sedikit diantara rakyat miskin harus bertempat tinggal di hunian yang bukan selayaknya. Penduduk yang tidak mendapatkan tempat di ruang privat akhirnya terdesak ke ruang publik.” Semestinya ruang publik di peruntukan untuk masyarakat yang bersifat temporer, akhirnya banyak digunakan untuk kepentingan masyarakat yang bersifat permanen.”(hal. 199)

Lahirnya orang-orang miskin dan terbatasnya ruang kota menjadi problem baru yang rumit yang menyangkut ruang untuk hidup bagi mereka.  Konsep gagasan ruang kota yang di cetuskan oleh ahli sosial untuk mengklaim bidang-bidang tanah di perkotaan. Bagi mereka yang memiliki uang lebih dapat memperoleh tempat tinggal yang layak. Sebaliknya, bagi mereka yang miskin harus hidup dan tinggal tempat-tempat yang sejatinya bukan diperuntukan  untuk dibangun dan didirikan.  Misalnya,  kolong  jembatan, dan pinggiran kali. Bahkan juga kuburan. Ketika ruang kota menjadi amat mahal, berbagai hal tabu seperti kesakralan pemakaman menjadi rontok dengan sendirinya. Makam bisa menjadi ruang profan dan menjadi kawasan tinggal dan batu nisannya menjadi pondasi.

Masalah tersebut bermula sejak liberalisasi ekonomi mengejala di berbagai perkotaan. Liberalisasi ekonomi pasca di UU Agaria dan UU Gula pada tahun 1870 telah meningkatkan perdagangan dan industri, memperluas administrasi sipil, dan mengakibatkan kenaikan cepat jumlah penduduk di perkotaan di Jawa.  Dalam kasus  perebutan ruang kota, Ramlan Surbakti membagi beberapa pola. Pertama, pemertintah kota dengan warga yang timbul karena perubahan peruntukan tanah yang tidak transparan.

Kedua, pemerintah kota dengan perusahaan swasta akibat tindakn menyerobot tanah miliki pemerintah kota. Ketiga, pemerintah kota dengan warga karena pembangunan fasilitas umum. Keempat, warga dengan pengembang berkaitan dengan pembangunan fasilitas umum di pemukiman. Persaingan untuk mendapatkan ruang kota melibatkan semua unsur utamanya mereka yang berkepentingan atas ruang tersebut. ”Penambahan pemukiman-pemukiman miskin di kota Surabaya terjadi karena kenaikan jumlah penduduk”(hal.15)

Selama tahun 1900-1960 an masyarakat Bumiputera di Surabaya melakukan perlawanan. Demi untuk mendapatkan tanah mereka.  Pertama, ketika para tuan tanah menghendaki para penghuni tanah partikelir meninggalkan tempat bermukim. Kedua, perlawanan dalam bentuk perluasan tempat tinggal secara merangkak dan perlahan. Jika pada masa kolonial negara berkolusi dengan kekuatan modala, maka pada awal kemerdekaan negara berperan sebagai pemain tunggal karena kekuatan modal belum bangkitt akibat keterputusan sejarah pada periode Jepang.   

Menurut Purnawan Basundoro, penulis buku ini, secara faktual bahwa perebutan ruang di kota Surabaya yang terjadi antara tahun 1900-1960 an dibagi menjadi dua macam. Pertama, periode bertahan(defensive period) bagi rakyat miskin. Yaitu peride yang berlangsung menjelang periode Jepang. Kedua periode menyerang(Offensive period) bagi rakyat miskin, yang dimulai sejak awal kemerdekaaan sampai 1960 an.  

Kajian sejarah ini, penting untuk dijadikan rujukan. Sekiranya, kedepan persoalan ini menjadi kajian yang serius bagi pemerintah kota. Sehingga, persoalaan tata ruang kota tidak kembali terjadi. Bukan mustahil, jika konflik-konflik di perkotaan yang disebabkan oleh perebutan ruang berpotensi untuk terus membesar, jika tidak ada upaya pencegahan yang lebih serius.

Diresensi Ahmad Faozan, Pendiri Sanggar Kepoedang(Komunitas Penulis Muda Tebuireng), tinggal di PP Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.



Minggu, 02 Februari 2014

Gus Dur sebagai Laboratorium Kemanusiaan

Judul Buku:Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita: Kenangan, Wawancara Imajiner dan Guyonan Gus Durian
Penulis: As Hikam
Penerbit: Yrama Widya
Cetakan:  2013
Tebal:  312halaman
Harga   : RP. 50.000
ISBN   : 978-602-277-117-3



Gus Dur merupakan salah satu diantara sekian guru bangsa yang tak pernah surut di perbincangkan. Bahkan, sekarang ini, beliau bak laboratorium kemanusiaan. Yang mengundang seseorang untuk meneliti dan menulisnya. Seorang tokoh yang memiliki banyak predikat seperti humaris dan humanis tak cukup hanya di teliti dan dibaca dari satu aspek semata. Kita semua yang sempat menjadi saksi sejarah hidup beliau mengetahui bahwa seluruh hidup Gus Dur didesikasikan untuk perjuangan kemanusiaan.

Sosoknya yang humoris dan bersahabat kepada siapa saja. Pengikutnya yang berbasis di masyarakat bawah sangat setia kepadanya. Sikap dan perlakuan Gus Dur yang baik menjadikannya dapat diterima oleh semua kalangan. Dari mulai agamawan, rakyat kecil, tekhnokrat, ilmuan, dan wartawan. Bahkan, pasca kepergiannya ke alam barzah orang yang datang berduyun-duyun mendoakannya tiada henti saban harinya. Menjadi sebuah bukti bahwa ia mendapatakan penghormatan yang tinggi utamanya bagi masyarakat bawah bukan?

 Buku ini, merupakan kisah kenangan hidup As Hikam bersama Gus Dur. As Hikam, seorang mitra kerja Gus Dur di rezim pemerintahannya, yakni menjadi Menristeknya. Menurutnya, Gus Dur berposisi tidak saja sebagai presiden semata, namun juga sebagai orangtua dan guru dalam kehidupannya. Diantara pengalaman yang berharga, misal kisah saat bercanda mengenai masalah izin penggunaan nama Gus Dur untuk menjadi nama institusi perguruan tinggi. Kala itu, ia duduk bersama Gus Dur, Ghofar, dan jamaah NU.  “Gus, nanti nama panjenengan boleh enggak untuk nama sekolah atau universitas?”

Jawab GD. Ah, nama saya paling untuk TK saja.. sembari tertawa”. Kenapa Gus,? Si orang ini bertanya lagi.”tanya aja ke pak Ghofar(Rahman) ini..Dia kan Ketua PP Maarif NU. Kata Gus Dur dengan senyam-senyum”. Hehehe..” kata pak Ghofar sebelum melanjutkan.  Kata Gus Dur, kalau nama universitas, itu sudah jadi milik Mbah Hasyim, makanya ada UNHAS(Universitas Hasyim Asy’ari), seperti yang di jombang itu. Kalau untuk SMA dan Aliyah sudah menjadi milik Kiyai Wahid Hasyim(makanya banyak SMA Wahid Hasyim), kalau SMP dan Tsanawiyah pakai nama Mbah Bisri atau Mualimat Wahab Hasbullah). 

Kalau pak Ud nanti wafat, paman GD dipakai untuk nama SD, kan GD kebagian TK, TK Abduramhan Wahid, hehehe.”(Semua orang tertawa ngakak). GD lalu menyambung, kasihan nama-nama beliau yang begitu besar kita pasang universitasnya ternyata Cuma untuk tombo pengen saja, alias UTP. Semestinya kalau membawa nama besar, harus mutunya sama besarnya.” NU Tidak penting menciptakan banyak sekolah atau universitas, selama belum menunjukan kualitas.  (hal. 29)

Bagi As Hikam, Gus Dur banyak mengajarkan dan mendorong supaya dirinya memiliki  pengalaman dan pengetahuan luas dalam kehidupan. Sebagaimana dukungannya, yakni keikutsertaannya mengikuti pelatihan yang dilakukan sahabatnya. Alkisah, pada suatu kesempatan, ia pernah mengikuti pelatihan di Ashram Ajarn Sulak Sivakarsa (tokoh LSM yang bergerak dalam masalah advokasi dan pemberdayaan masyarakat miskin, kebebasan berpolitik dan perlindungan HAM, di Thailand) yang notabene juga seorang sahabat GD. Sebelum berangkat, ia menghadap GD untuk meminta izin terlebih dahulu. GD pun merestuinya, “datang saja kang biar kamu mendapatkan pengalaman dan pengetahuan”. Sesampainya di India, ia tinggal di Ashram Budhis selama 7 hari. 

Tempat kegiatan yang diselenggarakan penuh sederhana, dimana ia harus bermandikan air hujan yang ditampung dalam gentong dikamar mandi, dan makan nasi sayur(vegetarian), dan tidurnya penuh gangguan nyamuk selama seminggu. Merasa tak diberitahu sejak awal oleh GD bahwa kegiatan tersebut sangat menyusahkan para peserta, sempat memunculkan rasa kejengkelan di dalam diri Hikam. Walaupun begitu, ia segera sadar bahwa pelatihan tersebut penting baginya. Ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, yakni konsep hidup sederhana. Hidup sederhana justeru menjadi senjata ampuh untuk melawan budaya konsumurisme.  “yang penting kamu lulus, karena tidak semua orang yang baru dan sudah lama tinggal di Barta, tahan tinggal di Ajran Sulak”(hal. 87)

Apresiasi patut kita haturkan kepada As Hikam, yang telah membagikan kisah bersama Gus Dur dalam bentuk buku. Dan tentu menjadi sesuatu yang berharga utamanya bagi GusDurian.  Buku setebal 312 halaman ini, menjadi sarana mengobati kerinduan kita akan Gus Dur. Semoga kita dapat meneladani dan memperjuangkan warisan agungnya. Baik dalam wilayah pemikiran maupun perjuangan sosialnya, membela kaum tertindas dan wong cilik.  Selamat Membaca!


Oleh Ahmad Faozan, Pengelola Sanggar Kepoedang, Komunitas Penulis Muda Tebuireng, tinggal di Jombang, Jatim. 

Dari NU untuk NKRI

Judul buku      : Agama NU untuk NKRI
Penulis               : Ahmad Baso
Tahun Terbit   : 1 Oktober 2013
Penerbit            :  Putaka Afid Jakarta
Tebal                    : 325 halaman
Harga                  : 45.000




Nu merupakan salah satu organisasi keagamaan yang baru saja menginjak usia ke 80 tahun. Usia yang cukup matang bagi sebuah organisasi keagamaan terbesar di tanah air bahkan se Asia Tenggara. Dalam panggung sejarah Indonesia, Jamiiyah Nahdlatul ulama(NU) juga tercatat memiliki sumbangsih besar bagi bangsa Indonesia. Didirikan oleh para ulama seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah pada 31 Januari 1926. Lewat NU para ulama memainkan perannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  ideologi NU sangat diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Sebagai ormas keagamaan yang memiliki basis pendukung di masyarakat bawah kini sudah melebarkan sayap jaringan organiasasi di seluruh penjuru benua. Menunjukan betapa NU kini semakin luas dan berkembang.

Buku Agama NU untuk NKRI ini, mengugah kesadaran bersama akan pentingnya konsistensi NU dalam berperan membangun masa depan bangsa Indonesia. Ahmad Baso, intelektual muda NU dalam hal ini, tak henti-hentinya menggali khazanah NU. Ia menawarkan pemikirannya, dari mulai agama NU dan masa depan NKRI, NU di era penjajahan Ekonomi Baru, dan Dinamisasi ide-ide modern untuk kepentingan orang-orang desa. Sebuah gagasan yang penting untuk merefleksikan kembali semangat juang para pengurus dan jamaah NU.

