Kamis, 12 Juni 2014

Menjadi Hamba Sejati

Judul Buku: Enslikopedia Akhlak Muslim: Berakhlak terhadap Sang Pencipta
Penulis: Wahbah Az Zuhaili
Penerbit: Naura Books
Cetakan: 1 Desember 2013
Tebal: 607 halaman
Harga: 129 000



Islam sebagai agama memperkenalkan ajaran budi pakerti yang luhur utamanya mengenai masalah pendidikan etika. Baik etika seorang hamba kepada Tuhan, sesama hamba, dan alam. Hubungan manusia dengan dirinya bertujuan untuk melatih dan membina diri sendiri sehingga mencapai puncak kesempurnaan jiwa dan etika. Hubungan dengan Tuhan bertujuan mengembangkan dan memperkuat rasa keimanan serta sikap tawakal kepada Tuhan. Selanjutnya adalah manusia dengan masyarakat yang bertujuan menciptakan masyarakat ideal dan melindungi segala campur orang lain.

Buku karya ulama besar, Wahbah Az Zuhaili ini, merupakan pedoman etika bagi seorang hamba terhadap Tuhannya. Dengan menjaga hubungan baik dengan Tuhan akan berdampak positif terhadap segala urusan yang hendak di capainya. Manusia sebagai seorang hamba berkewajiban untuk menampilkan kualitas terbaiknya dalam memberikan penghormatan kepada Sang Tuhan. Mengingat, Tuhan Yang Maha Suci tidak sudi terhadap setiap perbuatan manusia yang dikerjakan dengan dipenuhi kemunafikan, riya, pencitraan, berbangga diri, dan sombong.

Ketidakmampuan seseorang dalam menghadirkan Tuhan dalam diri membuat seseorang mudah menuruti hawa nafsunya. Sudah tentu, jika seseorang sudah dikuasai nafsu akan tak sadar mengerjakan perbuatan tercela seperti korupsi. Walaupun toh sudah di sumpah dengan kitab suci seperti Al-Qur’an tetap saja tak mengurangi sedikit pun untuk tidak berkorupsi. Realitas tersebut benar-benar terjadi dalam sebuah negara berpenduduk bermayoritaskan Islam, Indonesia. Tentu saja menjadi suatu pemandangan yang tak sedap bukan?

Padahal para pejabat negara kita sudah mendapatkan gaji dan fasilitas kehidupannya yang sempurna. Bila dibandingkan dengan rakyat biasa tiada tara. Mengapa mereka masih saja berkorupsi? Bukankah, seorang pejabat negara di negara religius seperti Indonesia mejadi teladan dalam kebaikan, dan jangan sampai menjadi contoh buruk dalam kebatilan dan kemungkaran. Ketidakhadiran Tuhan dalam diri seseorang menghamba kepada hawa nafsunya. Akhirnya, korupsi dan tak amanah menghidap. 

Seharusnya bilamana dibarengi dengan niat ketulusan dan tanggungjawab juga akan mendapat pahala Tuhan. Bahkan, akan dijaga dari segala godaan seperti korupsi dan pemalsuan. Sesungguhnya ajaran agama dapat menjadi rem bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya dimanapun dan kapanpun. Dengan demikian, segala perbuatan yang menjurus pada larangan Tuhan dapat dijauhinya. Sebuah kesempatan, kesehatan, dan limpahan nikmat dimanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Bukankah, sudah menjadi kodrat seorang Muslim untuk senantiasa bergegas melaksanakan atau bergegas menuju jalan kebaikan?

Tak pelak, Agama tak lagi menjadi penyejuk bagi pemeluknya. Padahal melalui instusi agama menjadi petunjuk bagi seseorang dalam kehidupannya. Kembali kepada ajaran agama membawa dampak positif bagi kehidupan seseorang. Baik dalam mensikapi berbagai persoalan maupun menjalani kehidupan. Hilangnya kontak batin seorang hamba dengan Sang Pencipta menimbulkan banyak dampak yang cukup dahsyat.

Sulit menemukan seseorang yang benar-benar melandaskan niat ikhlas dan semata mengharap Ridha Tuhan dalam mengerjakan suatu pekerjaan.  Hanya sedikit orang yang mampu melakukannya. Padahal hal tersebut harus dilakukan oleh setiap abdi Tuhan. Sehingga, apa yang dikerjakannya menjadi berkah. Bahkan, terhindar dari segala nafsu yang pada akhirnya menjerumuskannya dalam keterpurukan. 

Selain ajakan untuk berbuat ikhlas dalam segala perbuatan baik. Wahbah Zuhaili, penulis buku ini juga mengajak kepada kita untuk berjihad melawan hawa nafsu. Menurutnya, manusia memiliki kecenderungan untuk santai dan malas, enggan untuk segera berbuat kebajikan, sering dikuasai sifat kikir, segan berbuat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Kendati demikian, sifat demikian seseorang tak boleh memeliharanya. Selain akan menjadi kebiasaan buruk juga menumbuhkan karakter yang negatif. Jihad melawan hawa nafsu inilah yang penting dilakukan. Dengan berjihad akan membantu membawa seseorang taat dan selalu ingat Tuhannya. Sehingga akan membantu menyelematkan manusia pada kesesatan. (halaman 55)

Nasihat pakar Fiqh, lulusan Al Azhar ini, menemukan relevansinya dalam hal ini. Buku yang merujuk pada kitab Riyadu Shalihin ini, sudah tidak diragukan lagi kandungan isinya. Pada setiap pembahasan didahului pengantar ringkas, diikuti ayat-ayat yang relevan serta hadis-hadis sahih yang sesuai pembahasan. Jadi, layak untuk dijadikan refrensi utama dalam membangun hubungan dengan Sang Pencipta. Selamat membaca!


Diresensi Ahmad Faozan, Pengelola Sanggar Kepoedang, Komunitas Penulis Muda Tebuireng, tinggal di PP Tebuireng Jombang Jawa Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar