Dimuat di Analisisnews.com
Minggu, 23 Oktober 2011
Judul Buku : A Gift From A friend: Dari Sekolah ke Dunia Bisnis Perjalanan Wirausaha Saya
Penulis : Merry Riana dan Alva Tjenderasa
Penerbit : Gramedia Pustaka
Tahun : September 2011
Tebal : 255 halaman
Harga : Rp 68.000,--
Selama ini, begitu banyak orang mencoba memulai berwirausaha namun masih saja gagal. Apalagi, di tambah kondisi negeri “Indonesia” yang sulit untuk memasarkan produk. Karena kalah bersaing dengan negara-negara tetangga seperti, China. Tentunya, membuat seseorang harus memutar otak tujuh keliling guna mencari ide yang tepat dan berhasil dalam berwirausaha.
Lewat buku, A Gift From A friend: Dari Sekolah ke Dunia Bisnis dan Perjalanan Wirausaha Saya, karya Merry Riana menarik di baca. Penulis buku ini, hendak memberikan seputar pengalamannya di dunia bisnis kepada para pembaca. Merry merupakan salah seorang yang sukses di dunia wirausaha. Bahkan, ia menjadi satu-satunya wanita pertama menjadi miliander di Indonesia di usia muda.
Hanya dalam waktu empat tahun, ia sudah mampu mendapatkan penghasilan lebih dari 1 juta dolar melalui bisnisnya. Juga, telah meraih berbagai penghargaan bergengsi dalam industri keuangan seperti Star Club Presiden, Top Rokie manager, consultan of the year award, dan Agency Devloment Award. Tentunya, sangat luar biasa dan patut untuk di jadikan inspirasi bukan?
Merry terjun ke dunia wirausaha terbilang biasa-biasa saja. Bahkan, teman-temannya tak percaya mengenai ide berwirausaha. Setelah dia lulus, sebagian besar mereka, yang tidak begitu akrab dengannya, mengira Merry menjadi seorang pengusaha karena tidak mendapatkan lowongan pekerjaan yang tak baik.(hal,79) Padahal, berwirausaha sudah menjadi impiannya sejak lama. Ia, pun kemudian menjadi orang terkenal dan sukses di dunia yang diimpikannya.
Dalam hal ini, Merry menjelaskan tiga hal yang harus di miliki seorang entrepreuner. Pertama, memiliki masa depan yang tajam, untuk melihat sebuah peluang bisnis yang tidak dilihat atau kurang diperhitungkan orang lain. Jika berhasil selain mencengangkan juga menggairahkan. Kedua, berjiwa inovator. Untuk dapat menciptakan dan menemukan caranya sendiri demi meraih visi besarnya. Sebab, seorang entrepreuner umumnya mampu mengubah kotoran menjadi emas.
Ketiga, berani memikul resiko. Baik resiko mental maupun finansial. Ketiga prinsip tersebut, menjadi kunci sukses bagi siapa saja yang sedang maupun akan terjun di dunia wirausaha. Di usianya yang masih muda yakni, 26 tahun Merry Riana mencapai banyak kesuksesan, bahkan bila di bandingkan dengan orang-orang yang usianya dua kali lipat darinya kalah jauh. Kini, Merry sudah hidup sukses dan memiliki segalanya.
Berbeda dengan kondisi saat masa-masa menempuh studi di Singapura. Demi berhemat, ia membawa segala keperluan hidup dari rumah. Seperti, mi instan, gula, kopi, biskuit, garam, merica dll. Selain itu, perabotan dapur juga dari rumah. Hidup jauh dari rumah membantu belajar hidup mandiri. Mampukah kita, mencontoh hidup seperti Merry?
Di tengah kondisi kehidupan seperti sekarang ini, banyak anak muda berbangga diri akan kekayaan orang tuanya. Tanpa berpikir, bagaimana cara menghasilkan uang. Mungkin benar perkataan orangtua kita, bahwa mencari uang seratus ribu itu sangat susah. Ketimbang, untuk berbelanja mengeluarkan uang seratus ribu. Seharusnya, inilah yang menjadi catatan bagi anak muda untuk tidak menghambur-hamburkan uang orangtua.
Tuhan menciptakan multi talenta kepada manusia sejak dari lahir. Tinggal bagaimana diri kita mengasah dan mengembangkan dalam kehidupan. Oleh karena itu, janganlah takut untuk memulai berwirausaha. Siapa saja berhak untuk menjadi orang sukses. “Sebab sukses merupakan kesempatan untuk terus-menerus bertumbuh secara emosional, sosial, spiritual, psikologis, intelektual, dan finanisal”.(hal,86)
Menurut saya, buku karya Merry Riana ini membantu menjadi tambahan spirit bagi seseorang yang baru terjun di dunia wirausaha. Sebagaimana dikatakan Ciputra dalam pengantarnya. Buku ini, sangat inspirasional terutama bagi mereka yang masih muda.. Selamat membaca!
*)Ahmad Faozan, Ketua Himasakti(Himpunan Mahasiswa Santri Alumni Keluarga Tebuireng) Yogyakarta.
Minggu, 23 Oktober 2011
Minggu, 16 Oktober 2011
Internet Menumpulkan Otak
Di Muat di Koran Jakarta
Sabtu, 15 Oktober 2011
Judul : The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita
Penulis: Nicholas Car
Penerbit: Mizan
Tahun: 1, Juli 2011
Tebal: 376 halaman
Harga:Rp44. 200
Dewasa ini, internet menyajikan berbagai layanan yang memanjakan manusia. Misalnya, tempat untuk berkomunikasi dengan seseorang di kejauhan. Cukup berada di depan internet, seseorang mampu mengirim pesan secara langsung.
Wilayah hiburan seperti Facebook dan Twitter menjadi salah satu layanan yang digemari oleh kebanyakan orang. Padahal, di balik kesempurnaan internet ada hal yang membahayakan bagi penggunanya, yakni mendangkalkan otak. Bilamana saraf otak sudah diracuni internet, mengajak otak untuk berpikir kreatif menjadi pasif.
Buku Shallows: Internet Mendangkalkan Otak ini mencoba menguak bahaya internet bagi otak. Nicholas Carr, penulis buku ini, mengajak pembaca untuk sadar akan internet. Kurangnya wawasan mengenai bahaya internet membuat sebagian orang terjerumus hal negatif serta menjadi korban.
Seharusnya kehadiran internet dapat kita manfaatkan bukan untuk disalahgunakan. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat, sudah banyak korban dari dampak negatif internet karena kurang mengetahui dampaknya.
Misalnya, maraknya perbuatan asusila yang dilakukan oleh kaum muda setelah membuka situs-situs seronok yang beredar bebas di internet. Kemudian, plagiarisme di kalangan pelajar bahkan dosen pun marak.
Memang benar, internet membantu pekerjaan kita, namun secara diam-diam internet juga ikut membentuk pikiran dan memengaruhi perilaku manusia. Bahaya semacam itu kerap terlewatkan.
Sebagaimana kisah yang dialami Dave Homan dalam buku ini. Ia awalnya gemar membaca dan sering tenggelam ke dalam buku serta artikel panjang. Setelah sering menikmati layanan online, aktivitasnya kemudian tanpa disadari berubah secara drastis.
Ia menjadi seorang pemalas untuk berjibaku dengan buku maupun artikel panjang. Dan, suka dengan artikel yang ringan serta ringkas. Bahkan, "tatkala membuat penelitian, yang awalnya harus berkutat dengan tumpukan buku dan memakan banyak waktu, dengan bantuan internet penelitiannya dapat dibuat hanya beberapa menit saja." (hlm 2). Memang, dari segi waktu sangat efisien tetapi yang jelas cara-cara instan tersebut membunuh kreativitas otak.
Pengalaman Dave tersebut memberi informasi kepada kita bahwa internet turut serta membentuk cara berpikir dan bertindak. Betapa bahayanya internet terhadap jiwa dan otak kita. Seharusnya, saat menggunakan internet kita bisa membatasinya sehingga kita dapat berinternet secara sehat, tanpa membunuh kreativitas otak.
Saya beranggapan bahwa orang yang tidak peduli akan bahaya internet sudah pasti dalam hidupnya tidak tenang. Ia akan selalu merasa gelisah. Kesempatan untuk berpikir dan merenung karena sudah sihir internet menjadi susah dilakukan.
Sebenarnya internet menyediakan banyak pilihan bagi siapa saja. Mengingat internet kini menjadi media yang paling luas dan tanpa batas dibandingkan media cetak lainbya. Namun, hal tersebut kerap disalahgunakan.
Buku ini memberikan wawasan akan bahaya internet. Dalam konteks inilah, buku ini layak dibaca. Membaca buku ini menjadi sangat tepat di tengah absennya kesadaran berinternet. Sihir internet juga membuat ketagihan bagi siapa saja hingga sulit melepaskan dari ketergantungan.
Buku ini membantu para pembaca untuk semakin hati-hati saat berjibaku internet. Betapa pun canggihnya internet, tanpa dibarengi dengan kesadaran akan menjerumuskan diri kita ke hal yang negatif. Bukankah kreativitas otak kita tergantung bagaimana kita merangsangnya?
Peresensi adalah Ahmad Faozan, Ketua Himasakti,(Himpunan Mahasiswa Santri Alumni Keluarga Tebuireng) Yogyakarta
Sabtu, 15 Oktober 2011
Judul : The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita
Penulis: Nicholas Car
Penerbit: Mizan
Tahun: 1, Juli 2011
Tebal: 376 halaman
Harga:Rp44. 200
Dewasa ini, internet menyajikan berbagai layanan yang memanjakan manusia. Misalnya, tempat untuk berkomunikasi dengan seseorang di kejauhan. Cukup berada di depan internet, seseorang mampu mengirim pesan secara langsung.
Wilayah hiburan seperti Facebook dan Twitter menjadi salah satu layanan yang digemari oleh kebanyakan orang. Padahal, di balik kesempurnaan internet ada hal yang membahayakan bagi penggunanya, yakni mendangkalkan otak. Bilamana saraf otak sudah diracuni internet, mengajak otak untuk berpikir kreatif menjadi pasif.
Buku Shallows: Internet Mendangkalkan Otak ini mencoba menguak bahaya internet bagi otak. Nicholas Carr, penulis buku ini, mengajak pembaca untuk sadar akan internet. Kurangnya wawasan mengenai bahaya internet membuat sebagian orang terjerumus hal negatif serta menjadi korban.
Seharusnya kehadiran internet dapat kita manfaatkan bukan untuk disalahgunakan. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat, sudah banyak korban dari dampak negatif internet karena kurang mengetahui dampaknya.
Misalnya, maraknya perbuatan asusila yang dilakukan oleh kaum muda setelah membuka situs-situs seronok yang beredar bebas di internet. Kemudian, plagiarisme di kalangan pelajar bahkan dosen pun marak.
Memang benar, internet membantu pekerjaan kita, namun secara diam-diam internet juga ikut membentuk pikiran dan memengaruhi perilaku manusia. Bahaya semacam itu kerap terlewatkan.
Sebagaimana kisah yang dialami Dave Homan dalam buku ini. Ia awalnya gemar membaca dan sering tenggelam ke dalam buku serta artikel panjang. Setelah sering menikmati layanan online, aktivitasnya kemudian tanpa disadari berubah secara drastis.
Ia menjadi seorang pemalas untuk berjibaku dengan buku maupun artikel panjang. Dan, suka dengan artikel yang ringan serta ringkas. Bahkan, "tatkala membuat penelitian, yang awalnya harus berkutat dengan tumpukan buku dan memakan banyak waktu, dengan bantuan internet penelitiannya dapat dibuat hanya beberapa menit saja." (hlm 2). Memang, dari segi waktu sangat efisien tetapi yang jelas cara-cara instan tersebut membunuh kreativitas otak.
Pengalaman Dave tersebut memberi informasi kepada kita bahwa internet turut serta membentuk cara berpikir dan bertindak. Betapa bahayanya internet terhadap jiwa dan otak kita. Seharusnya, saat menggunakan internet kita bisa membatasinya sehingga kita dapat berinternet secara sehat, tanpa membunuh kreativitas otak.
Saya beranggapan bahwa orang yang tidak peduli akan bahaya internet sudah pasti dalam hidupnya tidak tenang. Ia akan selalu merasa gelisah. Kesempatan untuk berpikir dan merenung karena sudah sihir internet menjadi susah dilakukan.
Sebenarnya internet menyediakan banyak pilihan bagi siapa saja. Mengingat internet kini menjadi media yang paling luas dan tanpa batas dibandingkan media cetak lainbya. Namun, hal tersebut kerap disalahgunakan.
Buku ini memberikan wawasan akan bahaya internet. Dalam konteks inilah, buku ini layak dibaca. Membaca buku ini menjadi sangat tepat di tengah absennya kesadaran berinternet. Sihir internet juga membuat ketagihan bagi siapa saja hingga sulit melepaskan dari ketergantungan.
Buku ini membantu para pembaca untuk semakin hati-hati saat berjibaku internet. Betapa pun canggihnya internet, tanpa dibarengi dengan kesadaran akan menjerumuskan diri kita ke hal yang negatif. Bukankah kreativitas otak kita tergantung bagaimana kita merangsangnya?