NKRI yang kini sedang dijanggit pelbagai persoalan seperti penyakit korupsi, kemiskinan, penjarahan kekayaan alam oleh perusahaan asing, dll. Membutuhkan solusi ampuh untuk menanggulangi semua itu. Dan mengelorakan semangat berjuang dikalangan NU. Sebagaimana perjuangan yang telah dilakukan para faundhing fathers dahulu. Terbukti tokoh-tokoh seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wahid Hasyim, Gus Dur, dan KH. Sahal Mahfud yang terklebih dahulu mengukir sejarah kesuksesan. Baik perjuangan lewat gerakan sosial, pemikiran, dan politik.

Mencuatnya aliran-aliran keagamaan di era kontemporer yang radikal dan fundamental sangat meresahkan kita semua. Nah, dalam konteks inilah peran NU amat dibutuhkan. Semestinya, masyarakat dapat hidup tenang dan damai. Semakin buruknya bangsa Indonesia juga ikut menjadi preseden buruk bagi citra NU. Pengurus NU harus dekat dan menyatu dengan masyarakatnya. Agar nantinya komunikasi soal-soal mereka hadapi dalam kehidupan di era penjajahan baru ekonomi bisa mudah disalurkan. (Hal. 49) 

Selain itu, NU juga memiliki kewajiban untuk terus mengawal NKRI dari berbagai ancaman kekuatan asing. Semakin masifnya perjuangan tokoh-tokoh NU menjadikan bangsa ini tersandera oleh negara-negara asing. Seperti dialami dari kalangan petani, yang di gempur habis-habisan oleh produk impor. Hasil buah-buahan, beras, kedelai, pun lantas membanjiri NKRI sekarang ini. Tak pelak, warga NU yang notabene dari kaum tani keteteran menghadapi kehidupannya. Padahal negara ini sangat subur dan melimpah kekayaan alamnya. Kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada masyarakat kecil hanya membuat bangsa ini istiqamah dalam penderitaan.

Aset-aset ekonomi strategis yang dimiliki NKRI telah dilepas ke pasar, lalu dimangsa pihak asing yang memiliki modal besar. Tak pelak, liberalisasi, swastanisasi, pencabutan subsid, hingga rezim neoliberal. Negara pun berlutut dibawah ketiak penguasa-penguasa ekonomi global seperti IMF. Sebagaimana penuturan Ahmad Baso dalam buku ini, bahwa di desa pesisir Gresik, basis peradaban Sunan Giri, seorang kepala desa menjual tepi lautan ke  investor asing. Demi untuk melancarkan investinya, ia mengajak kerja sama elit masyarakatnya.  Setelah kawasan itu di lego, barulah di urug tanah. Dan pihak investor pun sudah mengantongi surat resmi.

 Tak pelak, komunitas pesantren yang berada di situ pun terancam. Mengingat, tidak jauh dari wilayah tersebut sudah terdapat pengeboran minyak lepas pantai yang dikelola Amerika. Nah, inilah yang semestinya menggugah tokoh NU untuk berjuang menyelematakan bangsa  dan rakyat Indonesia dari orang-orang yang berkhianat terhadap NKRI.  KH. Wahid Hasyim, ayah Gus Dur pernah mengingatkan, kalau kita sebagai bangsa jangan seperti anak kecil; baru dikasih permen saja oleh bangsa asing senangnya luar biasa; padahal mereka lebih banyak mengambil dari bumi kita.( hal. 61)

 Nampaknya, kegelisahan intelektual muda, Ahmad Baso, dapat dibaca sebagai sebuah refleksi akan komitmennya membela dan mengawal NKRI. Dalam karya terbarunya ini, juga mengkritik orang-orang yang ada berada dilingkaran NU untuk sadarkan diri. Orang NU tidak boleh berpuas diri akan perjuangan sosial. Sebagaimana dalam kaidah fiqh, agama ini dibangun atas dasar kemaslahatan dalam penetapan syariatnya dan untuik menolak kerusakan. Buku ini kaya akan sumber data, namun masih miskin pengembangan lebih mendalam. Sungguh pun demikian, penting untuk dibaca utamanya bagi para kader muda NU. 


Diresensi oleh Ahmad Faozan, Pengelola Sanggar Kepoedang(Komunitas Penulis Muda Tebuireng), tinggal di PP Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.