Peresensi adalah Ahmad Faozan, Ketua Himasakti,(Himpunan Mahasiswa Santri Alumni Keluarga Tebuireng) Yogyakarta
Rabu, 05 Oktober 2011
Menghidupkan Nalar Umat Islam
Dimuat Kompas.com
(Rabu, 5 oktober 2011)
Buku ini, hendak mengajak berziarah ke era masa peradaban Islam pada abad 8-14. Di mana perkembangan ilmu pengetahun berkembang pesat. Terutama teori-teori ilmu pengetahuan Islam. Seperti, Ilmu Ulumul Qur’an, Hadis, Fiqh, Ushl Fiqh, Teologi, Filsafat, Sains, dan Tasawuf. Bahkan, hingga kini ilmu-ilmu tersebut masih di jadikan rujukan oleh para ilmuan abad 21.
Sebaliknya, umat Islam kini menampakan diri menjadi umat yang masih kurang kreatif dalam mengembangkan berbagai khazanah teori keilmuan yang sudah ada. Harus diakui bahwa orang Barat, cukup kreatif dalam mengembangkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Seharusnya, umat Islam mau belajar kepada para kreator peradaban”sarjana muslim” seperti, as Syafa, al Farabi, Ibn Sina, Jabir b dll. Untuk di jadikan inspirator dan motifator.
Di tengah kondisi kehidupan umat beragama khusunya umat Islam yang sedang di uji dengan berbagai ujian, seperti isu terorisme yang di lemparkan Barat ke dunia Islam. Telah memudarkan rasa persatuan dan kesatuan di internal umat Islam yang cukup dahsyat. Tidak adanya, kesadaran dan kedewasaan dalam mensikapi dengan bijak menjadi bomerang bagi umat Islam sendiri. Yakni, lebih menggunakan otot ketimbang menggunakan otak menghadapi profokasi Barat.
Buku bertajuk, “Menggali Nalar Saitifik Peradaban Islam” karya Husaien Hariyanto hadir. Penulis, berusaha mengajak kepada pembaca khusunya umat Islam untuk menziarahi masa lalu “peradaban Islam” dengan harapan, umat Islam dapat belajar banyak. Serta timbul spirit kembali dalam mengejar ketertinggalan. Menghidupkan kembali nalar berpikir kritis dan sadar pada nasibnya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam saat ini.
Dalam hal ini, Husain juga mengajak kepada umat Islam untuk menghidupkankan kembali pada tradisi intelektual. Seperti, dengan ilmu filsafat. Melalui Ilmu Filasafat membantu menggugah nalar kesadaran umat Islam dalam menatap masa depannya. Kehadiran buku ini, juga menjadi paradigma bagi kemajuan umat Islam di masa modern. Bahkan, Mohamad Iqbal yang kita kenal sebagai pemikir Islam kontemporer juga pernah berseru kepada umat Islam, ”terlarang bagi umat Islam menjadi umat pembeo, peniru, yang tak kreatif dan lemah tak berdaya menghadapi gempuran sistem nilai-nilai asing yang menggrogoti keislaman dan kemanusia mereka”(Hal- 6)
Dengan demikian, kini muncul pertayaan apakah umat Islam mau mengejar ketertinggalan dari Barat? Bukankah, faktor kemunduran umat Islam saat ini disebabkan karena kerangka berpikir kritis dan kreatif umat Islam belum terbentuk? Ditambah banyak tokoh dan figur pemimpin umat Islam sibuk mengurusi diri dan kelompoknya sendiri. Buku setebal tiga ratus halaman ini, membongkar rahasia sukses ilmuan Muslim dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Juga membeberkan faktor-faktor yang menjadi pelemah bagi umat Islam.
Menurut anggapan saya, menyimak bongkahan sejarah peradaban Islam masa lalu yang di suguhkan Husain ini. Juga, dapat menemukan perbedaan mendasar antara peradaban Islam dengan peradaban modern yang di bangun Barat sekarang ini. Untuk di jadikan pertimbangan. Sehingga, membangun peradaban modern Islam dapat terwujudkan. Dalam konteks inilah buku ini menjadi penting untuk di baca khusunya oleh umat Islam. Tentunya, menjadi pelajaran yang amat berharga bukan?
Sebagaimana dikatakan, Mulyadhi Katanegara, Guru besar filsafat Islam. Buku ini, “mengungkapkan prestasi-prestasi agung keilmuan Islam dan mendemontrasikan pentingnya etos dan tradisi ilmiah Islam untuk terus di jaga dan dikembangkan di tengah-tengah hegemoni tradisi ilmiah modern yang sekuler”.
Peresensi: Ahmad Faozan, Ketua Himasakti(Himpunan Mahasiswa Keluarga Alumni Tebuireng) Yogyakarta.
(Rabu, 5 oktober 2011)
Judul Buku: Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam
Penulis: Husain Hariyanto
Penerbit: Mizan Publika
Tahun: 1, Juni 2011
Tebal: 376 halaman
Harga:Rp,75.000
Buku ini, hendak mengajak berziarah ke era masa peradaban Islam pada abad 8-14. Di mana perkembangan ilmu pengetahun berkembang pesat. Terutama teori-teori ilmu pengetahuan Islam. Seperti, Ilmu Ulumul Qur’an, Hadis, Fiqh, Ushl Fiqh, Teologi, Filsafat, Sains, dan Tasawuf. Bahkan, hingga kini ilmu-ilmu tersebut masih di jadikan rujukan oleh para ilmuan abad 21.
Sebaliknya, umat Islam kini menampakan diri menjadi umat yang masih kurang kreatif dalam mengembangkan berbagai khazanah teori keilmuan yang sudah ada. Harus diakui bahwa orang Barat, cukup kreatif dalam mengembangkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Seharusnya, umat Islam mau belajar kepada para kreator peradaban”sarjana muslim” seperti, as Syafa, al Farabi, Ibn Sina, Jabir b dll. Untuk di jadikan inspirator dan motifator.
Di tengah kondisi kehidupan umat beragama khusunya umat Islam yang sedang di uji dengan berbagai ujian, seperti isu terorisme yang di lemparkan Barat ke dunia Islam. Telah memudarkan rasa persatuan dan kesatuan di internal umat Islam yang cukup dahsyat. Tidak adanya, kesadaran dan kedewasaan dalam mensikapi dengan bijak menjadi bomerang bagi umat Islam sendiri. Yakni, lebih menggunakan otot ketimbang menggunakan otak menghadapi profokasi Barat.
Buku bertajuk, “Menggali Nalar Saitifik Peradaban Islam” karya Husaien Hariyanto hadir. Penulis, berusaha mengajak kepada pembaca khusunya umat Islam untuk menziarahi masa lalu “peradaban Islam” dengan harapan, umat Islam dapat belajar banyak. Serta timbul spirit kembali dalam mengejar ketertinggalan. Menghidupkan kembali nalar berpikir kritis dan sadar pada nasibnya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam saat ini.
Dalam hal ini, Husain juga mengajak kepada umat Islam untuk menghidupkankan kembali pada tradisi intelektual. Seperti, dengan ilmu filsafat. Melalui Ilmu Filasafat membantu menggugah nalar kesadaran umat Islam dalam menatap masa depannya. Kehadiran buku ini, juga menjadi paradigma bagi kemajuan umat Islam di masa modern. Bahkan, Mohamad Iqbal yang kita kenal sebagai pemikir Islam kontemporer juga pernah berseru kepada umat Islam, ”terlarang bagi umat Islam menjadi umat pembeo, peniru, yang tak kreatif dan lemah tak berdaya menghadapi gempuran sistem nilai-nilai asing yang menggrogoti keislaman dan kemanusia mereka”(Hal- 6)
Dengan demikian, kini muncul pertayaan apakah umat Islam mau mengejar ketertinggalan dari Barat? Bukankah, faktor kemunduran umat Islam saat ini disebabkan karena kerangka berpikir kritis dan kreatif umat Islam belum terbentuk? Ditambah banyak tokoh dan figur pemimpin umat Islam sibuk mengurusi diri dan kelompoknya sendiri. Buku setebal tiga ratus halaman ini, membongkar rahasia sukses ilmuan Muslim dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Juga membeberkan faktor-faktor yang menjadi pelemah bagi umat Islam.
Menurut anggapan saya, menyimak bongkahan sejarah peradaban Islam masa lalu yang di suguhkan Husain ini. Juga, dapat menemukan perbedaan mendasar antara peradaban Islam dengan peradaban modern yang di bangun Barat sekarang ini. Untuk di jadikan pertimbangan. Sehingga, membangun peradaban modern Islam dapat terwujudkan. Dalam konteks inilah buku ini menjadi penting untuk di baca khusunya oleh umat Islam. Tentunya, menjadi pelajaran yang amat berharga bukan?
Sebagaimana dikatakan, Mulyadhi Katanegara, Guru besar filsafat Islam. Buku ini, “mengungkapkan prestasi-prestasi agung keilmuan Islam dan mendemontrasikan pentingnya etos dan tradisi ilmiah Islam untuk terus di jaga dan dikembangkan di tengah-tengah hegemoni tradisi ilmiah modern yang sekuler”.
Peresensi: Ahmad Faozan, Ketua Himasakti(Himpunan Mahasiswa Keluarga Alumni Tebuireng) Yogyakarta.
Selasa, 04 Oktober 2011
Demi Perdamaian Dunia
Judul Buku : Wind Rider: Menyerempret Bahaya Demi Perdamaian Dunia
Penulis : Jefry Polnaja
Penerbit : Qanita
Cetakan : 1, Februari 211
Tebal : 349 halaman
Harga : Rp 54.400
Masih mencuatnya, konflik yang melanda antar bangsa, suku serta teroris terjadi di belahan dunia seperti, di Afganistan, Palestina, dll membuat dunia ini terasa kurang sedap dipandang.. Hal itu, juga kontras dengan semangat perdamaian dunia yang sering di gembor-gemborkan. Hak asasi manusia juga menjadi terabaikan. Dengan demikian, usaha menciptakan tatanan kehidupan berbangsa, beragama, dan bersuku harmonis penting di lakukan.
Buku ini, hendak menceritakan pengalaman Jefry Polnaja sang “Raider” penebar kedamaian. Ia, bukan utusan pejabat pemerintah maupun orang yang akan maju menjadi Presiden. Tetapi, pecinta motor. Yang pergi menjelajahi dunia bersama motor besarnya sambil, menyampaiakan pesan “damai”. Setidaknya, telah menciptakan rekor dunia yakni, mengunjungi, 72 negara, 3 benua, dalam kurun waktu 2 tahun, 7 bulan lamanya.
Tak peduli, dengan ganasnya badai Gurun Sahara, yang membeku dan hampanya Khardung La(jalan tertinggi di dunia), keheningan garis Artik di kutub utara, deburan Atlantik, Pasifik, dan Adrantik yang menjadi medan tempurnya. Jefry, berpetualang tanpa kawan maupun pengawal. Bahkan, sempat mengalami nasib yang kurang menguntungkan. Dimana, Ia pernah diberondong tembakan namun masih beruntung dan berhasil lolos, bersembunyi di balik bebatuan padang pasir.
Selain itu, juga pernah menyaksikan dimana ada seseorang ditembaki sampai badannya hancur dan mati. Barangkali, di dunia ini tak ada orang senekad Jefry dalam memperjuangankan bendera kedamaian. Seharusnya, demi perdamaian dunia, semangat perjuanganan, simpati, kekaguman, dan solidaritas pada sesama senantiasa di kibarkan oleh siapa saja. Tanpa ada embel-embel suku, agama, ras, dan budaya. Sehingga keharmonisan terwujudkan.
Ada sekitar, 27 kisah pengalaman Jefry Polnaja hendak di bagikan leat buku ini kepada para pembaca. Salah satunya, manusia disatukan dengan bahasa hati. Bukankah, semua sudah ada yang mengatur? (hal, 39) Kedua, jangan menyepelekan hal-hal yang kecil. Sebab, dari hal terkecil pula sesungguhnya kita dapat menyelematkan hidup kita.
Seringkali, berada di negeri orang kita menganggap orang lain itu asing, tetapi sesungguhnya diri kitalah yang merasa seperti itu. Sehingga, harus menyesuaikan dengan lingkungan dimana kita berada. Di tengah kondisi kehidupan seperti sekarang ini, banyak orang hidup tidak memiliki kepercayaan diri. Akhirnya, banyak orang tidak mampu mewujudkan apa yang di impikannya. Entah, karena kebanyakan berpikir, tidak di barengi dengan tindakan maupun karena tidak mempunyai mentalitas.
Sebagaiamana ungkapam pepatah yang sering kita dengar yakni,” dimana ada kemauan di situlah akan ada jalan”. Meskipun, hidup saat ini segala sesuatu menggunakan uang, bila Tuhan sudah berkehendak apa yang menjadi tidak mungkin? Ketiga, hidup di dunia ini seperti roda yang senantiasa berputar. Terkadang kita berada di bawah juga di atas silih berganti tanpa kompromi. Dengan sebab itu pula, sikap berputus asa, mengeluh, dan pesimis harus dihilangkan. “Mencoba berpikir jernih, kemudian mencari solusi merupakan jalan terbaik.
Akhirnya, buku ini pantas untuk di jadikan inspirasi bagi kita semua, dalam hal mengibarkan perdamaian kepada dunia. Kepedulian antar sesama, tanpa memandang siapa dia merupakan cara terbaik membangun kebersamaan hidup. Bukankah, hidup damai penuh keharmonisan menjadi cita-cita bersama?
Peresensi adalah Ahmad Faozan, Ketua Himasakti(Himpunan Mahasiswa Santri Alumni Keluarga Tebuireng) Yogyakarta
Selasa, 20 September 2011
Ketabahan Hidup Putri Penguasa Hindustan
Judul Buku : Taj Mahal: Gold Edition
Penulis : Jhon Shors
Penerbit : Qanita, Mizan
Tahun : 1, Mei 2011
Tebal : 460 halaman
Harga : Rp 59.000,--
Kehidupan putri raja sudah pasti sangat istimewa. Dari mulai urusan makan hingga urusan mandi senantiasa dilayani penuh istimewa oleh para pembantu kerajaan. Hal itu, sangat kontras dengan kisah hidup yang dialami Jahanara putri penguasa dari kerajaan Hindustan. Hidupnya, penuh penderitaan dan siksaan. Misalnya, saat menginjak usia muda Jahanara sudah di jodohkan ayahnya untuk menjadi isteri seorang dari golongan ningrat bernama Khondamir yang tidak ia cintai dan kenali.
Padahal menikah sendiri seharusnya berlandaskan cinta. Demi kelanggengan dan kekuasaan ayahnya perkawinan Jahanara dengan Khondamir tercium aroma politik. Tentunya, Jahanara tak bisa berbuat banyak. Ia pun akhirnya menuruti kemauan ayahnya dam menerima Khondamir sebagai suami. Awalnya, memang memberatkan hati Jahanara. Merasa kurang mencintai dan mengenal calon suami lebih mendalam.
Berkat dorongan dan motifasi ibunya untuk tegar dalam menerima kenyataan hidup akhirnya suami yang dipilihkan ayah di terimanya. Ibu Jahanara menyakinnya, bahwa kelak Khondamir akan sangat berperan besar dalam menentukan nasib kerajaan Hindustan. (Hal,35) Seiring berjalannya waktu, Jahanara kerap mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari suaminya. Mulai siksaan bathin hingga fisik ia rasakan sendiri. Padahal, ia adalah putri dari seorang Sultan penguasa Hndustan.
Khondamir kerap bermain dengan para wanita cantik. Kebiasaan gaya hidup glamor para kaum ningrat di rumahnya yang tidak bisa di hilangkan sesudah menikah dengan Jahanara. Banyak wanita cantik sebagai pelampiasan hawa nafsunya.
Menjadi suami, selain dituntut untuk dapat bersikap dewasa juga harus penuh perhatian kepada isterinya. Urusan kelurga, terutama isteri merupakan urusan yang harus di prioritaskan oleh seorang suami begitu juga dengan urusan suami. Isteri harus selalu melayani dengan baik. Penderitaan Jahanara akhirnya bertambah ketika ibunya “Mumtas Mahal” meninggal dunia.
Untuk mengobati rasa sedih, ia dan ayahnya kemudian membangun bangunan sebagai petanda kebesaran ibunya yakni, Taj mahal. Penciptaan Taj Mahal di rancang oleh Arsitek Isa dari bangsa Persia. Konon, didesain berdasarkan citra tentang sorga sebagaimana tertuang dalam kisah yang ada di kitab suci umat Islam “Al Qur’an”.
I’tikad Sultan dan Jahannara, untuk membangun kemegahan Taj Mahal di Hindustan Hindia sedikit terganggu oleh sikap Aurangseb sebagai putera laki-laki kerjaan Hindustan yang gemar sekali berperang. Karena pembangunan Taj Mahal memangkas dana untuk berperang. Berbagai cara dilakukan Aurangseb untuk mengamba visi dan misinya. Berlandaskan keyakinan kuat, akhirnya pembangunan Taj Mahal tetap di teruskan.
Sejak awal-awal membangun Taj Mahal tanpa di sengaja Jahannara jatuh hati dengan seorang arsiteknya yakni Isa. Merasa hidup berkeluarga dengan Khondamir tidak bahagia, ia kemudian menjalin hubungan bersama Isa secara sembunyi-sembunyi. Menurutnya, Isa tipikal lelaki yang pantas dicintainya. Isa adalah lelaki yang baik hati, tampan, dan perhatian.
Tidak seperti suaminya yang keras dan sering menyakitinya. Bahkan, kerap menuduh Jahanara, perempuan “mandul” tak bisa menumbuhkan benihnya. Yang membuatnya kecewa dan melukai hati serta perasaannya. Padahal bila melihat nasab ibunya tergolong perempuan keturunan yang subur. Karena ibu Jahanra, melahirkan banyak anak. Walauapun, Khondamir terus saja menyakitinya. Jahanara sebagai perempuan tetap tabah dalam menghadapi semua persoalan hidupnya.
Menurut saya, novel ini, menarik di baca oleh siapa saja. Selain, memuat hikayat berdirinya Taj Mahal juga menceritakan kisah hidup puteri penguasa Hindustan yakni Jahanara. Banyak kisah ketegaran, kedewasaan, kesetiaan, dan kewajiban seorang putri raja Hindustan di roda hidupnya. Sangat di sayangkan jika Anda melewatkan novel sejarah ini.
*)Ahmad Faozan, Ketua Himasakti (Himpunan Mahasiswa Alumni Keluarga Tebuireng) Yogyakarta.
Jumat, 16 September 2011
Memetik Makna Kehidupan
Di Muat Di Koran Jakarta
(Jumat, 16 September 2011)
Judul : Belajar pada Kehidupan: Kisah-kisah Nyata Seputar Kesabaran, Keihklasan, dan Kejujuran
Penulis : Dwi Bagus MB
Penerbit : Mizania
Tahun : 1, Juni 2011
Tebal : 376 halaman
Harga : Rp39.000
Siapa orang tidak mau beruntung dalam hidup? Kehidupan dunia bak roda yang senantiasa berputar. Dalam hidup, sudah pasti banyak sekali gelombang kehidupan yang kapan saja bisa menghampiri. Kebahagiaan dan kesedihan senantiasa silih berganti. Bagi seseorang tidak hati-hati dalam menjalani hidup, sudah pasti akan tersandera problematika kehidupan. Lantas, bagaimanakah menjalani hidup penuh dengan makna?
Dwi Agus Mb melalui buku Belajar pada Kehidupan: Kisah-Kisah Nyata Seputar Kesabaran, Keihklasan, dan Kejujuran hendak berbagi kepada pembaca bagaimana menyikapi persoalan hidup yang kian kompleks, bagaimana menjadi yang beruntung.
Dengan belajar dari pengalaman hidup pribadi maupun dari orang lain, buku ini juga bermaksud menyadarkan pentingnya beberapa hal yang terkadang dianggap remeh, misalnya mempraktikkan sikap sabar, ikhlas, dan jujur.
Ada 225 kisah kehidupan yang tertuang dalam buku ini, misalnya kisah Pak Arif yang mengaku dirinya seorang fakir. Padahal, ia merupakan salah satu dosen perguruan tinggi di Surabaya yang juga merupakan pengusaha. Selain orang terhormat, ia juga kaya.
Ia hidup mengasingkan diri dari rumah. Bahkan, menempati rumah berada di gang sempit yang tidak dapat dilalui motor demi menjauhkan diri dari gemerlap indahnya dunia (hal 22).
Kisah kezuhudan Pak Arif di atas membuat diri kita iba melihatnya. Saat kini banyak orang berlomba-lomba mencari status sosial, ia justru belajar menjadi orang miskin dan terasing. Mampukah kita mencontoh kehidupan seperti Pak Arif?
Di tengah kondisi kehidupan bermasyarakat seperti sekarang ini, ketika banyak orang tidak lagi mencerminkan pribadi mulia di hadapan Tuhan dan sesamanya, seperti gila jabatan dan tamak. Demi jabatan, banyak pejabat justru berkorupsi. Kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan dalam mengabdi kepada bangsa dan rakyat tidak ada. Bukankah sebaik-baik orang adalah yang baik akhlaknya?
Salah satu faktor yang membuat diri kita berbuat kurang terpuji adalah karena diri kita belum mampu menjadi orang yang menahan hawa nafsu kita yang kerap mendorong ke arah perbuatan negatif. Kita kerap bersikap iri hati bila teman kita memiliki sesuatu di atas kita. Hal semacam itulah sesungguhnya yang membuat diri kita tidak sadar.
Buku ini mengajarkan kepada tiga hal dalam kehidupan ini. Pertama, menjadi orang sabar. Dengan bersabar seseorang akan bersikap dewasa ketika menyikapi ujian dan cobaan. Kedua, ikhlas. Berbuat ikhlas membantu membersihkan diri dari sifat iri dan dengki.
Ketiga, jujur. Sebab, jujur merupakan parameter integritas seseorang dalam pandangan kehidupan bermasyarakat. Bahkan, para pemuka agama kerap dalam ceramahnya mengatakan sabar, ikhlas, dan jujur merupakan tiga pilar hidup yang harus tertanam dengan baik dalam diri seseorang.
Sebenarnya, begitu banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik di sekitar kita. Hanya saja, diri kita terkadang terlalu jauh berpikir dan banyak pertimbangan. Akhirnya, pelajaran hidup di sekitar kita menjadi sirna.
Buku ini layak dijadikan pegangan hidup oleh siapa saja untuk dipraktikkan dalam kehidupan seperti sekarang ini. Dengan membaca buku ini, kita akan menemukan mutiara kehidupan yang sering tak kita sadari banyak tercecer di sekitar kita. Selamat membaca!
Peresensi adalah Ahmad Faozan, Ketua Himasakti (Himpunan Mahasiswa Alumni Tebuireng), Yogyakarta
(Jumat, 16 September 2011)
Judul : Belajar pada Kehidupan: Kisah-kisah Nyata Seputar Kesabaran, Keihklasan, dan Kejujuran
Penulis : Dwi Bagus MB
Penerbit : Mizania
Tahun : 1, Juni 2011
Tebal : 376 halaman
Harga : Rp39.000
Siapa orang tidak mau beruntung dalam hidup? Kehidupan dunia bak roda yang senantiasa berputar. Dalam hidup, sudah pasti banyak sekali gelombang kehidupan yang kapan saja bisa menghampiri. Kebahagiaan dan kesedihan senantiasa silih berganti. Bagi seseorang tidak hati-hati dalam menjalani hidup, sudah pasti akan tersandera problematika kehidupan. Lantas, bagaimanakah menjalani hidup penuh dengan makna?
Dwi Agus Mb melalui buku Belajar pada Kehidupan: Kisah-Kisah Nyata Seputar Kesabaran, Keihklasan, dan Kejujuran hendak berbagi kepada pembaca bagaimana menyikapi persoalan hidup yang kian kompleks, bagaimana menjadi yang beruntung.
Dengan belajar dari pengalaman hidup pribadi maupun dari orang lain, buku ini juga bermaksud menyadarkan pentingnya beberapa hal yang terkadang dianggap remeh, misalnya mempraktikkan sikap sabar, ikhlas, dan jujur.
Ada 225 kisah kehidupan yang tertuang dalam buku ini, misalnya kisah Pak Arif yang mengaku dirinya seorang fakir. Padahal, ia merupakan salah satu dosen perguruan tinggi di Surabaya yang juga merupakan pengusaha. Selain orang terhormat, ia juga kaya.
Ia hidup mengasingkan diri dari rumah. Bahkan, menempati rumah berada di gang sempit yang tidak dapat dilalui motor demi menjauhkan diri dari gemerlap indahnya dunia (hal 22).
Kisah kezuhudan Pak Arif di atas membuat diri kita iba melihatnya. Saat kini banyak orang berlomba-lomba mencari status sosial, ia justru belajar menjadi orang miskin dan terasing. Mampukah kita mencontoh kehidupan seperti Pak Arif?
Di tengah kondisi kehidupan bermasyarakat seperti sekarang ini, ketika banyak orang tidak lagi mencerminkan pribadi mulia di hadapan Tuhan dan sesamanya, seperti gila jabatan dan tamak. Demi jabatan, banyak pejabat justru berkorupsi. Kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan dalam mengabdi kepada bangsa dan rakyat tidak ada. Bukankah sebaik-baik orang adalah yang baik akhlaknya?
Salah satu faktor yang membuat diri kita berbuat kurang terpuji adalah karena diri kita belum mampu menjadi orang yang menahan hawa nafsu kita yang kerap mendorong ke arah perbuatan negatif. Kita kerap bersikap iri hati bila teman kita memiliki sesuatu di atas kita. Hal semacam itulah sesungguhnya yang membuat diri kita tidak sadar.
Buku ini mengajarkan kepada tiga hal dalam kehidupan ini. Pertama, menjadi orang sabar. Dengan bersabar seseorang akan bersikap dewasa ketika menyikapi ujian dan cobaan. Kedua, ikhlas. Berbuat ikhlas membantu membersihkan diri dari sifat iri dan dengki.
Ketiga, jujur. Sebab, jujur merupakan parameter integritas seseorang dalam pandangan kehidupan bermasyarakat. Bahkan, para pemuka agama kerap dalam ceramahnya mengatakan sabar, ikhlas, dan jujur merupakan tiga pilar hidup yang harus tertanam dengan baik dalam diri seseorang.
Sebenarnya, begitu banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik di sekitar kita. Hanya saja, diri kita terkadang terlalu jauh berpikir dan banyak pertimbangan. Akhirnya, pelajaran hidup di sekitar kita menjadi sirna.
Buku ini layak dijadikan pegangan hidup oleh siapa saja untuk dipraktikkan dalam kehidupan seperti sekarang ini. Dengan membaca buku ini, kita akan menemukan mutiara kehidupan yang sering tak kita sadari banyak tercecer di sekitar kita. Selamat membaca!
Peresensi adalah Ahmad Faozan, Ketua Himasakti (Himpunan Mahasiswa Alumni Tebuireng), Yogyakarta
Belajar Berbasiskan Otak
Judul Buku : Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak
Penulis : Jalaludin Rakhmat
Penerbit : Kaifa
Cetakan : 1, September, 2010
Tebal : xx+ 288 halaman
Harga : Rp45.000,--
Salah satu persoalan yang kerap dikeluhkan oleh para guru di sekolah adalah metode apa yang harus di terapkan kepada siswanya. Supaya, gaya belajar yang di suguhkan mudah di cerna siswa. Selama ini, proses kegiatan pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah lebih sedikit banyak hanya menekankan pada target pencapaian kurikulum ketimbang menciptakan siswa yang cerdas.
Sehingga apa yang terjadi? Guru tidak sukses memberikan materi kepada siswanya. Begitu juga dengan siswanya, kurang mencerap materi-materi pelajaran yang telah di ajarkan guru. Tentunya, hal ini menjadi persoalan yang harus di benahi bagi seorang guru. Bergantinya, ajaran baru di sekolah sudah pasti kesempatan untuk melakukan evaluasi gaya pembelajaran di sekolah sudah pasti harus di lakukan. Demi, perbaikan dan inovasi proses ajar-mengajar mencari metode yang tepat untuk mengajar menjadi penting.
Buku bertajuk “Belajar Cerdas Berbasiskan Otak” hendak memperkenalkan metode baru kepada kita yakni, belajar cerdas dengan mengfungsikan otak. Dengan harapan, proses belajar-mengajar akan terasa lebih bergairah. Minimnya metode pembelajaran di dunia sekolah membuat dunia pendidikan gagal mencetak generasi bangsa yang cerdas. Bahkan, persoalan tersebut sudah menjadi persoalan klasik dan hingga kini juga belum dapat terpecahlan.
Lewat buku ini pula, mitos yang sering kita dengar di masyarakat di rubah yakni, “kecerdasan seseorang tergantung pada keturunannya”. Sebagaimana, penelitian Profesor Diamon yang di kutip penulis buku ini, “otak dapat berubah secara positif jika dihadapkan pada lingkungan yang di beri rangsangan positif”(hal-15). Mitos diatas kerap kali membuat seseorang mudah untuk mempercaianya. Lantas, di gunakan untuk menghakimi orang lain”muridnya”.
Di buku ini, Penulis juga menawarkan kepada kita yakni lima prinsip akronim metik. Diantaranya, Modalitas belajar, peranan emosi, penggunaan pengaruh, tak sadar, pengenalan diri intelegnsi majemuk dan perubahan sekaligus otak kanan dan kiri. Kemudian, Jalaludin memberikan tips-tips menjaga otak kita supaya tetap sehat. Misalnya, dengan membiasakan meminum teh maupun es teh setiap hari merupakan cara termudah dan tercepat memasukan antioksidan kedalam tubuh dan otak. Makan ikan, daging unggas tanpa kulit, daging tak berlemak, dan buah-buahan adalah menu yang sehat bagi otak kita. (hal, 85)
Supaya, nantinya pendidikan kita tidak hanya berorientasi pada persoalan mengejar target semata. Tetapi, benar-benar mencerdaskan anak-anak bangsa. Paling tidak, membantu mencerdaskan otak kita. Sebab, kerusakan pada otak akibat pengabaian dan kejahilan diri sendiri amat membahayakan. Otak kita tidak bisa di cangkok seperti halnya ginjal dan jantung. Begitu sentral sekali otak kita.
Buku yang di tulis oleh Jalaludin Rakhmat ini, menggugah pembaca supaya memanfaatkan nikmat Tuhan yang berupa otak. Bagaimana, menjaga dan memfungsikannya. Dan, layaklah buku ini menjadi pegangan bagi para pendidik yang berjibaku di lembaga pendidikan. Merugi tentunya bila sampai melewatkan buku ini. Selamat membaca!
*)Ahmad Faozan, Ketua Himasakti (Himpunan Mahasiswa Alumni Santri Tebuireng) Yogyakarta.
Penulis : Jalaludin Rakhmat
Penerbit : Kaifa
Cetakan : 1, September, 2010
Tebal : xx+ 288 halaman
Harga : Rp45.000,--
Salah satu persoalan yang kerap dikeluhkan oleh para guru di sekolah adalah metode apa yang harus di terapkan kepada siswanya. Supaya, gaya belajar yang di suguhkan mudah di cerna siswa. Selama ini, proses kegiatan pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah lebih sedikit banyak hanya menekankan pada target pencapaian kurikulum ketimbang menciptakan siswa yang cerdas.
Sehingga apa yang terjadi? Guru tidak sukses memberikan materi kepada siswanya. Begitu juga dengan siswanya, kurang mencerap materi-materi pelajaran yang telah di ajarkan guru. Tentunya, hal ini menjadi persoalan yang harus di benahi bagi seorang guru. Bergantinya, ajaran baru di sekolah sudah pasti kesempatan untuk melakukan evaluasi gaya pembelajaran di sekolah sudah pasti harus di lakukan. Demi, perbaikan dan inovasi proses ajar-mengajar mencari metode yang tepat untuk mengajar menjadi penting.
Buku bertajuk “Belajar Cerdas Berbasiskan Otak” hendak memperkenalkan metode baru kepada kita yakni, belajar cerdas dengan mengfungsikan otak. Dengan harapan, proses belajar-mengajar akan terasa lebih bergairah. Minimnya metode pembelajaran di dunia sekolah membuat dunia pendidikan gagal mencetak generasi bangsa yang cerdas. Bahkan, persoalan tersebut sudah menjadi persoalan klasik dan hingga kini juga belum dapat terpecahlan.
Lewat buku ini pula, mitos yang sering kita dengar di masyarakat di rubah yakni, “kecerdasan seseorang tergantung pada keturunannya”. Sebagaimana, penelitian Profesor Diamon yang di kutip penulis buku ini, “otak dapat berubah secara positif jika dihadapkan pada lingkungan yang di beri rangsangan positif”(hal-15). Mitos diatas kerap kali membuat seseorang mudah untuk mempercaianya. Lantas, di gunakan untuk menghakimi orang lain”muridnya”.
Di buku ini, Penulis juga menawarkan kepada kita yakni lima prinsip akronim metik. Diantaranya, Modalitas belajar, peranan emosi, penggunaan pengaruh, tak sadar, pengenalan diri intelegnsi majemuk dan perubahan sekaligus otak kanan dan kiri. Kemudian, Jalaludin memberikan tips-tips menjaga otak kita supaya tetap sehat. Misalnya, dengan membiasakan meminum teh maupun es teh setiap hari merupakan cara termudah dan tercepat memasukan antioksidan kedalam tubuh dan otak. Makan ikan, daging unggas tanpa kulit, daging tak berlemak, dan buah-buahan adalah menu yang sehat bagi otak kita. (hal, 85)
Supaya, nantinya pendidikan kita tidak hanya berorientasi pada persoalan mengejar target semata. Tetapi, benar-benar mencerdaskan anak-anak bangsa. Paling tidak, membantu mencerdaskan otak kita. Sebab, kerusakan pada otak akibat pengabaian dan kejahilan diri sendiri amat membahayakan. Otak kita tidak bisa di cangkok seperti halnya ginjal dan jantung. Begitu sentral sekali otak kita.
Buku yang di tulis oleh Jalaludin Rakhmat ini, menggugah pembaca supaya memanfaatkan nikmat Tuhan yang berupa otak. Bagaimana, menjaga dan memfungsikannya. Dan, layaklah buku ini menjadi pegangan bagi para pendidik yang berjibaku di lembaga pendidikan. Merugi tentunya bila sampai melewatkan buku ini. Selamat membaca!
*)Ahmad Faozan, Ketua Himasakti (Himpunan Mahasiswa Alumni Santri Tebuireng) Yogyakarta.
Kamis, 18 Agustus 2011
Menggali Gagasan dan Pemikiran “Islam” Agus Salim
(Di muat di Analisisnews.com) Jumat, 19 Agustus 2011 Judul Buku : Pesan-Pesan Islam, Rangkain Kuliah Musm Semi 7953 di Cornell University Amerika Serikat Penulis : Agus Salim Penerbit : PT. Mizan Pustaka Tahun : I, Mei 2011 Tebal : 389 halaman Harga : 82.500,- Intelektualitas Agus Salim sudah tidak lagi di pandang sebelah mata. Berbekal keilmuan luas, dialah kaum intelektual asal Indonesia yang pernah di undang untuk menjadi dosen menyampaikan pemahaman Islam di Cornell University, AS pada tahun 1953. Seluk beluk Islam, beliau beberkan secara luwes. Siapapun yang mengajaknya dialog beliau melayani dengan argumen menakjuban. Yang dapat di terima dengan kepala dingin. Gagasan dan Pemikiran Islam Agus Salim sangat jernih dan luas. Terbukti, beliau berani berpendapat bahwa, dasar agama tidak perlu berubah walaupun, toh tata pelaksanaannya yang berubah. Melihat kondisi kekinian, dengan apa yang di perlihatkan fenomena sosial dimana ada sebagian sekelompok umat Islam sendiri yakni, penebar teror serta menolak perubahan tentu bertolak belakang bukan dengan ajaran Islam? Ajaran Islam senantiasa dapat diaktualisasikan di setiap zaman. Untuk memberi jawaban persoalan kontemporer. Oleh sebab itulah, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam yang benar serta mendalam merupakan suatu keharusan. Dengan harapan, segala persoalan dapat di temukan jawaban. Bukankah, dalam ajaran kitab suci Al Qur’an mengandung banyak kisah hidup manusia. Dari mulai, nabi Adam hingga hingga sekarang, dan mungkin besok sudah ada. Sebagaiman kita ketahui, salah sedikit memahami ajaran Islam maka akan berakibat fatal. Misalnya, memahami tentang toleransi, jender, jihad, dan hukum. Maka dari itulah, kemampuan mengaktualisasikan ajaran Islam sesuai dengan konteks zamannya menjadi keharusan bagi umat Islam. Bukankah, di era kontemporer banyak sekali persoalan baru? Buku “Pesan-Pesan Islam” buah pemikiran Agus Salim ini hadir. Membantu, meluruskan pandangam buruk terhadap Islam. Buku yang merupakan rekaman sepenggal episode sejarah pemikiran Islam dari cendekiawan muslim Indonesia “Hadji Agus Salim” membantu menambah pengetahuan kita akan seluk belum Islam. Adapun materi-materi perkuliahan yang disampaikan oleh Agus Salim di buku ini meliputi, pembahasan rukun Iman dan Islam, pengertian Islam, Islam mengatur segala hal, keadaan negar-negara Islam masa kini, dll. Dengan upaya menggali sejarah pemikiran Islam Agus Salim, untuk dikontekstualisasikan dalam kehidupan beragama sekarang ini menjadi penting. Setidaknya, menambah kedalaman kita dalam mengkaji Islam secara sempurna. Ajaran agama Islam akan dapat di terima oleh siapa saja, bila orang yang menyampaikannya memunyai intregritas. Berbeda, dengan orang yang hanya memahami dan mengetahui Islam secara sepenggal-sepenggal ajaran Islam nampak kaku dan keras. Mengaktualisasikan pemikiran dan gagasan tentang Islam Islam Agus Salim saat ini, dapat menjadi spirit bagi umat Islam untuk belajar tentang Islam secara mendalam. Bukankah, dunia saat ini membutuhkan pemahaman Islam yang rasional dengan logika dan kepala dingin? Sebagaimana dikatakan Anis Baswedan dalam pengantarnya, buku ini menuturkan Islam kepada orang lain dengan bercerita tentang Islam dari gagasan utamanya dan sejarahnya, lalu secara sistematis dan runut mengajak kita mengambil hikmah serta berdialog dengannya tentang berbagai isu kontemporer. Buku yang berisi gagasan dan pemikiran Islam Agus Salim ini menarik untuk di baca. Khusunya, bagi umat Islam. Lewat buku ini pula, dapat membantu pemahaman yang benar dan jernih akan seluk beluk Islam. Merugi, bila Anda mengesampingkan begitu saja. Selamat membaca! *)Ahmad Faozan, Ketua Himasakti (Himpunan Mahasiswa Alumni Santri Tebuireng) Yogyakarta. |
Langganan:
Postingan (Atom)